Minggu, 18 Mei 2014

esai novel SAMAN karya Ayu Utami

SAMAN
Oleh Nina Susilawati
Saman. Saat mendengar kata ini pastinya sebagian orang langsung mengira bahwa novel ini menceritakan tentang tarian yang berasal dari Padang, Sumatera Barat yaitu Tari Saman. Padahal di dalam novel ini kata Saman yang dimaksud bukan menyangkut tentang Tarian Saman ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Padang maupun sejarahnya, tetapi Saman disini benar-benar berbanding terbalik sekali dengan apa yang kita fikirkan. Saman di dalam novel ini ialah nama orang, yaitu tokoh utama dalam novel Saman karya penulis perempuan yang bernama Ayu Utami. Novel ini sangat menarik sekali, karena dalam novel ini terlihat jelas sekali bahwa imajinasi Ayu Utami dalam pembuatan novel ini sangat luar biasa. Ayu Utami menggabungkan dua dunia dalam novel ini, yaitu dunia modern yang dekat dengan pergaulan bebas dan tidak percaya tahayul, dengan dunia mistis yang berhubungan dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu berkomunikasi dan menolong manusia. Dalam novel ini Ayu Utami juga mengangkat cerita dua agama, yaitu Islam dan Katolik.
Novel ini pun menceritakan seks terlalu terbuka, sehingga lebih menonjol cerita tentang seks dan perselingkuhannya. Cerita dalam novel ini membuat imajinasi pembaca semakin membayangkan apa yang ada dalam cerita. Alur cerita dalam novel ini mundur, tetapi untuk memahami cerita ini sangat sulit. Novel ini tidak patut apabila dibaca oleh anak-anak yang masih dibawah umur, karena cerita dalam novel ini dapat menimbulkan cara berpikir mereka menjadi lebih dewasa sebelum waktunya. Menariknya dalam novel ini ialah menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris, karena setting dalam cerita ini berada di New York dan di Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai novelis, Ayu Utami adalah seorang wartawan. Ia menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novel Saman mendapat penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing: Belanda (de Geus), Perancis (Flammarion), Jepang (Mokusheisha), Jepang (Horlemann), Inggris (Equinox), dan Cheks (Dybbuk). Kini juga dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Korea. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Dan pada akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Dilihat dari pendekatan emotif yaitu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi atau perasaan pembaca, saya sangat tertarik sekali setelah membaca novel ini. Didalam novel ini saya sangat geram terhadap gambaran dari sifat tokoh-tokohnya yang digambarkan oleh sang penulis. Dimulai dari tokoh utama yaitu Saman, saya sangat senang dan terharu sekali atas sikap dan jiwa sosial yang terdapat dalam diri Saman yang mempunyai nama asli Athanasius Wisanggeni yang beragama Katolik. Ia adalah sosok yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Awal mulanya saat ia menolong gadis bernama Upi yaitu gadis yang mengalami keterbelakangan mental yang bisa dibilang mengalami gangguan pada kejiwaannya. Saat Upi tercebur ke sumur tak satupun masyarakat mau menolongnya, tetapi Wisanggeni berani untuk turun ke sumur dan meolong Upi. Lalu Upi diantar pulang oleh Wisanggeni, dan saat Wis tau bahwa Upi ternyata tinggal ditempat yang tidak layak karena diasingkan oleh orang tuanya, ia tinggal di tempat pemasungan yang tidak lebih baik dari kandang kambing dan ia pun dirantai karena mengingat kelakuan Upi sangat membahayakan masyarakat sekitar dan Upi pun adalah korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saat mengetahui itu Wis terbuka hatinya dan ia berniat untuk membuatkan tempat pasung yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih besar untuk Upi. Mulia sekali hatinya. Lalu Wis pun merasa prihatin terhadap perkebunan di Perabumulih dan membantu masyarakat di desa itu dengan membuat pembangkit listrik dan menanam pohon karet yang perlahan-lahan membuat perekonomian masyarakat di desa tersebut mulai membaik. Tetapi tiba-tiba datang seseorang yang memaksa agar mengganti lahan karet yang telah mereka impikan dengan pohon sawit. Dan saat itulah Saman bertindak tegas membela yang lemah. Saman mengajak masyarakat agar tidak menyerah dalam kebenaran akan hak-hak mereka.
Wisanggeni memang memiliki pribadi yang baik yang suka menolong dan membantu orang lain, dan rela berkorban demi kebersamaan, ia pun mantan seorang pastur yang rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang pastur demi membantu masyarakat. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Wis ialah saat ia mempunyai hubungan spesial dengan Yasmin. Hubungan terlarang yang tak seharusnya ada, karena Yasmin telah mempunyai suami. Dan Wis adalah seorang pastur, walaupun ia telah mengundurkan diri menjadi pastur, tetapi tetap saja itu adalah perbuatan yang tidak baik yang membuat saya selaku pembaca benar-benar geram atas perselingkuhan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Lalu dari tokoh Laila, saya sangat salut sekali kepada Laila karena ia adalah perempuan yang paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dulu Laila sempat jatuh cinta kepada Wisanggeni yang menyebabkan adanya cinta segitiga antara Wis, Laila dan Yasmin. Tetapi seiring berjalannya waktu Laila sudah tidak mencintai Wis lagi, dan sekarang Laila menyukai Sihar yaitu seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri. Laila tak peduli dengan semua itu. Meski Sihar sudah beristri ia tak memperdulikannya. Rasa cintanya kepada Sihar memang sangat dalam sehingga membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Laila beranggapan jika ia akan ke NewYork bersama Sihar ia tak perlu bingung memikirkan adat istiadat seperti halnya di Indonesia, karena di New York Laila bebas melakukan semua hal yang ia mau. Dalam tanda kutip ia bebas melakukan hubungan badan diluar pernikahan. Laila dan Sihar berjanji akan berkencan di New York. Namun, Sihar tidak menepati janji, karena Sihar takut ketahuan istrinya. Dan kisah cinta mereka berdua tidak berlanjut semakin dalam. Dan Laila menghilang sejak pertemuan yang gagal antara ia dan Sihar di New York karena istri Sihar yang ikut menemani. Walaupun awalnya saya sangat tidak setuju dengan keputusan Laila yang mencintai suami orang, tetapi pada akhirnya saya ikut sedih merasakan apa yang Laila alami. Dan saya pun saat bangga terhadap keputusan Laila yang menghindar dari Sihar, karena tidak ingin merusak rumah tangga orang lain walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur karena harus merelakan orang yang sangat ia cintai bahagia bersama orang lain, dan ia harus menjalani kehidupannya seorang diri.
Selanjutnya yaitu tokoh Yasmin, ia adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai pengacara yang selalu membela pihak yang dirugikan tanpa berharap imbalan dan ia sudah menikah. Saya menyukai tokoh Yasmin karena ia memiliki jiwa sosial yang baik, terlihat saat ia menolong Wis untuk pergi dari Indonesia ke New York. Yasmin membantu penyamaran Wisanggeni dengan sangat rapih sehingga tidak ada orang yang mengenali Wisanggeni yang merubah namanya menjadi Saman. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Yasmin ialah saat ia berselingkuh dengan Wis dan melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Wis ke New York.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi yang sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, dan mereka melakukan berbagai macam cara dengan merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu disiksa. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu. Benar-benar kejam para pembeli itu, mereka tega melakukan hal-hal seperti itu demi kepentingan mereka sendiri. Saya sebagai pembaca ikut sedih dan marah atas perbuatan para pembeli itu yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali.

Jika dilihat dari sisi sosial masyarakatnya, pada zaman tersebut keadaan lingkungan serta masyarakatnya sangat kental sekali. Karena dalam novel ini menceritakan tentang keadaan suatu masyarakat dan lingkungan yang memiliki konflik yang cukup menarik yaitu saat perkebunan karet yang akan dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit yang mendapat penolakan dari warga-warga desa tersebut. Warga bersikukuh mempertahankan perkebunan yang telah mereka rintis sejak lama, tetapi karena keegoisan para pembeli demi kepentingan pribadi mereka, mereka tega melakukan apa saja. Mereka merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Sungguh kejam sekali keadaan pada saat itu. Lalu penulis pun ingin memberitahu bahwa pada jaman itu memang telah ada pergaulan-pergaulan yang menyimpang seperti perselingkuhan yang terjadi yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya dan seks yang bebas yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel Saman ini. Dan apabila dilihat dari sisi psikologisnya terlihat dari tokoh Saman yang awalnya berusaha sekuat tenaga membantu warga mempertahankan perkebunan karet, tetapi ia malah ditangkap dan dipenjara serta di tuduh yang bukan-bukan. Saat dipenjara ia merasa lemah dan kecewa sampai-sampai ia tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, karena selama dipenjara ia selalu disiksa dan ia pun merasa bersalah atas kematian Upi karena kejadian tersebut.

Amanat dari novel ini ialah janganlah kita membiarkan nafsu menjadi raja yang menguasai diri kita dalam pergaulan. Seharusnya sebagai wanita yang sudah mempunyai suami tidak selayaknya melakukan hubungan yang terlarang dengan orang selain suaminya sendiri, dan sebaliknya pula suami tidak boleh melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Jagalah keperawananmu sampai menjadi halal, jangan menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum resmi menjadi suami kita. Berjiwa sosial sangat perlu dan penting untuk saling membantu sesama manusia yang membutuhkan. Dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dengan menyiksa dan membunuh orang lain demi kepentingan pribadi. Janganlah merebut sesuatu yang bukan menjadi hak kita.

Minggu, 11 Mei 2014


Peristiwa Banten Selatan
Oleh Nina Susilawati

Ketika mendengar kata Selatan, sebagian orang berfikir ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul, karena mendengar kata Selatan yang identik dengan Pantai Selatan. Padahal dalam tulisan ini saya tidak membicarakan Nyi Roro Kidul si Ratu Pantai Selatan, karena disini saya akan membahas tentang peristiwa yang pernah terjadi di daerah Banten Selatan. Banten adalah sebuah pulau yang masih berada di sekitaran Jawa Barat. Daerah yang kecil tetapi memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam yang berlimpah serta panorama keindahan yang sangat menakjubkan. Daerah Banten Selatan terkenal dengan Pantai Sawarna-nya yang berada di desa Bayah. Pemandangan pantainya sangat indah sekali, terdapat banyak batu-batu karang yang menjulang seperti tebing yang bisa dijadikan objek fotografi, maka tak heran Pantai Sawarna dijadikan objek wisata untuk para wisatawan yang ingin berkujung melihat keindahan pantai tersebut. Ibukota Banten ialah Serang. Banten memang tidak terlalu dikenal, tapi bagi sebagian orang yang mengetahui Banten, mereka beranggapan bahwa orang-orang Banten identik dengan orang-orang yang berilmu hitam dan beragama kuat. Padahal orang Banten tidak seperti itu, mungkin sebagian masyarakat menafsirkan seperti itu karena Banten terkenal dengan kota santri, yang mana banyak sekali kita bisa temui pesantren-pesantren di daerah Banten yang lebih banyak bertempat di daerah Pandeglang. Orang-orang Banten pun dikenal sangat kuat dan hebat, karena orang Banten bisa melakukan atraksi debus, yaitu atraksi-atraksi yang mengerikan seperti memotong tangan atau leher dengan menggunakan benda tajam seperti golok, menginjak pecahan beling tanpa alas kaki, serta meniup api dengan menggunakan minyak tanah yang berada di mulut, yang menurut sebagian orang itu adalah hal yang ekstrim dan sangat mengerikan sekali yang membuat kita sebagai penonton merinding dan ketakutan apabila menyaksikannya.
Disini saya akan sekilas mengulas tentang cerita dari novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan tentang tokoh yang bernama Juragan Musa yang datang menemui Ranta dan menawari pekerjaan untuk mengambil bibit karet dan menjanjikan kepada Ranta akan memberinya upah, kemudian Juragan Musa merogoh kantongnya dan memberikan uang seringgit kepada Ranta. Ranta ingin menolak tapi Juragan Musa memaksa bahkan mengancamnya. Mau tak mau Ranta menjalankan perintah Juragan Musa. Sebelum pergi  Juragan Musa berpesan pada Ranta “Kalau ada apa-apa, jangan sebut namaku, mengerti?. Sebenarnya Ranta disuruh untuk mencuri, tapi karena Juragan Musa licik, hal itu tidak diketahui oleh Ranta. Ternyata  Juragan Musa menipu dirinya. Juragan Musa menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi ketika Ranta menanyakan upah, Ranta malah dipukul menggunakan rotan, di rampas pikulan dan goloknya. Di hari selanjutnya, Juragan Musa datang kembali pada Ranta, dengan nada marah Juragan Musa terus memanggil Ranta. Tapi pada saat itu, tekanan psikologis dalam diri Ranta membuat ia berontak dan melawan Juragan Musa. Juragan Musa kabur ketakutan dan ia menjatuhkan serta meninggalkan aktentas atau tas dan tongkatnya jatuh ke tanah. Dalam tas tersebut, rupanya terdapat arsip penting laporan kegiatan Juragan Musa dengan DI.
Di rumahnya, Juragan Musa marah terhadap Nyonya istrinya dan bertengkar. Saat pertengkaran terjadi, anak buah Juragan Musa yang akan dikirim untuk menghabisi Ranta datang dan melaporkan bahwa melihat Ranta membawa sebuah tas. Dalam percakapan tersebut, istri Juragan Musa mendengar bahwa Juragan Musa mengaku sebagai pimpinan wilayah DI. Istrinya terkejut dan marah sebab orang tuanya adalah korban DI. Pertengkaran itu membuat Juragan Musa membeberkan bahwa ia memang pemimpin wilayah dalam organisasi DI. Di luar, sebenarnya pasukan militer beserta Komandan sudah mengepung rumah Juragan Musa setelah mendapat laporan dari Ranta. Karena mereka mendengar langsung pengakuan Juragan Musa bahwa dia adalah benar-benar anggota DI, akhirnya gerombolan DI ditangkap. Ranta diangkat sebagai Lurah sementara untuk menggantikan Lurah Juragan Musa yang ditangkap. Sejak saat itu Ranta dan Istrinya Ireng serta Nyonya istri Juragan Musa tinggal di rumah Juragan Musa. Selanjutnya Komandan datang menemui Ranta, dalam hal itu mereka membicarakan tentang mempertahankan keamanan daerah, dan Ranta memberi saran pada Komandan untuk mempersatukan rakyat, dan melawan musuh bersama-sama dengan bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan dan ranjau-ranjau yang akan dilalui oleh gerombolan.
Berbicara mengenai pendekatan dalam apresiasi sastra, saya akan mencoba membahas novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dilihat dari pendekatan historisnya yaitu tentang biografi pengarang, sosok Pramoedya Ananta Toer ialah sosok sastrawan yang tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di penjara dan kebanyakan dari novelnya tersebut dilarang pada saat masa Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di masa Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru pada Agustus 1969-12 November 1979, Magelang pada November-Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara, sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Latar belakang novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ialah merupakan hasil `reportase` singkat kunjungan Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tetapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang semakin membuat mereka miskin. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pramoedya Ananta Toer temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan sukaduka dalam perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami dan mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang emas Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Penindasan yang dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya dilihat dari pendekatan sosiopsikologis novel ini sangat erat sekali hubungannya. Karena didalam novel ini menceritakan tentang suatu keadaan yang terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat di suatu daerah yaitu di daerah Banten Selatan yang di dalamnya terdapat penindasan Darul Islam yg brutal, tak berbelas kasihan, yaitu merampok, menjarah, menindas yang lemah, dan selalu membuat rusuh terhadap rakyat-rakyat kecil dan miskin yang diperlakukan semena-mena, yang disuruh untuk mencuri tetapi malah diberi upah dengan cara dipukul menggunakan rotan yang dialami oleh tokoh Ranta. Tokoh Juragan Musa digambarkan sebagai orang yang angkuh, tamak dan licik. Juragan Musa senantiasa berlaku menindas yang lemah, salah satunya yaitu memaksa Ranta menjadi maling. Tak hanya Ranta, beberapa warga desa juga menjadi korban si Juragan Musa. Tapi pada akhirnya Ranta diangkat menjadi Lurah di desanya karena berhasil membongkar identitas Juragan Musa sebagai petinggi DI kepada militer setempat. Akhirnya, Juragan Musa ditangkap. Dalam novel ini menanamkan nilai gotongroyong. Betapa hebatnya nilai dari sebuah persatuan, kerjasama dan tolong menolong. Bahwa kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, dan kesewenang-wenangan bisa dilawan oleh senjata yang ampuh yaitu persatuan. Pramoedya Ananta Toer mencoba menumbuhkan sebuah  rasa keteguhan, keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang diistilahkan sebagai gotong-royong.

Dilihat dari sisi psikologisnya, sangat terlihat jelas sekali dari tokoh Nyonya, yaitu istri Juragan Musa. Ia merasa sangat tersiksa dan sedih sekali atas perlakuan suaminya yang memperlakuan ia dengan sangat kasar, padahal suaminya berjanji akan bersikap manis terhadap dirinya. Selanjutnya saat mengetahui suaminya adalah seorang pembesar DI ia mencoba tetap kuat dan menerima kenyataan yang ada, dan tetap mencintai suaminya, menerima keadaan suaminya walaupun ia harus menanggung malu. Ia merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri, ia sangat kecewa karena orang tuanya meninggal karena DI dan ia sangat kaget sekali saat tau bahwa suaminya sendiri adalah pembesar DI. Lalu dari tokoh Ranta yang sabar dan tetap menahan amarahnya sampai emosinya memuncak karena ia merasa telah diinjak-injak harga dirinya serta ditipu dan disuruh menjadi maling tetapi tidak diberi upah, malah ia dipukul menggunakan rotan lalu ia geram dan tidak tahan, akhirnya ia berhasil membongkar kedok Juragan Musa bahwa ia adalah seorang pembesar DI.

Melalui pendekatan didaktis yaitu pendekatan yang merujuk pada nilai-nilai moral, agama, serta etikanya novel ini juga dapat dianalisis yaitu dilihat dari nilai moralnya sosok Juragan Musa ialah sosok yang tidak bermoral dan tidak berkeprimanusiaan karena ia tega menyuruh tokoh Ranta untuk mencuri bibit karet dan sebagai upahnya ia malah memukul Ranta dengan menggunakan rotan. Tidak hanya tokoh Ranta, tetapi masyarakat yang lain pun pernah mengalami hal yang sama seperti tokoh Ranta. Istrinya pun diperlakukan sangat kasar oleh dirinya, padahal ia adalah seorang pemimpin tidak seharusnya pemimpin mempunyai sifat dan sikap tidak bermoral seperti itu. Selanjutnya dilihat dari nilai agama, Juragan Musa ialah seorang pembesar DI, yaitu menganut ajaran agama tetapi tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Karena dalam Islam tidak diajarkan untuk menipu, menyiksa, dan berbuat dzalim kepada orang lain.