SAMAN
Oleh Nina
Susilawati
Saman. Saat
mendengar kata ini pastinya sebagian orang langsung mengira bahwa novel ini
menceritakan tentang tarian yang berasal dari Padang, Sumatera Barat yaitu Tari
Saman. Padahal di dalam novel ini kata Saman yang dimaksud bukan menyangkut
tentang Tarian Saman ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Padang
maupun sejarahnya, tetapi Saman disini benar-benar berbanding terbalik sekali
dengan apa yang kita fikirkan. Saman di dalam novel ini ialah nama orang, yaitu
tokoh utama dalam novel Saman karya penulis perempuan yang bernama Ayu Utami.
Novel ini sangat menarik sekali, karena dalam novel ini terlihat jelas sekali
bahwa imajinasi Ayu Utami dalam pembuatan novel ini sangat luar biasa. Ayu
Utami menggabungkan dua dunia dalam novel ini, yaitu dunia modern yang dekat
dengan pergaulan bebas dan tidak percaya tahayul, dengan dunia mistis yang
berhubungan dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu berkomunikasi
dan menolong manusia. Dalam novel ini Ayu Utami juga mengangkat cerita dua
agama, yaitu Islam dan Katolik.
Novel ini pun menceritakan seks terlalu terbuka, sehingga
lebih menonjol cerita tentang seks dan perselingkuhannya. Cerita dalam novel
ini membuat imajinasi pembaca semakin membayangkan apa yang ada dalam cerita. Alur
cerita dalam novel ini mundur, tetapi untuk memahami cerita ini sangat sulit.
Novel ini tidak patut apabila dibaca oleh anak-anak yang masih dibawah umur, karena
cerita dalam novel ini dapat menimbulkan cara berpikir mereka menjadi lebih
dewasa sebelum waktunya. Menariknya dalam novel ini ialah menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris,
karena setting dalam cerita ini berada di New York dan di Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai novelis, Ayu Utami adalah seorang
wartawan. Ia menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan,
dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo,
Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi
Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal
kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novel Saman mendapat
penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan telah diterjemahkan
dalam enam bahasa asing: Belanda (de Geus), Perancis (Flammarion), Jepang
(Mokusheisha), Jepang (Horlemann), Inggris (Equinox), dan Cheks (Dybbuk). Kini
juga dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Korea. Dalam waktu tiga tahun
Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus
Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag,
yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan
pembangunan. Dan pada akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Dilihat dari
pendekatan emotif yaitu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi
atau perasaan pembaca, saya sangat tertarik sekali setelah membaca novel ini.
Didalam novel ini saya sangat geram terhadap gambaran dari sifat tokoh-tokohnya
yang digambarkan oleh sang penulis. Dimulai dari tokoh utama yaitu Saman, saya
sangat senang dan terharu sekali atas sikap dan jiwa sosial yang terdapat dalam
diri Saman yang mempunyai nama asli Athanasius
Wisanggeni yang beragama Katolik. Ia adalah sosok
yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan
kepentingan bersama. Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang
tertindas.
Awal mulanya saat ia menolong gadis bernama Upi yaitu gadis yang mengalami
keterbelakangan mental yang bisa dibilang mengalami gangguan pada kejiwaannya.
Saat Upi tercebur ke sumur tak satupun masyarakat mau menolongnya, tetapi
Wisanggeni berani untuk turun ke sumur dan meolong Upi. Lalu Upi diantar pulang
oleh Wisanggeni, dan saat Wis tau bahwa Upi ternyata tinggal ditempat yang
tidak layak karena diasingkan oleh orang tuanya, ia tinggal di tempat
pemasungan yang tidak lebih baik dari kandang kambing dan ia pun dirantai
karena mengingat kelakuan Upi sangat membahayakan masyarakat sekitar dan Upi pun
adalah korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saat mengetahui itu
Wis terbuka hatinya dan ia berniat untuk membuatkan tempat pasung yang lebih
baik, lebih nyaman dan lebih besar untuk Upi. Mulia sekali hatinya. Lalu Wis
pun merasa prihatin terhadap perkebunan di Perabumulih dan membantu masyarakat
di desa itu dengan membuat pembangkit listrik dan
menanam pohon karet yang perlahan-lahan membuat perekonomian masyarakat di desa
tersebut mulai membaik. Tetapi tiba-tiba datang seseorang yang memaksa agar
mengganti lahan karet yang telah mereka impikan dengan pohon sawit. Dan saat
itulah Saman bertindak tegas membela yang lemah. Saman mengajak masyarakat agar
tidak menyerah dalam kebenaran akan hak-hak mereka.
Wisanggeni memang memiliki pribadi yang baik yang suka
menolong dan membantu orang lain, dan rela berkorban demi kebersamaan, ia pun
mantan seorang pastur yang rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang pastur
demi membantu masyarakat. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Wis ialah saat
ia mempunyai hubungan spesial dengan Yasmin. Hubungan terlarang yang tak
seharusnya ada, karena Yasmin telah mempunyai suami. Dan Wis adalah seorang
pastur, walaupun ia telah mengundurkan diri menjadi pastur, tetapi tetap saja
itu adalah perbuatan yang tidak baik yang membuat saya selaku pembaca
benar-benar geram atas perselingkuhan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.
Lalu dari tokoh Laila, saya sangat salut sekali kepada Laila
karena ia adalah perempuan yang paling kuat mempertahankan
keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dulu Laila sempat jatuh cinta
kepada Wisanggeni yang menyebabkan adanya cinta segitiga antara Wis, Laila dan
Yasmin. Tetapi seiring berjalannya waktu Laila sudah tidak mencintai Wis lagi,
dan sekarang Laila menyukai Sihar yaitu seorang laki-laki yang sudah mempunyai
istri. Laila tak peduli dengan semua itu. Meski Sihar sudah beristri ia tak
memperdulikannya. Rasa cintanya kepada Sihar memang sangat dalam sehingga
membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Laila beranggapan jika ia
akan ke NewYork bersama Sihar ia tak perlu bingung memikirkan adat istiadat
seperti halnya di Indonesia, karena di New York Laila bebas melakukan semua hal
yang ia mau. Dalam tanda kutip ia bebas melakukan hubungan badan diluar
pernikahan. Laila dan Sihar berjanji akan
berkencan di New York. Namun, Sihar tidak menepati janji, karena Sihar
takut ketahuan istrinya. Dan kisah cinta mereka berdua tidak berlanjut semakin
dalam. Dan Laila menghilang sejak pertemuan yang gagal antara ia dan Sihar di
New York karena istri Sihar yang ikut menemani. Walaupun awalnya saya sangat
tidak setuju dengan keputusan Laila yang mencintai suami orang, tetapi pada
akhirnya saya ikut sedih merasakan apa yang Laila alami. Dan saya pun saat bangga
terhadap keputusan Laila yang menghindar dari Sihar, karena tidak ingin merusak
rumah tangga orang lain walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur karena harus
merelakan orang yang sangat ia cintai bahagia bersama orang lain, dan ia harus menjalani
kehidupannya seorang diri.
Selanjutnya yaitu
tokoh Yasmin, ia adalah seorang perempuan yang berprofesi
sebagai pengacara yang selalu membela pihak yang dirugikan tanpa berharap
imbalan dan ia sudah menikah. Saya menyukai tokoh Yasmin karena ia memiliki
jiwa sosial yang baik, terlihat saat ia menolong Wis untuk pergi dari Indonesia
ke New York. Yasmin membantu penyamaran Wisanggeni dengan sangat rapih sehingga
tidak ada orang yang mengenali Wisanggeni yang merubah namanya menjadi Saman.
Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Yasmin ialah saat ia berselingkuh dengan
Wis dan melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Wis ke New York.
Suatu
ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan
ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin
membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi yang sangat
kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, dan
mereka melakukan berbagai macam cara dengan merobohkan pohon-pohon karet,
menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu
persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para
penduduk. Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap
Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu
disiksa. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak
ia lakukan. Ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia
adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat
Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu
hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun
setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia
selamat dari lahapan api itu. Benar-benar kejam para pembeli itu, mereka tega
melakukan hal-hal seperti itu demi kepentingan mereka sendiri. Saya sebagai
pembaca ikut sedih dan marah atas perbuatan para pembeli itu yang tidak
mempunyai hati nurani sama sekali.
Jika dilihat dari sisi sosial
masyarakatnya, pada zaman tersebut keadaan lingkungan serta masyarakatnya
sangat kental sekali. Karena dalam novel ini menceritakan tentang keadaan suatu
masyarakat dan lingkungan yang memiliki konflik yang cukup menarik yaitu saat
perkebunan karet yang akan dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan
kelapa sawit yang mendapat penolakan dari warga-warga desa tersebut. Warga
bersikukuh mempertahankan perkebunan yang telah mereka rintis sejak lama, tetapi
karena keegoisan para pembeli demi kepentingan pribadi mereka, mereka tega
melakukan apa saja. Mereka merobohkan
pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu,
ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan
membakar rumah para penduduk. Sungguh kejam sekali keadaan pada saat itu. Lalu
penulis pun ingin memberitahu bahwa pada jaman itu memang telah ada
pergaulan-pergaulan yang menyimpang seperti perselingkuhan yang terjadi yang
digambarkan melalui tokoh-tokohnya dan seks yang bebas yang dilakukan oleh
tokoh-tokoh dalam novel Saman ini. Dan apabila dilihat dari sisi psikologisnya
terlihat dari tokoh Saman yang awalnya berusaha sekuat tenaga membantu warga
mempertahankan perkebunan karet, tetapi ia malah ditangkap dan dipenjara serta
di tuduh yang bukan-bukan. Saat dipenjara ia merasa lemah dan kecewa
sampai-sampai ia tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, karena selama dipenjara
ia selalu disiksa dan ia pun merasa bersalah atas kematian Upi karena kejadian
tersebut.
Amanat dari novel ini ialah janganlah kita membiarkan nafsu menjadi raja yang menguasai
diri kita dalam pergaulan. Seharusnya sebagai wanita yang sudah mempunyai suami
tidak selayaknya melakukan hubungan yang terlarang dengan orang selain suaminya
sendiri, dan sebaliknya pula suami tidak boleh melakukan hubungan terlarang
dengan wanita lain. Jagalah keperawananmu sampai menjadi halal, jangan
menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum resmi menjadi suami kita. Berjiwa
sosial sangat perlu dan penting untuk saling membantu sesama manusia yang
membutuhkan. Dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dengan
menyiksa dan membunuh orang lain demi kepentingan pribadi. Janganlah merebut
sesuatu yang bukan menjadi hak kita.