Minggu, 11 Mei 2014


Peristiwa Banten Selatan
Oleh Nina Susilawati

Ketika mendengar kata Selatan, sebagian orang berfikir ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul, karena mendengar kata Selatan yang identik dengan Pantai Selatan. Padahal dalam tulisan ini saya tidak membicarakan Nyi Roro Kidul si Ratu Pantai Selatan, karena disini saya akan membahas tentang peristiwa yang pernah terjadi di daerah Banten Selatan. Banten adalah sebuah pulau yang masih berada di sekitaran Jawa Barat. Daerah yang kecil tetapi memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam yang berlimpah serta panorama keindahan yang sangat menakjubkan. Daerah Banten Selatan terkenal dengan Pantai Sawarna-nya yang berada di desa Bayah. Pemandangan pantainya sangat indah sekali, terdapat banyak batu-batu karang yang menjulang seperti tebing yang bisa dijadikan objek fotografi, maka tak heran Pantai Sawarna dijadikan objek wisata untuk para wisatawan yang ingin berkujung melihat keindahan pantai tersebut. Ibukota Banten ialah Serang. Banten memang tidak terlalu dikenal, tapi bagi sebagian orang yang mengetahui Banten, mereka beranggapan bahwa orang-orang Banten identik dengan orang-orang yang berilmu hitam dan beragama kuat. Padahal orang Banten tidak seperti itu, mungkin sebagian masyarakat menafsirkan seperti itu karena Banten terkenal dengan kota santri, yang mana banyak sekali kita bisa temui pesantren-pesantren di daerah Banten yang lebih banyak bertempat di daerah Pandeglang. Orang-orang Banten pun dikenal sangat kuat dan hebat, karena orang Banten bisa melakukan atraksi debus, yaitu atraksi-atraksi yang mengerikan seperti memotong tangan atau leher dengan menggunakan benda tajam seperti golok, menginjak pecahan beling tanpa alas kaki, serta meniup api dengan menggunakan minyak tanah yang berada di mulut, yang menurut sebagian orang itu adalah hal yang ekstrim dan sangat mengerikan sekali yang membuat kita sebagai penonton merinding dan ketakutan apabila menyaksikannya.
Disini saya akan sekilas mengulas tentang cerita dari novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan tentang tokoh yang bernama Juragan Musa yang datang menemui Ranta dan menawari pekerjaan untuk mengambil bibit karet dan menjanjikan kepada Ranta akan memberinya upah, kemudian Juragan Musa merogoh kantongnya dan memberikan uang seringgit kepada Ranta. Ranta ingin menolak tapi Juragan Musa memaksa bahkan mengancamnya. Mau tak mau Ranta menjalankan perintah Juragan Musa. Sebelum pergi  Juragan Musa berpesan pada Ranta “Kalau ada apa-apa, jangan sebut namaku, mengerti?. Sebenarnya Ranta disuruh untuk mencuri, tapi karena Juragan Musa licik, hal itu tidak diketahui oleh Ranta. Ternyata  Juragan Musa menipu dirinya. Juragan Musa menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi ketika Ranta menanyakan upah, Ranta malah dipukul menggunakan rotan, di rampas pikulan dan goloknya. Di hari selanjutnya, Juragan Musa datang kembali pada Ranta, dengan nada marah Juragan Musa terus memanggil Ranta. Tapi pada saat itu, tekanan psikologis dalam diri Ranta membuat ia berontak dan melawan Juragan Musa. Juragan Musa kabur ketakutan dan ia menjatuhkan serta meninggalkan aktentas atau tas dan tongkatnya jatuh ke tanah. Dalam tas tersebut, rupanya terdapat arsip penting laporan kegiatan Juragan Musa dengan DI.
Di rumahnya, Juragan Musa marah terhadap Nyonya istrinya dan bertengkar. Saat pertengkaran terjadi, anak buah Juragan Musa yang akan dikirim untuk menghabisi Ranta datang dan melaporkan bahwa melihat Ranta membawa sebuah tas. Dalam percakapan tersebut, istri Juragan Musa mendengar bahwa Juragan Musa mengaku sebagai pimpinan wilayah DI. Istrinya terkejut dan marah sebab orang tuanya adalah korban DI. Pertengkaran itu membuat Juragan Musa membeberkan bahwa ia memang pemimpin wilayah dalam organisasi DI. Di luar, sebenarnya pasukan militer beserta Komandan sudah mengepung rumah Juragan Musa setelah mendapat laporan dari Ranta. Karena mereka mendengar langsung pengakuan Juragan Musa bahwa dia adalah benar-benar anggota DI, akhirnya gerombolan DI ditangkap. Ranta diangkat sebagai Lurah sementara untuk menggantikan Lurah Juragan Musa yang ditangkap. Sejak saat itu Ranta dan Istrinya Ireng serta Nyonya istri Juragan Musa tinggal di rumah Juragan Musa. Selanjutnya Komandan datang menemui Ranta, dalam hal itu mereka membicarakan tentang mempertahankan keamanan daerah, dan Ranta memberi saran pada Komandan untuk mempersatukan rakyat, dan melawan musuh bersama-sama dengan bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan dan ranjau-ranjau yang akan dilalui oleh gerombolan.
Berbicara mengenai pendekatan dalam apresiasi sastra, saya akan mencoba membahas novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dilihat dari pendekatan historisnya yaitu tentang biografi pengarang, sosok Pramoedya Ananta Toer ialah sosok sastrawan yang tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di penjara dan kebanyakan dari novelnya tersebut dilarang pada saat masa Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di masa Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru pada Agustus 1969-12 November 1979, Magelang pada November-Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara, sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Latar belakang novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ialah merupakan hasil `reportase` singkat kunjungan Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tetapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang semakin membuat mereka miskin. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pramoedya Ananta Toer temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan sukaduka dalam perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami dan mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang emas Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Penindasan yang dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya dilihat dari pendekatan sosiopsikologis novel ini sangat erat sekali hubungannya. Karena didalam novel ini menceritakan tentang suatu keadaan yang terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat di suatu daerah yaitu di daerah Banten Selatan yang di dalamnya terdapat penindasan Darul Islam yg brutal, tak berbelas kasihan, yaitu merampok, menjarah, menindas yang lemah, dan selalu membuat rusuh terhadap rakyat-rakyat kecil dan miskin yang diperlakukan semena-mena, yang disuruh untuk mencuri tetapi malah diberi upah dengan cara dipukul menggunakan rotan yang dialami oleh tokoh Ranta. Tokoh Juragan Musa digambarkan sebagai orang yang angkuh, tamak dan licik. Juragan Musa senantiasa berlaku menindas yang lemah, salah satunya yaitu memaksa Ranta menjadi maling. Tak hanya Ranta, beberapa warga desa juga menjadi korban si Juragan Musa. Tapi pada akhirnya Ranta diangkat menjadi Lurah di desanya karena berhasil membongkar identitas Juragan Musa sebagai petinggi DI kepada militer setempat. Akhirnya, Juragan Musa ditangkap. Dalam novel ini menanamkan nilai gotongroyong. Betapa hebatnya nilai dari sebuah persatuan, kerjasama dan tolong menolong. Bahwa kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, dan kesewenang-wenangan bisa dilawan oleh senjata yang ampuh yaitu persatuan. Pramoedya Ananta Toer mencoba menumbuhkan sebuah  rasa keteguhan, keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang diistilahkan sebagai gotong-royong.

Dilihat dari sisi psikologisnya, sangat terlihat jelas sekali dari tokoh Nyonya, yaitu istri Juragan Musa. Ia merasa sangat tersiksa dan sedih sekali atas perlakuan suaminya yang memperlakuan ia dengan sangat kasar, padahal suaminya berjanji akan bersikap manis terhadap dirinya. Selanjutnya saat mengetahui suaminya adalah seorang pembesar DI ia mencoba tetap kuat dan menerima kenyataan yang ada, dan tetap mencintai suaminya, menerima keadaan suaminya walaupun ia harus menanggung malu. Ia merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri, ia sangat kecewa karena orang tuanya meninggal karena DI dan ia sangat kaget sekali saat tau bahwa suaminya sendiri adalah pembesar DI. Lalu dari tokoh Ranta yang sabar dan tetap menahan amarahnya sampai emosinya memuncak karena ia merasa telah diinjak-injak harga dirinya serta ditipu dan disuruh menjadi maling tetapi tidak diberi upah, malah ia dipukul menggunakan rotan lalu ia geram dan tidak tahan, akhirnya ia berhasil membongkar kedok Juragan Musa bahwa ia adalah seorang pembesar DI.

Melalui pendekatan didaktis yaitu pendekatan yang merujuk pada nilai-nilai moral, agama, serta etikanya novel ini juga dapat dianalisis yaitu dilihat dari nilai moralnya sosok Juragan Musa ialah sosok yang tidak bermoral dan tidak berkeprimanusiaan karena ia tega menyuruh tokoh Ranta untuk mencuri bibit karet dan sebagai upahnya ia malah memukul Ranta dengan menggunakan rotan. Tidak hanya tokoh Ranta, tetapi masyarakat yang lain pun pernah mengalami hal yang sama seperti tokoh Ranta. Istrinya pun diperlakukan sangat kasar oleh dirinya, padahal ia adalah seorang pemimpin tidak seharusnya pemimpin mempunyai sifat dan sikap tidak bermoral seperti itu. Selanjutnya dilihat dari nilai agama, Juragan Musa ialah seorang pembesar DI, yaitu menganut ajaran agama tetapi tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Karena dalam Islam tidak diajarkan untuk menipu, menyiksa, dan berbuat dzalim kepada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar