Peristiwa Banten Selatan
Oleh Nina
Susilawati
Ketika mendengar
kata Selatan, sebagian orang berfikir ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul,
karena mendengar kata Selatan yang identik dengan Pantai Selatan. Padahal dalam
tulisan ini saya tidak membicarakan Nyi Roro Kidul si Ratu Pantai Selatan,
karena disini saya akan membahas tentang peristiwa yang pernah terjadi di
daerah Banten Selatan. Banten adalah sebuah pulau yang masih berada di
sekitaran Jawa Barat. Daerah yang kecil tetapi memiliki berbagai macam kekayaan
sumber daya alam yang berlimpah serta panorama keindahan yang sangat
menakjubkan. Daerah Banten Selatan terkenal dengan Pantai Sawarna-nya yang
berada di desa Bayah. Pemandangan pantainya sangat indah sekali, terdapat
banyak batu-batu karang yang menjulang seperti tebing yang bisa dijadikan objek
fotografi, maka tak heran Pantai Sawarna dijadikan objek wisata untuk para
wisatawan yang ingin berkujung melihat keindahan pantai tersebut. Ibukota
Banten ialah Serang. Banten memang tidak terlalu dikenal, tapi bagi sebagian
orang yang mengetahui Banten, mereka beranggapan bahwa orang-orang Banten
identik dengan orang-orang yang berilmu hitam dan beragama kuat. Padahal orang
Banten tidak seperti itu, mungkin sebagian masyarakat menafsirkan seperti itu
karena Banten terkenal dengan kota santri, yang mana banyak sekali kita bisa temui
pesantren-pesantren di daerah Banten yang lebih banyak bertempat di daerah
Pandeglang. Orang-orang Banten pun dikenal sangat kuat dan hebat, karena orang
Banten bisa melakukan atraksi debus, yaitu atraksi-atraksi yang mengerikan
seperti memotong tangan atau leher dengan menggunakan benda tajam seperti
golok, menginjak pecahan beling tanpa alas kaki, serta meniup api dengan
menggunakan minyak tanah yang berada di mulut, yang menurut sebagian orang itu
adalah hal yang ekstrim dan sangat mengerikan sekali yang membuat kita sebagai
penonton merinding dan ketakutan apabila menyaksikannya.
Disini saya akan
sekilas mengulas tentang cerita dari novel Sekali
Peristiwa di Banten Selatan karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel ini
menceritakan tentang tokoh yang bernama Juragan Musa
yang datang menemui Ranta dan menawari pekerjaan untuk mengambil bibit karet
dan menjanjikan kepada Ranta akan memberinya upah, kemudian Juragan Musa
merogoh kantongnya dan memberikan uang seringgit kepada Ranta. Ranta ingin
menolak tapi Juragan Musa memaksa bahkan mengancamnya. Mau tak mau Ranta
menjalankan perintah Juragan Musa. Sebelum pergi Juragan Musa berpesan pada Ranta “Kalau ada
apa-apa, jangan sebut namaku, mengerti?. Sebenarnya Ranta disuruh untuk
mencuri, tapi karena Juragan Musa licik, hal itu tidak diketahui oleh Ranta. Ternyata
Juragan Musa menipu dirinya. Juragan Musa
menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi
ketika Ranta menanyakan upah, Ranta malah dipukul menggunakan rotan, di rampas
pikulan dan goloknya. Di hari selanjutnya, Juragan Musa datang kembali pada
Ranta, dengan nada marah Juragan Musa terus memanggil Ranta. Tapi pada saat
itu, tekanan psikologis dalam diri Ranta membuat ia berontak dan melawan
Juragan Musa. Juragan Musa kabur ketakutan dan ia menjatuhkan serta meninggalkan
aktentas atau tas dan tongkatnya jatuh ke tanah. Dalam tas tersebut, rupanya
terdapat arsip penting laporan kegiatan Juragan Musa dengan DI.
Di
rumahnya, Juragan Musa marah terhadap Nyonya istrinya dan bertengkar. Saat
pertengkaran terjadi, anak buah Juragan Musa yang akan dikirim untuk menghabisi
Ranta datang dan melaporkan bahwa melihat Ranta membawa sebuah tas. Dalam
percakapan tersebut, istri Juragan Musa mendengar bahwa Juragan Musa mengaku
sebagai pimpinan wilayah DI. Istrinya terkejut dan marah sebab orang tuanya adalah
korban DI. Pertengkaran itu membuat Juragan Musa membeberkan bahwa ia memang
pemimpin wilayah dalam organisasi DI. Di luar, sebenarnya pasukan militer
beserta Komandan sudah mengepung rumah Juragan Musa setelah mendapat laporan
dari Ranta. Karena mereka mendengar langsung pengakuan Juragan Musa bahwa dia
adalah benar-benar anggota DI, akhirnya gerombolan DI ditangkap. Ranta diangkat
sebagai Lurah sementara untuk menggantikan Lurah Juragan Musa yang ditangkap. Sejak
saat itu Ranta dan Istrinya Ireng serta Nyonya istri Juragan Musa tinggal di
rumah Juragan Musa. Selanjutnya Komandan datang menemui Ranta, dalam hal itu
mereka membicarakan tentang mempertahankan keamanan daerah, dan Ranta memberi
saran pada Komandan untuk mempersatukan rakyat, dan melawan musuh bersama-sama
dengan bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan dan ranjau-ranjau yang akan
dilalui oleh gerombolan.
Berbicara
mengenai pendekatan dalam apresiasi sastra, saya akan mencoba membahas novel
yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten
Selatan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dilihat dari pendekatan
historisnya yaitu tentang biografi pengarang, sosok Pramoedya Ananta Toer ialah
sosok sastrawan yang tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang menghabiskan
hampir seluruh hidupnya di penjara dan kebanyakan dari novelnya tersebut
dilarang pada saat masa Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925
di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di
masa Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober
1965-Juli 1969), pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau
Buru pada Agustus 1969-12 November 1979, Magelang pada November-Desember 1979
tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer
mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam
G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara,
sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu
selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di
antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia,
Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penjara tak
membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas
pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh.
Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Dari tangannya yang dingin telah
lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa
asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta
Toer dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya The PEN
Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka
Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan
penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari
Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia
adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam
daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
Latar
belakang novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ialah merupakan hasil `reportase` singkat kunjungan
Pramoedya Ananta Toer beberapa
waktu lamanya pada akhir 1957 di
wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan.
Tanah yang subur tetapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh
daya kerjanya. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang
semakin membuat mereka miskin. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum
pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Beberapa
orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pramoedya
Ananta Toer temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah
ini, yang ikut dengan sukaduka dalam perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak
pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami dan
mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor
yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang emas
Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang
kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Penindasan yang
dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten
Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh
DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan
bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan
yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat pada
kehidupan yang lebih baik.
Selanjutnya
dilihat dari pendekatan sosiopsikologis novel ini sangat erat sekali
hubungannya. Karena didalam novel ini menceritakan tentang suatu keadaan yang
terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat di suatu daerah
yaitu di daerah Banten Selatan yang di dalamnya terdapat penindasan Darul Islam
yg brutal, tak berbelas kasihan, yaitu merampok, menjarah, menindas yang lemah,
dan selalu membuat rusuh terhadap rakyat-rakyat kecil dan miskin yang
diperlakukan semena-mena, yang disuruh untuk mencuri tetapi malah diberi upah
dengan cara dipukul menggunakan rotan yang dialami oleh tokoh Ranta. Tokoh Juragan
Musa digambarkan sebagai orang yang angkuh, tamak dan licik. Juragan Musa
senantiasa berlaku menindas yang lemah, salah satunya yaitu memaksa Ranta menjadi
maling. Tak hanya Ranta, beberapa warga desa juga menjadi korban si Juragan
Musa. Tapi pada akhirnya Ranta diangkat menjadi Lurah di desanya karena
berhasil membongkar identitas Juragan Musa sebagai petinggi DI kepada militer
setempat. Akhirnya, Juragan Musa ditangkap. Dalam novel ini menanamkan nilai gotongroyong. Betapa
hebatnya nilai dari sebuah persatuan, kerjasama dan tolong menolong.
Bahwa kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, dan kesewenang-wenangan bisa
dilawan oleh senjata yang ampuh yaitu persatuan. Pramoedya Ananta Toer mencoba
menumbuhkan sebuah rasa keteguhan,
keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan
hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang
diistilahkan sebagai gotong-royong.
Dilihat
dari sisi psikologisnya, sangat terlihat jelas sekali dari tokoh Nyonya, yaitu
istri Juragan Musa. Ia merasa sangat tersiksa dan sedih sekali atas perlakuan
suaminya yang memperlakuan ia dengan sangat kasar, padahal suaminya berjanji
akan bersikap manis terhadap dirinya. Selanjutnya saat mengetahui suaminya
adalah seorang pembesar DI ia mencoba tetap kuat dan menerima kenyataan yang
ada, dan tetap mencintai suaminya, menerima keadaan suaminya walaupun ia harus
menanggung malu. Ia merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri, ia sangat
kecewa karena orang tuanya meninggal karena DI dan ia sangat kaget sekali saat
tau bahwa suaminya sendiri adalah pembesar DI. Lalu dari tokoh Ranta yang sabar
dan tetap menahan amarahnya sampai emosinya memuncak karena ia merasa telah
diinjak-injak harga dirinya serta ditipu dan disuruh menjadi maling tetapi
tidak diberi upah, malah ia dipukul menggunakan rotan lalu ia geram dan tidak
tahan, akhirnya ia berhasil membongkar kedok Juragan Musa bahwa ia adalah
seorang pembesar DI.
Melalui
pendekatan didaktis yaitu pendekatan yang merujuk pada nilai-nilai moral,
agama, serta etikanya novel ini juga dapat dianalisis yaitu dilihat dari nilai
moralnya sosok Juragan Musa ialah sosok yang tidak bermoral dan tidak
berkeprimanusiaan karena ia tega menyuruh tokoh Ranta untuk mencuri bibit karet
dan sebagai upahnya ia malah memukul Ranta dengan menggunakan rotan. Tidak
hanya tokoh Ranta, tetapi masyarakat yang lain pun pernah mengalami hal yang
sama seperti tokoh Ranta. Istrinya pun diperlakukan sangat kasar oleh dirinya,
padahal ia adalah seorang pemimpin tidak seharusnya pemimpin mempunyai sifat
dan sikap tidak bermoral seperti itu. Selanjutnya dilihat dari nilai agama,
Juragan Musa ialah seorang pembesar DI, yaitu menganut ajaran agama tetapi
tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Karena dalam Islam tidak diajarkan
untuk menipu, menyiksa, dan berbuat dzalim kepada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar