Minggu, 27 April 2014



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh Nina Susilawati

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah novel sastra yang di terbitkan tahun 1939 yang ditulis oleh seorang sastrawan sekaligus budayawan Indonesia yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka (Buya Hamka). Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck termasuk ke dalam novel sastra (novel serius) karena mengandung nilai estetika atau nilai keindahan, dan juga masih menggunakan bahasa yang baku serta kata-kata kiasan dengan menggunakan bahasa Melayu. Novel ini menggunakan bahasa sastra yang indah sekali yang tidak terlalu sulit untuk dipahami oleh pembacanya, novel ini lebih merujuk pada adat istiadat dan membahas tentang suku Minangkabau dan suku Bugis. Novel ini menceritakan tentang kisah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, kisah cinta yang murni, keterpurukan, kebangkitan, kesuksesan, cinta sejati, cinta yang tulus dan suci, serta adat istiadat yang sangat kuat dan kental sekali. Di dalam novel ini diceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang dipisahkan karena tradisi adat istiadat yang sangat kuat yaitu Budaya Minangkabau (Padang) dan Budaya Bugis (Makassar). Mengisahkan persoalan adat pada tahun 1930-an yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih sehingga berakhir dengan kematian. Zainuddin adalah seorang anak yatim piatu, Ayahnya bersuku Minangkabau asli yang diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seorang kerabat yang disebabkan karena masalah warisan. Sedangkan Ibu Zainuddin bersuku Bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum Ayah Zainuddin.
Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya sekaligus pengasuhnya yaitu Mak Base. Saat tumbuh remaja Zainuddin memutuskan untuk berlayar menuju kampung halaman Ayahnya di Batipuh. Zainuddin berharap  hijrahnya ia ke Batipuh dapat diterima oleh keluarga Ayahnya, tetapi sesampai disana harapannya itu sia-sia karena ia tidak diakui oleh keluarganya yang menganggap bukan keturunannya karena ia merupakan anak campuran Minang dan Bugis. Disana, ia bertemu dengan Hayati, seorang perempuan Minang yang cantik keturunan bangsawan. Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang diterimanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu. Zainuddin sering menceritakan kesedihan hatinya pada Hayati lewat surat hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kabar kedekatan mereka tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan masyarakat. Karena keluarga Hayati merupakan keluarga terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluarganya, adat istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah orang Minangkabau, Ibunya berasal dari Makassar. Kemudian Mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh. Zainuddin pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari Batipuh) dengan berat hati sesuai permintaan mamak Hayati. Namun sebelum berpisah, Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang untuk melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah temannya bernama Khadijah. Suatu peluang untuk melepas rasa rindu dan bertemu pun terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Dikemudian hari, Zainuddin mendapat surat dari Makassar bahwa Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta kepada Zainuddin. Zainuddin berniat melamar Hayati, ia mengirim surat lamaran kepada keluarga Hayati di Batipuh tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi lamaran Zainuddin ditolak oleh keluarga Hayati. Ternyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya terpandang yang juga keturunan Minang yang lebih disukai keluarga Hayati dibandingkan dengan Zainuddin. Meskipun pertunangan tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, namun sebenarnya cinta Hayati hanya untuk Zainuddin. Setelah penolakan dari Hayati dan setelah pernikahan itu dilangsungkan, Zainuddin pun jatuh sakit selama dua bulan.
Atas bantuan dan nasehat dari Muluk yaitu sahabat Zainuddin, akhirnya Zainuddin berangsur-angsur membaik keadaannya. Zainuddin memutuskan untuk berjuang, pergi dari tanah Minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainuddin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya yang dikenal sebagai hartawan yang dermawan. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik sebagai orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima oleh masyarakat seluruh Nusantara serta hidupnya serba berkecukupan. Tetapi sebuah peristiwa tak diduga kembali menghampiri Zainuddin. Di tengah gelimang harta dan kemasyhurannya, dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati yang datang bersama Aziz suaminya. Ternyata Aziz dan Hayati juga pindah ke Surabaya karena pekerjaan Aziz. Semakin hari semakin lama rumah tangga Hayati dan Aziz diliputi berbagai macam masalah. Aziz yang suka berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan membuat kehidupan perekonomian mereka semakin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang, ditambah lagi Aziz dipecat dari pekerjaannya. Mereka diusir dari kontrakan dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit hati terhadap Hayati yang dulu pernah ingkar janji dan mengkhianati cintanya. Karena tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal dirumah Zainuddin, Aziz pergi ke Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan istrinya bersama Zainuddin. Saat Aziz meninggalkan rumah Zainuddin tersebut, Zainuddin sendiri jarang pulang kerumahnya, kecuali untuk tidur. Beberapa hari kemudian, datang dua surat dari Aziz, yang pertama berisi surat perceraian untuk Hayati, yang kedua berisi surat permintaan maaf dan permintaan agar Zainuddin mau menerima Hayati kembali. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh Hayati pulang ke kampung halamannya. Hayati pulang ke kampung halamannya dengan menaiki kapal Van der Wijck. Setelah Hayati pergi, barulah Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Karena itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan istrinya. Saat sedang bersiap-siap, terdengar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Seketika itu Zainuddin langsung syok, dan langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk mencari Hayati. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta. Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang terbaring lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah hari terakhir pertemuan mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin, Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin sering sekali mengurung diri dikamarnya dan melamun menyesali perbuatannya. Dan tanpa disadari siapapun Zainuddin meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal karena sakit. Lalu ia di makamkan bersebelahan dengan makam Hayati.
Dari cerita diatas, saya mencoba menganalisis novel tersebut melalui beberapa pendekatan. Jika dilihat dari pendekatan historis, yaitu tentang biografi pengarangnya sendiri sosok Buya Hamka ialah merupakan seorang ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu, ia bekerja sebagai guru agama di DeliSumatera Utara, lalu di MakassarSulawesi Selatan. Dalam perjalanannya ini, terutama saat di Timur Tengah, Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, termasuk karya penulis asal Mesir Mustafa Lutfi al-Manfaluti hingga karya sastrawan Eropa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka menulis Van der Wijck; karya yang diilhami sebagian dari tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Dilihat dari latar belakang peristiwa sejarahnya, memang benar pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal Belanda Van Der Wijck tenggelam. Kapal mewah yang dibuat di galangan kapal  Maatschappij Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 merupakan kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam dengan berat tonase 2.596 ton dan lebar kapal 13,5 meter. Kapal ini mendapat nama panggilan “de meeuw” atau “The Seagull”, karena sosok dan penampilan kapal ini yang tampak sangat anggun dan tenang. Kapal yang memuat penumpang dari Surabaya yang di dalam kapal tersebut banyak sekali penumpang dari Indonesia dan juga Negara lain seperti Belanda, Eropa, dan lain sebagainya. Kapal yang tenggelam tersebut banyak sekali memakan korban jiwa, salah satunya ialah Hayati tokoh yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan. Kapal Van Der Wijk adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang saat ini merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Pada saat itu kapal itu melayani route pelayaran di kawasan perairan di Hindia Belanda. Saat pelayarannya yang terakhir, kapal Van Der Wijck berangkat dari Bali ke Semarang dengan singgah terlebih dahulu di Surabaya. Kapal Van Der Wijck  pada hari selasa tanggal 20 Oktober  1936 tenggelam ketika berlayar  di perairan Lamongan, tepatnya 12 mil dari pantai Brondong. Jumlah penumpang pada saat itu adalah 187 warga Pribumi dan 39 warga Eropa. Sedangkan jumlah awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis, seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi. Menurut Wikipedia, musibah tenggelamnya kapal ini mengakibatkan 4 korban meninggal dunia  dan 49 orang hilang ditelan ombak laut. Sedangkan menurut  Theshiplist.com mengabarkan ada korban 58 orang yang meninggal. Koran De Telegraaf, 22 Oktober 1936, menulis 42 orang korban yang hilang. Jumlah yang tidak pasti ini dikarenakan jumlah penumpang kapal tidak sesuai dengan manifest. Ada banyak kuli angkut pribumi yang tidak tercatat, kemungkinan merekalah yang banyak hilang. Van Der Wijck itu sendiri  adalah nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang diangkat Ratu Emma van Waldeck-Pymont pada tanggal 15 Juni 1893. Ia mulai memerintah tahun 17 Oktober 1893 sampai 3 Oktober 1899. Nama panjangnya adalah Carel Herman Aart van der Wijk. Monumen Van Der Wijk ini berada di halaman kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong, yang berada  di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat PeIelangan Ikan-Brondong.
Selain dapat dilihat dan dianalisis melalui pendekatan historis, novel ini pun dapat dianalisis menggunakan pendekatan sosiopsikologis. Karena sangat terlihat sekali dalam ceritanya bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa itu benar-benar digambarkan. Bahwa adanya diskriminasi yang dilakukan oleh suatu adat dan kaum tertentu dalam lingkup masyarakat, yang di latarbelakangi oleh garis keturunan. Kejamnya adat yang membuat cinta menjadi terpisah dan terhalang. Masa dimana suatu suku benar-benar memegang teguh adat istiadat dan tradisi dari leluhurnya. Terlihat dari tokoh Zainuddin yang merupakan keturunan campuran karena Ayahnya suku Minang dan Ibunya suku Bugis tidak diperbolehkan untuk mempersunting anak perawan keturunan bangsawan yang asli keturunan Minang. Selain itu, status sosial terlihat jelas, karena keluarga Hayati menganggap Zainuddin bukan orang yang berada, dia hanya orang asing yang hidupnya melarat, yang tidak akan pernah bisa membahagiakan kehidupan Hayati. Sang penulis Buya Hamka juga beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Dalam novel ini, Hamka sebagai pengarangnya juga mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Bagaimana budaya yang dulunya populer “kawin paksa” yang diwakili oleh cerita Sitti Nurbaya kembali diingatkan tentang budaya itu lewat novel ini. Sungguh ceritanya masih ada yang seperti ini meski dijaman modern seperti sekarang ini. Terlihat saat Hayati dipaksa untuk menikah dengan Aziz yang merupakan keluarga terpandang dan juga keturunan Minang asli.
Psikologis yang dialami oleh Hayati dan Zainuddin benar-benar menyiksa fisik dan batin mereka. Terlihat saat Zainuddin mendapat penolakan dari keluarga Hayati atas lamarannya, dan juga orang yang sangat dicintainya yaitu Hayati menikah dengan Aziz yang ia ketahui dari Muluk bahwa Aziz adalah seorang yang tidak bermoral, maka Zainuddin benar-benar tidak ikhlas merelakan Hayati menikah dengan Aziz. Dari situlah Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan, dia hanya memikirkan Hayati pujaan hatinya, dia sudah hampir mau mati, karena tersiksa batinnya yang sangat mendalam. Begitupun dengan Hayati, ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Ia mengorbankan perasaannya demi keluarganya. Sekian lama ia menikah dengan Aziz yang awal mulanya baik dan sangat menyayanginya, lama-kelamaan ia harus menguatkan batinnya karena suaminya sering bermain dengan perempuan lain dan sudah tidak lagi mencintai dirinya. Terlihat juga pada saat Hayati dan Zainuddin tinggal serumah, mereka berdua benar-benar menahan perasaan mereka masing-masing, karena mereka berdua sadar Hayati telah memiliki suami, dan Zainuddin pun menghargai Aziz sebagai sahabatnya, walaupun dahulu Aziz telah merebut Hayati dari dirinya.
Dilihat dari pendekatan emotif yaitu mengenai perasaan pembaca, perasaan saya sebagai pembaca ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tokoh Hayati dan tokoh Zainuddin tersebut. Karena setelah saya membaca novel ini, saya benar-benar merasakan bagaimana ketulusan cinta mereka, perjuangan mereka, kesedihan mereka, kekuatan fisik serta batin mereka dalam menghadapi segala macam rintangan untuk kebersamaan mereka yang berujung pada kematian. Tetapi mereka tetap saling mencintai walaupun telah tersakiti dan menyakiti. Selanjutnya dilihat dari pendekatan didaktis, yaitu mengenai nilai moralitas, nilai agama serta nilai etikanya, dalam novel ini juga terdapat dan bisa di analisis. Karena dalam cerita ini, nilai moralnya terlihat dari keluarga Hayati yang memberikan penolakan mentah-mentah terhadap Zainuddin yang berniat baik untuk meminang Hayati. Keluarga Hayati menganggap bahwa orang melarat tidak boleh menikahi keluarga bangsawan. Perlakuan ini benar-benar tidak bermoral, mereka hanya memandang orang hanya dari status sosial dan kekayaan saja. Jika dilihat dari nilai agama, ada juga hubungannya seperti yang tadi dijelaskan oleh penulis sendiri yaitu Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat, jadi masyarakat pada masa itu benar-benar mengabaikan ajaran-ajaran Islam yaitu menghargai dan menghormati setiap niat baik seseorang. Seharusnya keluarga Hayati memberikan kesempatan, karena setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan yang selalu diajarkan dalam Islam untuk selalu berbuat baik kepada siapapun. Selanjutnya mengenai nilai etika pun sama saja penjelasannya seperti diatas, yaitu kita sebagai manusia yang baik harus menjaga sopan dan santun kita terhadap orang lain, walaupun berbeda suku, raas, agama, dan lain sebagainya.
Dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck amanat yang dapat kita ambil ialah mengenai kesetiaan, kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa selalu mendapat ujian dari sang Maha Kuasa untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkanlah sifat rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Serta segala rintangan yang ada harus dijadikan cambuk dan pelajaran untuk terus tetap maju. Tiada kesuksesan tanpa perjuangan, pasti terjatuh, kemudian teruslah bangkit dan jangan sekali-kali memutuskan untuk menyerah. Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang harus dilalui dan dihadapi. Cinta sejati, cinta yang suci, mencintai tanpa harus memiliki. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta, tetapi bagaimana kita bisa membuat kebahagiaan itu dengan selalu menerima segala kekurangan. Dan jangan pernah mengalah karena derita cinta. Zainuddin membuktikannya dimasa lalu bahwa sesakit-sakit hatinya, semenderitanya dan terpuruknya ia, ia mampu bangkit dan bangkit lagi. Teruslah berkarya dan melihat masa depan dengan bijak. Jika tidak kuat, carilah sahabat terbaik yang mampu menemani dengan setia hingga akhir hayat. Terakhir, sebelum anda mengira novel ini sama dengan film Titanic (karena kapal tenggelam), gambaran anda sangat salah. Mungkin remaja sekarang harus membaca novel ini, karena ceritanya membuat mata lebih terbuka dan menambah motivasi dan inspirasi untuk kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar