Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh Nina Susilawati
Novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck adalah
sebuah novel sastra yang di terbitkan tahun 1939 yang ditulis oleh seorang
sastrawan sekaligus budayawan Indonesia yaitu Haji Abdul Malik
Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama
Hamka (Buya Hamka). Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck termasuk ke dalam novel sastra (novel
serius) karena mengandung nilai estetika atau nilai keindahan, dan juga masih
menggunakan bahasa yang baku serta kata-kata kiasan dengan menggunakan bahasa
Melayu. Novel ini menggunakan bahasa sastra yang indah sekali yang tidak
terlalu sulit untuk dipahami oleh pembacanya, novel ini lebih merujuk pada adat
istiadat dan membahas tentang suku Minangkabau dan suku Bugis. Novel ini menceritakan
tentang kisah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, kisah cinta yang murni, keterpurukan,
kebangkitan, kesuksesan, cinta sejati, cinta yang tulus dan suci, serta adat
istiadat yang sangat kuat dan kental sekali. Di dalam novel ini diceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang dipisahkan
karena tradisi adat istiadat yang sangat kuat yaitu Budaya Minangkabau (Padang)
dan Budaya Bugis (Makassar). Mengisahkan persoalan adat
pada tahun 1930-an yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi
hubungan cinta sepasang kekasih sehingga berakhir dengan kematian. Zainuddin
adalah seorang anak yatim piatu, Ayahnya bersuku Minangkabau asli yang diasingkan
dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seorang kerabat yang disebabkan
karena masalah warisan. Sedangkan Ibu Zainuddin bersuku Bugis (orang Makassar),
yang meninggal sebelum Ayah Zainuddin.
Pada
awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan teman ayahnya sekaligus
pengasuhnya yaitu Mak Base. Saat tumbuh remaja Zainuddin memutuskan untuk berlayar
menuju kampung halaman Ayahnya di Batipuh. Zainuddin berharap hijrahnya ia ke Batipuh dapat diterima oleh
keluarga Ayahnya, tetapi sesampai disana harapannya itu sia-sia karena ia tidak
diakui oleh keluarganya yang menganggap bukan keturunannya karena ia merupakan
anak campuran Minang dan Bugis. Disana, ia bertemu dengan Hayati, seorang
perempuan Minang yang cantik keturunan bangsawan. Karena Zainuddin adalah
campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang diterimanya,
baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat
pada saat itu. Zainuddin sering menceritakan kesedihan hatinya pada Hayati
lewat surat hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kabar kedekatan mereka
tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan masyarakat. Karena keluarga Hayati
merupakan keluarga terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluarganya, adat
istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah orang Minangkabau, Ibunya berasal dari
Makassar. Kemudian Mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh. Zainuddin
pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari Batipuh) dengan berat
hati sesuai permintaan mamak Hayati. Namun sebelum berpisah, Hayati dan Zainuddin
berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati
datang ke Padang Panjang untuk melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah
temannya bernama Khadijah. Suatu peluang untuk melepas rasa rindu dan bertemu pun
terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak
ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Dikemudian hari, Zainuddin mendapat
surat dari Makassar bahwa Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta
kepada Zainuddin. Zainuddin berniat
melamar Hayati, ia mengirim surat lamaran kepada keluarga Hayati di
Batipuh tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi lamaran Zainuddin ditolak oleh
keluarga Hayati. Ternyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Hayati
dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya terpandang yang juga keturunan
Minang yang lebih disukai keluarga Hayati dibandingkan dengan Zainuddin.
Meskipun pertunangan tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, namun
sebenarnya cinta Hayati hanya untuk Zainuddin. Setelah penolakan dari Hayati
dan setelah pernikahan itu dilangsungkan, Zainuddin pun jatuh sakit selama dua
bulan.
Atas
bantuan dan nasehat dari Muluk yaitu sahabat Zainuddin, akhirnya Zainuddin
berangsur-angsur membaik keadaannya. Zainuddin memutuskan untuk berjuang, pergi
dari tanah Minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainuddin
bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke
Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama
samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai
pembacanya yang dikenal sebagai hartawan yang dermawan. la mendirikan
perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik
sebagai orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di
Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku. Sampai akhirnya ia menjadi
penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima oleh masyarakat
seluruh Nusantara serta hidupnya serba berkecukupan. Tetapi sebuah peristiwa
tak diduga kembali menghampiri Zainuddin. Di tengah gelimang harta dan
kemasyhurannya, dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati yang datang bersama Aziz suaminya. Ternyata Aziz dan Hayati juga pindah
ke Surabaya karena pekerjaan Aziz. Semakin hari semakin lama rumah tangga
Hayati dan Aziz diliputi berbagai macam masalah. Aziz yang suka berjudi,
mabuk-mabukan dan main perempuan membuat kehidupan perekonomian mereka semakin
memprihatinkan dan terlilit banyak hutang, ditambah lagi Aziz dipecat dari
pekerjaannya. Mereka diusir dari kontrakan dan mereka terpaksa menumpang di
rumah Zainuddin. Di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit
hati terhadap Hayati yang dulu pernah ingkar janji dan mengkhianati cintanya. Karena
tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal
dirumah Zainuddin, Aziz pergi ke Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan
istrinya bersama Zainuddin. Saat Aziz meninggalkan rumah Zainuddin tersebut,
Zainuddin sendiri jarang pulang kerumahnya, kecuali untuk tidur. Beberapa hari
kemudian, datang dua surat dari Aziz, yang pertama berisi surat perceraian
untuk Hayati, yang kedua berisi surat permintaan maaf dan permintaan agar
Zainuddin mau menerima Hayati kembali. Dan kemudian datang pula berita dari
sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah
hotel di Banyuwangi. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh
Hayati pulang ke kampung halamannya. Hayati pulang ke kampung halamannya dengan
menaiki kapal Van der Wijck. Setelah Hayati pergi, barulah
Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah
membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah
kematianku di dalam mengenang engkau.” Karena itulah setelah keberangkatan
Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan istrinya. Saat sedang
bersiap-siap, terdengar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Seketika itu
Zainuddin langsung syok, dan langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk
mencari Hayati. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta. Di
sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang
terbaring lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah hari
terakhir pertemuan mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin,
Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin sering
sekali mengurung diri dikamarnya dan melamun menyesali perbuatannya. Dan tanpa
disadari siapapun Zainuddin meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal
karena sakit. Lalu ia di makamkan bersebelahan dengan makam Hayati.
Dari cerita diatas, saya mencoba menganalisis novel
tersebut melalui beberapa pendekatan. Jika dilihat dari pendekatan historis,
yaitu tentang biografi pengarangnya sendiri sosok Buya Hamka ialah merupakan seorang ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat
beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai
penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu, ia bekerja
sebagai guru agama di Deli, Sumatera
Utara, lalu di Makassar, Sulawesi
Selatan. Dalam perjalanannya ini,
terutama saat di Timur Tengah,
Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, termasuk karya penulis
asal Mesir Mustafa Lutfi al-Manfaluti hingga karya sastrawan Eropa yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab. Pada
tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin
redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk
pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka
menulis Van der Wijck; karya yang diilhami sebagian dari
tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Dilihat
dari latar belakang peristiwa sejarahnya, memang benar pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara
Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal Belanda Van Der Wijck tenggelam. Kapal
mewah yang dibuat di galangan kapal Maatschappij Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 merupakan kapal
milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam dengan berat tonase 2.596 ton dan lebar kapal 13,5 meter.
Kapal ini mendapat nama panggilan “de meeuw” atau “The Seagull”, karena sosok
dan penampilan kapal ini yang tampak sangat anggun dan tenang. Kapal yang memuat penumpang dari Surabaya yang di dalam
kapal tersebut banyak sekali penumpang dari Indonesia dan juga Negara lain
seperti Belanda, Eropa, dan lain sebagainya. Kapal yang tenggelam tersebut
banyak sekali memakan korban jiwa, salah satunya ialah Hayati tokoh yang ada
dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atas
jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan
penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan
monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten
Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang
peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan. Kapal
Van Der Wijk adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij
(KPM) yang saat ini merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
Pada saat itu kapal itu melayani route pelayaran di kawasan perairan di Hindia
Belanda. Saat pelayarannya yang terakhir, kapal Van Der Wijck berangkat dari
Bali ke Semarang dengan singgah terlebih dahulu di Surabaya. Kapal Van Der Wijck
pada hari selasa tanggal 20 Oktober 1936 tenggelam ketika berlayar
di perairan Lamongan, tepatnya 12 mil dari pantai Brondong. Jumlah penumpang
pada saat itu adalah 187 warga Pribumi dan 39 warga Eropa. Sedangkan jumlah
awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis,
seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi. Menurut Wikipedia, musibah tenggelamnya
kapal ini mengakibatkan 4 korban meninggal dunia dan 49 orang hilang
ditelan ombak laut. Sedangkan menurut Theshiplist.com mengabarkan
ada korban 58 orang yang meninggal. Koran De Telegraaf, 22 Oktober
1936, menulis 42 orang korban yang hilang. Jumlah yang tidak pasti ini
dikarenakan jumlah penumpang kapal tidak sesuai dengan manifest. Ada banyak
kuli angkut pribumi yang tidak tercatat, kemungkinan merekalah yang banyak
hilang. Van Der Wijck itu sendiri adalah nama seorang Gubernur Jenderal
Hindia Belanda yang diangkat Ratu Emma van Waldeck-Pymont pada tanggal 15 Juni
1893. Ia mulai memerintah tahun 17 Oktober 1893 sampai 3 Oktober 1899. Nama
panjangnya adalah Carel Herman Aart van der Wijk. Monumen Van Der Wijk ini
berada di halaman kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong, yang
berada di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat PeIelangan Ikan-Brondong.
Selain
dapat dilihat dan dianalisis melalui pendekatan historis, novel ini pun dapat
dianalisis menggunakan pendekatan sosiopsikologis. Karena sangat terlihat
sekali dalam ceritanya bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa itu
benar-benar digambarkan. Bahwa adanya diskriminasi yang dilakukan oleh suatu
adat dan kaum tertentu dalam lingkup masyarakat, yang di latarbelakangi oleh
garis keturunan. Kejamnya adat yang membuat cinta menjadi terpisah dan
terhalang. Masa dimana suatu suku benar-benar memegang teguh adat istiadat dan
tradisi dari leluhurnya. Terlihat dari tokoh Zainuddin yang merupakan keturunan
campuran karena Ayahnya suku Minang dan Ibunya suku Bugis tidak diperbolehkan
untuk mempersunting anak perawan keturunan bangsawan yang asli keturunan
Minang. Selain itu, status sosial terlihat jelas, karena keluarga Hayati
menganggap Zainuddin bukan orang yang berada, dia hanya orang asing yang
hidupnya melarat, yang tidak akan pernah bisa membahagiakan kehidupan Hayati. Sang penulis Buya Hamka juga
beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan
dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Cinta yang dirasakan
Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang
sangat kuat. Dalam novel ini, Hamka sebagai pengarangnya juga mengkritik
beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai
kawin paksa. Bagaimana
budaya yang dulunya populer “kawin paksa” yang diwakili oleh cerita Sitti
Nurbaya kembali diingatkan tentang budaya itu lewat novel ini. Sungguh
ceritanya masih ada yang seperti ini meski dijaman modern seperti sekarang ini. Terlihat
saat Hayati dipaksa untuk menikah dengan Aziz yang merupakan keluarga
terpandang dan juga keturunan Minang asli.
Psikologis
yang dialami oleh Hayati dan Zainuddin benar-benar menyiksa fisik dan batin
mereka. Terlihat saat Zainuddin mendapat penolakan dari keluarga Hayati atas
lamarannya, dan juga orang yang sangat dicintainya yaitu Hayati menikah dengan
Aziz yang ia ketahui dari Muluk bahwa Aziz adalah seorang yang tidak bermoral,
maka Zainuddin benar-benar tidak ikhlas merelakan Hayati menikah dengan Aziz. Dari
situlah Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan, dia hanya memikirkan Hayati
pujaan hatinya, dia sudah hampir mau mati, karena tersiksa batinnya yang sangat
mendalam. Begitupun dengan Hayati, ia harus menikah dengan orang yang tidak ia
cintai. Ia mengorbankan perasaannya demi keluarganya. Sekian lama ia menikah
dengan Aziz yang awal mulanya baik dan sangat menyayanginya, lama-kelamaan ia harus
menguatkan batinnya karena suaminya sering bermain dengan perempuan lain dan
sudah tidak lagi mencintai dirinya. Terlihat juga pada saat Hayati dan
Zainuddin tinggal serumah, mereka berdua benar-benar menahan perasaan mereka
masing-masing, karena mereka berdua sadar Hayati telah memiliki suami, dan
Zainuddin pun menghargai Aziz sebagai sahabatnya, walaupun dahulu Aziz telah
merebut Hayati dari dirinya.
Dilihat
dari pendekatan emotif yaitu mengenai perasaan pembaca, perasaan saya sebagai
pembaca ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tokoh Hayati dan tokoh
Zainuddin tersebut. Karena setelah saya membaca novel ini, saya benar-benar
merasakan bagaimana ketulusan cinta mereka, perjuangan mereka, kesedihan
mereka, kekuatan fisik serta batin mereka dalam menghadapi segala macam
rintangan untuk kebersamaan mereka yang berujung pada kematian. Tetapi mereka
tetap saling mencintai walaupun telah tersakiti dan menyakiti. Selanjutnya
dilihat dari pendekatan didaktis, yaitu mengenai nilai moralitas, nilai agama serta
nilai etikanya, dalam novel ini juga terdapat dan bisa di analisis. Karena
dalam cerita ini, nilai moralnya terlihat dari keluarga Hayati yang memberikan
penolakan mentah-mentah terhadap Zainuddin yang berniat baik untuk meminang
Hayati. Keluarga Hayati menganggap bahwa orang melarat tidak boleh menikahi
keluarga bangsawan. Perlakuan ini benar-benar tidak bermoral, mereka hanya
memandang orang hanya dari status sosial dan kekayaan saja. Jika dilihat dari
nilai agama, ada juga hubungannya seperti yang tadi dijelaskan oleh penulis
sendiri yaitu Buya Hamka beranggapan
bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam
ataupun akal budi yang sehat, jadi masyarakat pada masa itu benar-benar
mengabaikan ajaran-ajaran Islam yaitu menghargai dan menghormati setiap niat
baik seseorang. Seharusnya keluarga Hayati memberikan kesempatan, karena setiap
manusia berhak mendapatkan kesempatan yang selalu diajarkan dalam Islam untuk
selalu berbuat baik kepada siapapun. Selanjutnya mengenai nilai etika pun sama
saja penjelasannya seperti diatas, yaitu kita sebagai manusia yang baik harus
menjaga sopan dan santun kita terhadap orang lain, walaupun berbeda suku, raas,
agama, dan lain sebagainya.
Dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
amanat yang dapat kita ambil ialah mengenai kesetiaan,
kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa selalu mendapat ujian dari sang Maha
Kuasa untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkanlah
sifat rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Serta segala rintangan yang
ada harus dijadikan cambuk dan pelajaran untuk terus tetap maju. Tiada
kesuksesan tanpa perjuangan, pasti terjatuh, kemudian teruslah bangkit dan
jangan sekali-kali memutuskan untuk menyerah. Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang harus
dilalui dan dihadapi. Cinta sejati, cinta yang suci, mencintai tanpa harus
memiliki. Kebahagiaan tidak
bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta, tetapi bagaimana kita bisa membuat
kebahagiaan itu dengan selalu menerima segala kekurangan. Dan jangan pernah
mengalah karena derita cinta. Zainuddin membuktikannya dimasa lalu bahwa sesakit-sakit
hatinya, semenderitanya dan terpuruknya ia, ia mampu bangkit dan bangkit lagi.
Teruslah berkarya dan melihat masa depan dengan bijak. Jika tidak kuat, carilah
sahabat terbaik yang mampu menemani dengan setia hingga akhir hayat. Terakhir, sebelum anda mengira novel ini sama dengan
film Titanic (karena kapal tenggelam), gambaran anda sangat salah. Mungkin
remaja sekarang harus membaca novel ini, karena ceritanya membuat mata lebih
terbuka dan menambah motivasi dan inspirasi untuk kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar