Rabu, 23 April 2014


H-1 PEMILU CALEG
Oleh Nina Susilawati


            Kita semua telah mengetahui bahwa sejatinya pada hari Rabu tanggal 9 April 2014 adalah hari dimana pesta demokrasi, yaitu pemilihan calon-calon legislatif. Dimana kita sebagai pemilih harus memilih pemimpin-pemimpin yang baik dan berkompeten demi kemajuan negeri ini. Kita harus cermat dan teliti dalam memilih, karena satu suara dari kita sangat menentukan nasib negeri ini. Janganlah sampai kita golput.

Pengetahuan Rendah
            Situasi yang sangat aneh yang baru pertama kali saya lihat dan saya alami ialah pada saat menjelang pemilu caleg, yaitu pada H-1. Saya sangat heran atas situasi yang terjadi di Terminal Pakupatan Serang. Banyak sekali masyarakat-masyarakat yang di antara nya mahasiswa Untirta yang tinggal di daerah Pandeglang, Labuan dan sekitarnya sedang menunggu bis dan mobil ps. Mereka seperti hendak pulang ke kampung merayakan lebaran bersama keluarga besar. Tetapi pada kenyataan nya, mereka semua pulang karena keesokan harinya akan mencoblos calon-calon legislatif. Walaupun di kalender tanggal 9 April 2014 bukan merupakan tanggal merah, tetapi hampir seluruh mahasiswa, para pekerja, bahkan anak sekolah pun diliburkan karena mengingat akan diadakannya pemilu tersebut.
               Bis yang lalu-lalung selalu penuh oleh penumpang, tidak seperti hari biasanya. Hari itu sangat melonjak sekali jumlah penumpang, bahkan saking banyaknya penumpang, ada yang berdiri sambil berdesak-desakan dengan penumpang lain, dan salah satu dari mereka yang berdiri sambil berdesak-desakan itu ada saya. Di sela-sela kerumunan banyak orang, kondektur bis ikut menyelinap di sekitar kami untuk menagih uang ongkos. Saat saya berdiri di dekat seorang bapak-bapak yang sedang mengobrol dengan temannya, saya pun sengaja tidak sengaja mendengarkan dan menyimak percakapan mereka. Bapak dan teman nya itu membicarakan perihal pemilu yang akan dilaksanakan esok hari. Di dalam pembicaraan mereka tersebut, mereka mengungkapkan bahwa mereka tidak mengetahui bahkan sangat buta sekali terhadap tata cara memilih atau sering disebut dengan pencoblosan. Mereka sama sekali tidak mengetahui calon-calon legislatif, dan mereka merasa kebingungan untuk memilih siapa. Mereka beranggapan bahwa “ah siapa sajalah yang saya pilih, asal nyoblos”. Mereka sama sekali tidak memikirkan latar belakang calon-calonnya. Bahkan orang-orang yang lain yang berada di bis tersebut juga mengungkapkan bahwa mereka akan memilih para calon yang akan memberikan mereka uang, atau yang sering kita kenal dengan sebutan serangan fajar.
            Tidak hanya orang-orang yang di bis saja yang merasa kebingungan akan memilih siapa. Teman-teman saya sendiri juga ikut kebingungan dengan adanya pemilu ini. Saya dan teman-teman sebagai pemilih yang pemula ikut dibuat bingung dengan keadaan dan situasi seperti ini. Beberapa teman saya ada yang mengatakan akan memilih siapa saja karena tidak mengenal calon-calonnya, mereka bilang asal nyoblos. Dan sebagian lagi beranggpan mereka tidak akan memilih, karena menurut mereka untuk apa memilih, toh tidak kenal dengan calon-calon. Mereka bilang, nanti saja akan memilih, yaitu untuk memberikan suaranya kepada calon presiden. Mereka menganggap memilih calon legislatif tidak penting karena tidak akan merubah negeri ini, yang terpenting bagi mereka adalah memilih presiden.
            Sungguh miris sekali negeri kita tercinta ini, banyak sekali masyarakat yang masih belum mengerti akan apa itu pemilu, bagaimana cara memilih, dan latar belakang pemimpin mereka. Saya sebagai pemilih pemula pun ikut merasakan kebingungan yang dialami oleh mereka semua. Banyak sekali sepertinya kemungkinan masyarakat yang golput karena kurangnya pengetahuan mereka. Seharusnya pemerintah ataupun parati-partai dari para caleg melakukan sosialisasi agar masyarakat mengerti dan paham, serta tidak salah dalam memilih pemimpin demi kemajuan negeri ini yang lebih baik. Dan juga untuk mengurangi angka golput di Indonesia dari tahun ke tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar