H-1
PEMILU CALEG
Oleh Nina Susilawati
Kita
semua telah mengetahui bahwa sejatinya pada hari Rabu tanggal 9 April 2014
adalah hari dimana pesta demokrasi, yaitu pemilihan calon-calon legislatif.
Dimana kita sebagai pemilih harus memilih pemimpin-pemimpin yang baik dan
berkompeten demi kemajuan negeri ini. Kita harus cermat dan teliti dalam
memilih, karena satu suara dari kita sangat menentukan nasib negeri ini.
Janganlah sampai kita golput.
Pengetahuan
Rendah
Situasi yang sangat aneh yang
baru pertama kali saya lihat dan saya alami ialah pada saat menjelang pemilu
caleg, yaitu pada H-1. Saya sangat heran atas situasi yang terjadi di Terminal
Pakupatan Serang. Banyak sekali masyarakat-masyarakat yang di antara nya
mahasiswa Untirta yang tinggal di daerah Pandeglang, Labuan dan sekitarnya
sedang menunggu bis dan mobil ps. Mereka seperti hendak pulang ke kampung
merayakan lebaran bersama keluarga besar. Tetapi pada kenyataan nya, mereka
semua pulang karena keesokan harinya akan mencoblos calon-calon legislatif.
Walaupun di kalender tanggal 9 April 2014 bukan merupakan tanggal merah, tetapi
hampir seluruh mahasiswa, para pekerja, bahkan anak sekolah pun diliburkan
karena mengingat akan diadakannya pemilu tersebut.
Bis yang lalu-lalung selalu penuh oleh
penumpang, tidak seperti hari biasanya. Hari itu sangat melonjak sekali jumlah
penumpang, bahkan saking banyaknya penumpang, ada yang berdiri sambil
berdesak-desakan dengan penumpang lain, dan salah satu dari mereka yang berdiri
sambil berdesak-desakan itu ada saya. Di sela-sela kerumunan banyak orang,
kondektur bis ikut menyelinap di sekitar kami untuk menagih uang ongkos. Saat
saya berdiri di dekat seorang bapak-bapak yang sedang mengobrol dengan
temannya, saya pun sengaja tidak sengaja mendengarkan dan menyimak percakapan
mereka. Bapak dan teman nya itu membicarakan perihal pemilu yang akan
dilaksanakan esok hari. Di dalam pembicaraan mereka tersebut, mereka
mengungkapkan bahwa mereka tidak mengetahui bahkan sangat buta sekali terhadap
tata cara memilih atau sering disebut dengan pencoblosan. Mereka sama sekali
tidak mengetahui calon-calon legislatif, dan mereka merasa kebingungan untuk
memilih siapa. Mereka beranggapan bahwa “ah siapa sajalah yang saya pilih, asal
nyoblos”. Mereka sama sekali tidak memikirkan latar belakang calon-calonnya.
Bahkan orang-orang yang lain yang berada di bis tersebut juga mengungkapkan
bahwa mereka akan memilih para calon yang akan memberikan mereka uang, atau
yang sering kita kenal dengan sebutan serangan fajar.
Tidak
hanya orang-orang yang di bis saja yang merasa kebingungan akan memilih siapa.
Teman-teman saya sendiri juga ikut kebingungan dengan adanya pemilu ini. Saya
dan teman-teman sebagai pemilih yang pemula ikut dibuat bingung dengan keadaan
dan situasi seperti ini. Beberapa teman saya ada yang mengatakan akan memilih
siapa saja karena tidak mengenal calon-calonnya, mereka bilang asal nyoblos.
Dan sebagian lagi beranggpan mereka tidak akan memilih, karena menurut mereka
untuk apa memilih, toh tidak kenal dengan calon-calon. Mereka bilang, nanti
saja akan memilih, yaitu untuk memberikan suaranya kepada calon presiden.
Mereka menganggap memilih calon legislatif tidak penting karena tidak akan
merubah negeri ini, yang terpenting bagi mereka adalah memilih presiden.
Sungguh
miris sekali negeri kita tercinta ini, banyak sekali masyarakat yang masih
belum mengerti akan apa itu pemilu, bagaimana cara memilih, dan latar belakang
pemimpin mereka. Saya sebagai pemilih pemula pun ikut merasakan kebingungan
yang dialami oleh mereka semua. Banyak sekali sepertinya kemungkinan masyarakat
yang golput karena kurangnya pengetahuan mereka. Seharusnya pemerintah ataupun
parati-partai dari para caleg melakukan sosialisasi agar masyarakat mengerti
dan paham, serta tidak salah dalam memilih pemimpin demi kemajuan negeri ini
yang lebih baik. Dan juga untuk mengurangi angka golput di Indonesia dari tahun
ke tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar