Minggu, 18 Mei 2014

esai novel SAMAN karya Ayu Utami

SAMAN
Oleh Nina Susilawati
Saman. Saat mendengar kata ini pastinya sebagian orang langsung mengira bahwa novel ini menceritakan tentang tarian yang berasal dari Padang, Sumatera Barat yaitu Tari Saman. Padahal di dalam novel ini kata Saman yang dimaksud bukan menyangkut tentang Tarian Saman ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Padang maupun sejarahnya, tetapi Saman disini benar-benar berbanding terbalik sekali dengan apa yang kita fikirkan. Saman di dalam novel ini ialah nama orang, yaitu tokoh utama dalam novel Saman karya penulis perempuan yang bernama Ayu Utami. Novel ini sangat menarik sekali, karena dalam novel ini terlihat jelas sekali bahwa imajinasi Ayu Utami dalam pembuatan novel ini sangat luar biasa. Ayu Utami menggabungkan dua dunia dalam novel ini, yaitu dunia modern yang dekat dengan pergaulan bebas dan tidak percaya tahayul, dengan dunia mistis yang berhubungan dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu berkomunikasi dan menolong manusia. Dalam novel ini Ayu Utami juga mengangkat cerita dua agama, yaitu Islam dan Katolik.
Novel ini pun menceritakan seks terlalu terbuka, sehingga lebih menonjol cerita tentang seks dan perselingkuhannya. Cerita dalam novel ini membuat imajinasi pembaca semakin membayangkan apa yang ada dalam cerita. Alur cerita dalam novel ini mundur, tetapi untuk memahami cerita ini sangat sulit. Novel ini tidak patut apabila dibaca oleh anak-anak yang masih dibawah umur, karena cerita dalam novel ini dapat menimbulkan cara berpikir mereka menjadi lebih dewasa sebelum waktunya. Menariknya dalam novel ini ialah menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris, karena setting dalam cerita ini berada di New York dan di Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai novelis, Ayu Utami adalah seorang wartawan. Ia menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novel Saman mendapat penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing: Belanda (de Geus), Perancis (Flammarion), Jepang (Mokusheisha), Jepang (Horlemann), Inggris (Equinox), dan Cheks (Dybbuk). Kini juga dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Korea. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Dan pada akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Dilihat dari pendekatan emotif yaitu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi atau perasaan pembaca, saya sangat tertarik sekali setelah membaca novel ini. Didalam novel ini saya sangat geram terhadap gambaran dari sifat tokoh-tokohnya yang digambarkan oleh sang penulis. Dimulai dari tokoh utama yaitu Saman, saya sangat senang dan terharu sekali atas sikap dan jiwa sosial yang terdapat dalam diri Saman yang mempunyai nama asli Athanasius Wisanggeni yang beragama Katolik. Ia adalah sosok yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Awal mulanya saat ia menolong gadis bernama Upi yaitu gadis yang mengalami keterbelakangan mental yang bisa dibilang mengalami gangguan pada kejiwaannya. Saat Upi tercebur ke sumur tak satupun masyarakat mau menolongnya, tetapi Wisanggeni berani untuk turun ke sumur dan meolong Upi. Lalu Upi diantar pulang oleh Wisanggeni, dan saat Wis tau bahwa Upi ternyata tinggal ditempat yang tidak layak karena diasingkan oleh orang tuanya, ia tinggal di tempat pemasungan yang tidak lebih baik dari kandang kambing dan ia pun dirantai karena mengingat kelakuan Upi sangat membahayakan masyarakat sekitar dan Upi pun adalah korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saat mengetahui itu Wis terbuka hatinya dan ia berniat untuk membuatkan tempat pasung yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih besar untuk Upi. Mulia sekali hatinya. Lalu Wis pun merasa prihatin terhadap perkebunan di Perabumulih dan membantu masyarakat di desa itu dengan membuat pembangkit listrik dan menanam pohon karet yang perlahan-lahan membuat perekonomian masyarakat di desa tersebut mulai membaik. Tetapi tiba-tiba datang seseorang yang memaksa agar mengganti lahan karet yang telah mereka impikan dengan pohon sawit. Dan saat itulah Saman bertindak tegas membela yang lemah. Saman mengajak masyarakat agar tidak menyerah dalam kebenaran akan hak-hak mereka.
Wisanggeni memang memiliki pribadi yang baik yang suka menolong dan membantu orang lain, dan rela berkorban demi kebersamaan, ia pun mantan seorang pastur yang rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang pastur demi membantu masyarakat. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Wis ialah saat ia mempunyai hubungan spesial dengan Yasmin. Hubungan terlarang yang tak seharusnya ada, karena Yasmin telah mempunyai suami. Dan Wis adalah seorang pastur, walaupun ia telah mengundurkan diri menjadi pastur, tetapi tetap saja itu adalah perbuatan yang tidak baik yang membuat saya selaku pembaca benar-benar geram atas perselingkuhan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Lalu dari tokoh Laila, saya sangat salut sekali kepada Laila karena ia adalah perempuan yang paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dulu Laila sempat jatuh cinta kepada Wisanggeni yang menyebabkan adanya cinta segitiga antara Wis, Laila dan Yasmin. Tetapi seiring berjalannya waktu Laila sudah tidak mencintai Wis lagi, dan sekarang Laila menyukai Sihar yaitu seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri. Laila tak peduli dengan semua itu. Meski Sihar sudah beristri ia tak memperdulikannya. Rasa cintanya kepada Sihar memang sangat dalam sehingga membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Laila beranggapan jika ia akan ke NewYork bersama Sihar ia tak perlu bingung memikirkan adat istiadat seperti halnya di Indonesia, karena di New York Laila bebas melakukan semua hal yang ia mau. Dalam tanda kutip ia bebas melakukan hubungan badan diluar pernikahan. Laila dan Sihar berjanji akan berkencan di New York. Namun, Sihar tidak menepati janji, karena Sihar takut ketahuan istrinya. Dan kisah cinta mereka berdua tidak berlanjut semakin dalam. Dan Laila menghilang sejak pertemuan yang gagal antara ia dan Sihar di New York karena istri Sihar yang ikut menemani. Walaupun awalnya saya sangat tidak setuju dengan keputusan Laila yang mencintai suami orang, tetapi pada akhirnya saya ikut sedih merasakan apa yang Laila alami. Dan saya pun saat bangga terhadap keputusan Laila yang menghindar dari Sihar, karena tidak ingin merusak rumah tangga orang lain walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur karena harus merelakan orang yang sangat ia cintai bahagia bersama orang lain, dan ia harus menjalani kehidupannya seorang diri.
Selanjutnya yaitu tokoh Yasmin, ia adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai pengacara yang selalu membela pihak yang dirugikan tanpa berharap imbalan dan ia sudah menikah. Saya menyukai tokoh Yasmin karena ia memiliki jiwa sosial yang baik, terlihat saat ia menolong Wis untuk pergi dari Indonesia ke New York. Yasmin membantu penyamaran Wisanggeni dengan sangat rapih sehingga tidak ada orang yang mengenali Wisanggeni yang merubah namanya menjadi Saman. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Yasmin ialah saat ia berselingkuh dengan Wis dan melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Wis ke New York.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi yang sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, dan mereka melakukan berbagai macam cara dengan merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu disiksa. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu. Benar-benar kejam para pembeli itu, mereka tega melakukan hal-hal seperti itu demi kepentingan mereka sendiri. Saya sebagai pembaca ikut sedih dan marah atas perbuatan para pembeli itu yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali.

Jika dilihat dari sisi sosial masyarakatnya, pada zaman tersebut keadaan lingkungan serta masyarakatnya sangat kental sekali. Karena dalam novel ini menceritakan tentang keadaan suatu masyarakat dan lingkungan yang memiliki konflik yang cukup menarik yaitu saat perkebunan karet yang akan dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit yang mendapat penolakan dari warga-warga desa tersebut. Warga bersikukuh mempertahankan perkebunan yang telah mereka rintis sejak lama, tetapi karena keegoisan para pembeli demi kepentingan pribadi mereka, mereka tega melakukan apa saja. Mereka merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Sungguh kejam sekali keadaan pada saat itu. Lalu penulis pun ingin memberitahu bahwa pada jaman itu memang telah ada pergaulan-pergaulan yang menyimpang seperti perselingkuhan yang terjadi yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya dan seks yang bebas yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel Saman ini. Dan apabila dilihat dari sisi psikologisnya terlihat dari tokoh Saman yang awalnya berusaha sekuat tenaga membantu warga mempertahankan perkebunan karet, tetapi ia malah ditangkap dan dipenjara serta di tuduh yang bukan-bukan. Saat dipenjara ia merasa lemah dan kecewa sampai-sampai ia tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, karena selama dipenjara ia selalu disiksa dan ia pun merasa bersalah atas kematian Upi karena kejadian tersebut.

Amanat dari novel ini ialah janganlah kita membiarkan nafsu menjadi raja yang menguasai diri kita dalam pergaulan. Seharusnya sebagai wanita yang sudah mempunyai suami tidak selayaknya melakukan hubungan yang terlarang dengan orang selain suaminya sendiri, dan sebaliknya pula suami tidak boleh melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Jagalah keperawananmu sampai menjadi halal, jangan menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum resmi menjadi suami kita. Berjiwa sosial sangat perlu dan penting untuk saling membantu sesama manusia yang membutuhkan. Dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dengan menyiksa dan membunuh orang lain demi kepentingan pribadi. Janganlah merebut sesuatu yang bukan menjadi hak kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar