Saat semua dalam hidup ini begitu
sulit untuk dilewati sendiri kita pasti membutuhkan seseorang untuk tetap
semangat menjalaninya. Seperti aku, aku yang sedang lemah oleh keadaan, aku
yang kalah melawan diriku sendiri. Aku disini sendiri, benar-benar sendiri dan
kesepian. Mungkin aku merindukan situasi satu tahun silam, dimana aku
benar-benar merasa bahagia, karena kamu. Dulu kamu selalu mengisi hari-hariku,
semuanya terasa begitu indah. Kamu selalu melakukan hal-hal kecil untukselalu
membuatku tersenyum, mulai dari sekedar antar jemput, makan siang dan malam
bersama, menelpon dan mengirimkan pesan singkat. Aku merasa begitu dekat
denganmu, aku sangat mempercayaimu. Bahkan dari hal kecil sampai hal serius
yang aku alami aku ceritakan semuanya padamu, segala keluh kesah aku curahkan
kepadamu karena bagiku kamu adalah pendengar terbaik. Kamu tidak hanya bisa
menjadi pacar, tapi teman, keluarga, bahkan orang tua bagiku. Aku merasa nyaman
denganmu, aku merasa komunikasi kita terjalin dengan sangat baik. Tapi itu
dulu, sebelum semuanya berubah seperti sekarang. Sekarang ini aku sendiri, aku
tidak memiliki pendengar yang baik lagi seperti dirimu. Rasanya ingin aku
kembali ke masa satu tahun silam, dan enggan untuk berpisah denganmu, karena
aku ingin bersamamu selamanya. Aku sungguh mencintaimu, aku sungguh
menyayangimu, aku bahkan tidak tau sekarang harus berbuat apa. Kita sudah lama
berpisah, semuanya telah berubah. Bahkan untuk memulai menyapamu saja aku
takut, aku ragu, aku malu. Memang ini semua salahku, yang tidak mempercayaimu
dulu, yang selalu curiga terhadapmu hingga kamu pun gerah. Tapi sungguh, aku
menyesal. Caraku salah. Sekarang hanya tersisa penyesalan yang selalu aku
ratapi sendirian. Aku begitu bingung untuk memulai semuanya dari mana.
Sebenarnya aku ingin mengungkapkan isi hatiku, tapi aku takut mendengar jikalau
jawabanmu adalah kamu sudah tidak mencintaiku. Sungguh aku tak sanggup. Makanya
aku pun hanya bisa terdiam, tanpa melakukan usaha apapun, dan lebih memilih
menderita memendam rasa, daripada harus mendengar jawaban pahit terucap dari
bibirmu.
Selasa, 15 November 2016
Karena Saya Tidak Sekuat Yang Kamu Pikir
Terkadang aku bisa melewatinya
sendiri, tetapi aku tak sekuat itu. Hari demi hari berlalu begitu cepatnya, tak
terasa dengan perpisahan kita yang telah sekian lama. Aku belajar hidup
tanpamu, belajar membiasakan semuanya baik-baik saja. Kadang aku merasa sangat
kuat, aku bisa melewati semuanya tanpa kehadiran dirimu lagi. Tapi aku hanyalah
perempuan biasa, perempuan yang pada dasarnya memiliki kodrat yang lemah.
Setelah kepergianmu aku benar-benar merasa sendiri, kesepian, tidak ada lagi
canda tawa darimu, perhatianmu, kasih sayangmu, pelukanmu yang hangat,
kecupanmu yang manis, dan segala hal tentang dirimu yang selalu menarik
perhatianku. Aku telah kehilangan semuanya, kehilangan sosok yang selama ini
benar-benar mengisi hatiku bahkan hidupku. Aku seperti tersesat, tak tau arah
tujuan, kehilangan semangat, bahkan seperti kehilangan separuh dari jiwa ini.
Aku selalu berpikir mengapa semua ini bisa terjadi, mengapa kita harus
berpisah? Aku selalu menerka-nerka apa yang salah dariku, apa yang telah
membuatmu murka hingga memutuskan untuk berpisah denganku. Aku selalu menyesali
semuanya, semua kesalahan yang pernah aku buat terhadapmu. Apa aku terlalu
egois?apa aku terlalu mengekang?apa aku terlalu cemburu?apa aku selalu
berprasangka buruk terhadapmu? Aku selalu mencoba mencari teka-teki yang
membuat hubungan kita yang tadinya manis ini menjadi begitu pahit untuk aku
terima. Padahal jika aku berpikiran realistis seharusnya aku marah, aku
membencimu, aku harus melupakanmu karena kamu telah mengkhianati cinta yang
telah kita bangun, kamu telah membukakan pintu bagi wanita lain untuk
masuk,kamu telah menduakanku dengan wanita lain. Tapi aku malah menyesali
semuanya, malah menyalahkan diriku sendiri atas apa yang telah kamu lakukan
terhadapku. Dan sampai detik ini pun aku selalu menyesali semuanya, menyalahkan
diriku sendiri atas kepergianmu.
Perasaan Kecewa Ketika Putus (Baru Di Post)
Semuanya
memang gak seperti yang aku pikirkan dan bayangkan. Semua yang udah aku
rancang, aku pikirin tentang kamu semuanya sirna. Semuanya kayak mimpi, seakan
gak percaya sama semua yang udah terjadi, semua yang kamu lakuin ke aku, semua
yang udah selesai. Kamu ninggalin aku gitu aja disaat aku masih butuh kamu,
disaat aku sayang banget sama kamu, disaat aku bener-bener ngarepin kamu jadi
yang terakhir di hidup aku. Aku udah capek, udah bener-bener lelah harus move
on lagi, belajar lagi, dapet pelajaran lagi, dapet pengalaman lagi, mulai lagi
semuanya dari awal, kenal orang baru lagi, cerita semuanya lagi. Aku gamau, aku
udah males kembali ke fase itu. Aku cuma mau kamu, merangkai semuanya sama
kamu, sama-sama. Kamu gak akan pernah tau betapa aku sayang nya sama kamu,
betapa sering aku mikirin kamu, nangisin kamu, inget kamu, berusaha buat lupain
kamu tapi aku gak bisa. Bayang-bayang kamu selalu menghantui, kenangan kita,
kebersamaan kita, suka, duka, tawa, canda, tangis, marah, kecewa. Semuanya, aku
kangen semuanya. Aku kangen kamu. Aku gak percaya kamu ninggalin aku demi
perempuan lain, selingkuhan kamu. Kenapa harus dia? Aku salah apa? Selama ini
aku selalu setia sama kamu, aku gak pernah selingkuh, gak pernah chat dan jalan
sama cowok lain. Aku selalu prioritasin kamu, selalu pengen bahagiain kamu,
selalu pengen jadi yang terbaik buat kamu. Tapi kenapa kamu tega mutusin aku?
Segitu besarnya salah aku sampe kamu gak mau maapin dan memperbaiki hubungan
kita? Aku gak nyangka, aku gak percaya kamu setega ini ke aku. Aku masih
ngerasa semuanya kayak mimpi. Aku gak percaya org yg selama ini aku sayang dan
aku percaya tega ninggalin aku demi perempuan lain yang belum tentu sayang sama
kamu.
Langganan:
Komentar (Atom)