Minggu, 18 Mei 2014

esai novel SAMAN karya Ayu Utami

SAMAN
Oleh Nina Susilawati
Saman. Saat mendengar kata ini pastinya sebagian orang langsung mengira bahwa novel ini menceritakan tentang tarian yang berasal dari Padang, Sumatera Barat yaitu Tari Saman. Padahal di dalam novel ini kata Saman yang dimaksud bukan menyangkut tentang Tarian Saman ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Padang maupun sejarahnya, tetapi Saman disini benar-benar berbanding terbalik sekali dengan apa yang kita fikirkan. Saman di dalam novel ini ialah nama orang, yaitu tokoh utama dalam novel Saman karya penulis perempuan yang bernama Ayu Utami. Novel ini sangat menarik sekali, karena dalam novel ini terlihat jelas sekali bahwa imajinasi Ayu Utami dalam pembuatan novel ini sangat luar biasa. Ayu Utami menggabungkan dua dunia dalam novel ini, yaitu dunia modern yang dekat dengan pergaulan bebas dan tidak percaya tahayul, dengan dunia mistis yang berhubungan dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu berkomunikasi dan menolong manusia. Dalam novel ini Ayu Utami juga mengangkat cerita dua agama, yaitu Islam dan Katolik.
Novel ini pun menceritakan seks terlalu terbuka, sehingga lebih menonjol cerita tentang seks dan perselingkuhannya. Cerita dalam novel ini membuat imajinasi pembaca semakin membayangkan apa yang ada dalam cerita. Alur cerita dalam novel ini mundur, tetapi untuk memahami cerita ini sangat sulit. Novel ini tidak patut apabila dibaca oleh anak-anak yang masih dibawah umur, karena cerita dalam novel ini dapat menimbulkan cara berpikir mereka menjadi lebih dewasa sebelum waktunya. Menariknya dalam novel ini ialah menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris, karena setting dalam cerita ini berada di New York dan di Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai novelis, Ayu Utami adalah seorang wartawan. Ia menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novel Saman mendapat penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing: Belanda (de Geus), Perancis (Flammarion), Jepang (Mokusheisha), Jepang (Horlemann), Inggris (Equinox), dan Cheks (Dybbuk). Kini juga dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Korea. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Dan pada akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Dilihat dari pendekatan emotif yaitu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi atau perasaan pembaca, saya sangat tertarik sekali setelah membaca novel ini. Didalam novel ini saya sangat geram terhadap gambaran dari sifat tokoh-tokohnya yang digambarkan oleh sang penulis. Dimulai dari tokoh utama yaitu Saman, saya sangat senang dan terharu sekali atas sikap dan jiwa sosial yang terdapat dalam diri Saman yang mempunyai nama asli Athanasius Wisanggeni yang beragama Katolik. Ia adalah sosok yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang tertindas. Awal mulanya saat ia menolong gadis bernama Upi yaitu gadis yang mengalami keterbelakangan mental yang bisa dibilang mengalami gangguan pada kejiwaannya. Saat Upi tercebur ke sumur tak satupun masyarakat mau menolongnya, tetapi Wisanggeni berani untuk turun ke sumur dan meolong Upi. Lalu Upi diantar pulang oleh Wisanggeni, dan saat Wis tau bahwa Upi ternyata tinggal ditempat yang tidak layak karena diasingkan oleh orang tuanya, ia tinggal di tempat pemasungan yang tidak lebih baik dari kandang kambing dan ia pun dirantai karena mengingat kelakuan Upi sangat membahayakan masyarakat sekitar dan Upi pun adalah korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saat mengetahui itu Wis terbuka hatinya dan ia berniat untuk membuatkan tempat pasung yang lebih baik, lebih nyaman dan lebih besar untuk Upi. Mulia sekali hatinya. Lalu Wis pun merasa prihatin terhadap perkebunan di Perabumulih dan membantu masyarakat di desa itu dengan membuat pembangkit listrik dan menanam pohon karet yang perlahan-lahan membuat perekonomian masyarakat di desa tersebut mulai membaik. Tetapi tiba-tiba datang seseorang yang memaksa agar mengganti lahan karet yang telah mereka impikan dengan pohon sawit. Dan saat itulah Saman bertindak tegas membela yang lemah. Saman mengajak masyarakat agar tidak menyerah dalam kebenaran akan hak-hak mereka.
Wisanggeni memang memiliki pribadi yang baik yang suka menolong dan membantu orang lain, dan rela berkorban demi kebersamaan, ia pun mantan seorang pastur yang rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang pastur demi membantu masyarakat. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Wis ialah saat ia mempunyai hubungan spesial dengan Yasmin. Hubungan terlarang yang tak seharusnya ada, karena Yasmin telah mempunyai suami. Dan Wis adalah seorang pastur, walaupun ia telah mengundurkan diri menjadi pastur, tetapi tetap saja itu adalah perbuatan yang tidak baik yang membuat saya selaku pembaca benar-benar geram atas perselingkuhan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Lalu dari tokoh Laila, saya sangat salut sekali kepada Laila karena ia adalah perempuan yang paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dulu Laila sempat jatuh cinta kepada Wisanggeni yang menyebabkan adanya cinta segitiga antara Wis, Laila dan Yasmin. Tetapi seiring berjalannya waktu Laila sudah tidak mencintai Wis lagi, dan sekarang Laila menyukai Sihar yaitu seorang laki-laki yang sudah mempunyai istri. Laila tak peduli dengan semua itu. Meski Sihar sudah beristri ia tak memperdulikannya. Rasa cintanya kepada Sihar memang sangat dalam sehingga membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Laila beranggapan jika ia akan ke NewYork bersama Sihar ia tak perlu bingung memikirkan adat istiadat seperti halnya di Indonesia, karena di New York Laila bebas melakukan semua hal yang ia mau. Dalam tanda kutip ia bebas melakukan hubungan badan diluar pernikahan. Laila dan Sihar berjanji akan berkencan di New York. Namun, Sihar tidak menepati janji, karena Sihar takut ketahuan istrinya. Dan kisah cinta mereka berdua tidak berlanjut semakin dalam. Dan Laila menghilang sejak pertemuan yang gagal antara ia dan Sihar di New York karena istri Sihar yang ikut menemani. Walaupun awalnya saya sangat tidak setuju dengan keputusan Laila yang mencintai suami orang, tetapi pada akhirnya saya ikut sedih merasakan apa yang Laila alami. Dan saya pun saat bangga terhadap keputusan Laila yang menghindar dari Sihar, karena tidak ingin merusak rumah tangga orang lain walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur karena harus merelakan orang yang sangat ia cintai bahagia bersama orang lain, dan ia harus menjalani kehidupannya seorang diri.
Selanjutnya yaitu tokoh Yasmin, ia adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai pengacara yang selalu membela pihak yang dirugikan tanpa berharap imbalan dan ia sudah menikah. Saya menyukai tokoh Yasmin karena ia memiliki jiwa sosial yang baik, terlihat saat ia menolong Wis untuk pergi dari Indonesia ke New York. Yasmin membantu penyamaran Wisanggeni dengan sangat rapih sehingga tidak ada orang yang mengenali Wisanggeni yang merubah namanya menjadi Saman. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Yasmin ialah saat ia berselingkuh dengan Wis dan melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Wis ke New York.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi yang sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, dan mereka melakukan berbagai macam cara dengan merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu disiksa. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu. Benar-benar kejam para pembeli itu, mereka tega melakukan hal-hal seperti itu demi kepentingan mereka sendiri. Saya sebagai pembaca ikut sedih dan marah atas perbuatan para pembeli itu yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali.

Jika dilihat dari sisi sosial masyarakatnya, pada zaman tersebut keadaan lingkungan serta masyarakatnya sangat kental sekali. Karena dalam novel ini menceritakan tentang keadaan suatu masyarakat dan lingkungan yang memiliki konflik yang cukup menarik yaitu saat perkebunan karet yang akan dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit yang mendapat penolakan dari warga-warga desa tersebut. Warga bersikukuh mempertahankan perkebunan yang telah mereka rintis sejak lama, tetapi karena keegoisan para pembeli demi kepentingan pribadi mereka, mereka tega melakukan apa saja. Mereka merobohkan pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para penduduk. Sungguh kejam sekali keadaan pada saat itu. Lalu penulis pun ingin memberitahu bahwa pada jaman itu memang telah ada pergaulan-pergaulan yang menyimpang seperti perselingkuhan yang terjadi yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya dan seks yang bebas yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel Saman ini. Dan apabila dilihat dari sisi psikologisnya terlihat dari tokoh Saman yang awalnya berusaha sekuat tenaga membantu warga mempertahankan perkebunan karet, tetapi ia malah ditangkap dan dipenjara serta di tuduh yang bukan-bukan. Saat dipenjara ia merasa lemah dan kecewa sampai-sampai ia tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, karena selama dipenjara ia selalu disiksa dan ia pun merasa bersalah atas kematian Upi karena kejadian tersebut.

Amanat dari novel ini ialah janganlah kita membiarkan nafsu menjadi raja yang menguasai diri kita dalam pergaulan. Seharusnya sebagai wanita yang sudah mempunyai suami tidak selayaknya melakukan hubungan yang terlarang dengan orang selain suaminya sendiri, dan sebaliknya pula suami tidak boleh melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Jagalah keperawananmu sampai menjadi halal, jangan menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum resmi menjadi suami kita. Berjiwa sosial sangat perlu dan penting untuk saling membantu sesama manusia yang membutuhkan. Dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dengan menyiksa dan membunuh orang lain demi kepentingan pribadi. Janganlah merebut sesuatu yang bukan menjadi hak kita.

Minggu, 11 Mei 2014


Peristiwa Banten Selatan
Oleh Nina Susilawati

Ketika mendengar kata Selatan, sebagian orang berfikir ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul, karena mendengar kata Selatan yang identik dengan Pantai Selatan. Padahal dalam tulisan ini saya tidak membicarakan Nyi Roro Kidul si Ratu Pantai Selatan, karena disini saya akan membahas tentang peristiwa yang pernah terjadi di daerah Banten Selatan. Banten adalah sebuah pulau yang masih berada di sekitaran Jawa Barat. Daerah yang kecil tetapi memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam yang berlimpah serta panorama keindahan yang sangat menakjubkan. Daerah Banten Selatan terkenal dengan Pantai Sawarna-nya yang berada di desa Bayah. Pemandangan pantainya sangat indah sekali, terdapat banyak batu-batu karang yang menjulang seperti tebing yang bisa dijadikan objek fotografi, maka tak heran Pantai Sawarna dijadikan objek wisata untuk para wisatawan yang ingin berkujung melihat keindahan pantai tersebut. Ibukota Banten ialah Serang. Banten memang tidak terlalu dikenal, tapi bagi sebagian orang yang mengetahui Banten, mereka beranggapan bahwa orang-orang Banten identik dengan orang-orang yang berilmu hitam dan beragama kuat. Padahal orang Banten tidak seperti itu, mungkin sebagian masyarakat menafsirkan seperti itu karena Banten terkenal dengan kota santri, yang mana banyak sekali kita bisa temui pesantren-pesantren di daerah Banten yang lebih banyak bertempat di daerah Pandeglang. Orang-orang Banten pun dikenal sangat kuat dan hebat, karena orang Banten bisa melakukan atraksi debus, yaitu atraksi-atraksi yang mengerikan seperti memotong tangan atau leher dengan menggunakan benda tajam seperti golok, menginjak pecahan beling tanpa alas kaki, serta meniup api dengan menggunakan minyak tanah yang berada di mulut, yang menurut sebagian orang itu adalah hal yang ekstrim dan sangat mengerikan sekali yang membuat kita sebagai penonton merinding dan ketakutan apabila menyaksikannya.
Disini saya akan sekilas mengulas tentang cerita dari novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan tentang tokoh yang bernama Juragan Musa yang datang menemui Ranta dan menawari pekerjaan untuk mengambil bibit karet dan menjanjikan kepada Ranta akan memberinya upah, kemudian Juragan Musa merogoh kantongnya dan memberikan uang seringgit kepada Ranta. Ranta ingin menolak tapi Juragan Musa memaksa bahkan mengancamnya. Mau tak mau Ranta menjalankan perintah Juragan Musa. Sebelum pergi  Juragan Musa berpesan pada Ranta “Kalau ada apa-apa, jangan sebut namaku, mengerti?. Sebenarnya Ranta disuruh untuk mencuri, tapi karena Juragan Musa licik, hal itu tidak diketahui oleh Ranta. Ternyata  Juragan Musa menipu dirinya. Juragan Musa menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi ketika Ranta menanyakan upah, Ranta malah dipukul menggunakan rotan, di rampas pikulan dan goloknya. Di hari selanjutnya, Juragan Musa datang kembali pada Ranta, dengan nada marah Juragan Musa terus memanggil Ranta. Tapi pada saat itu, tekanan psikologis dalam diri Ranta membuat ia berontak dan melawan Juragan Musa. Juragan Musa kabur ketakutan dan ia menjatuhkan serta meninggalkan aktentas atau tas dan tongkatnya jatuh ke tanah. Dalam tas tersebut, rupanya terdapat arsip penting laporan kegiatan Juragan Musa dengan DI.
Di rumahnya, Juragan Musa marah terhadap Nyonya istrinya dan bertengkar. Saat pertengkaran terjadi, anak buah Juragan Musa yang akan dikirim untuk menghabisi Ranta datang dan melaporkan bahwa melihat Ranta membawa sebuah tas. Dalam percakapan tersebut, istri Juragan Musa mendengar bahwa Juragan Musa mengaku sebagai pimpinan wilayah DI. Istrinya terkejut dan marah sebab orang tuanya adalah korban DI. Pertengkaran itu membuat Juragan Musa membeberkan bahwa ia memang pemimpin wilayah dalam organisasi DI. Di luar, sebenarnya pasukan militer beserta Komandan sudah mengepung rumah Juragan Musa setelah mendapat laporan dari Ranta. Karena mereka mendengar langsung pengakuan Juragan Musa bahwa dia adalah benar-benar anggota DI, akhirnya gerombolan DI ditangkap. Ranta diangkat sebagai Lurah sementara untuk menggantikan Lurah Juragan Musa yang ditangkap. Sejak saat itu Ranta dan Istrinya Ireng serta Nyonya istri Juragan Musa tinggal di rumah Juragan Musa. Selanjutnya Komandan datang menemui Ranta, dalam hal itu mereka membicarakan tentang mempertahankan keamanan daerah, dan Ranta memberi saran pada Komandan untuk mempersatukan rakyat, dan melawan musuh bersama-sama dengan bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan dan ranjau-ranjau yang akan dilalui oleh gerombolan.
Berbicara mengenai pendekatan dalam apresiasi sastra, saya akan mencoba membahas novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dilihat dari pendekatan historisnya yaitu tentang biografi pengarang, sosok Pramoedya Ananta Toer ialah sosok sastrawan yang tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di penjara dan kebanyakan dari novelnya tersebut dilarang pada saat masa Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di masa Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru pada Agustus 1969-12 November 1979, Magelang pada November-Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara, sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Latar belakang novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ialah merupakan hasil `reportase` singkat kunjungan Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tetapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh daya kerjanya. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang semakin membuat mereka miskin. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pramoedya Ananta Toer temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan sukaduka dalam perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami dan mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang emas Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Penindasan yang dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya dilihat dari pendekatan sosiopsikologis novel ini sangat erat sekali hubungannya. Karena didalam novel ini menceritakan tentang suatu keadaan yang terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat di suatu daerah yaitu di daerah Banten Selatan yang di dalamnya terdapat penindasan Darul Islam yg brutal, tak berbelas kasihan, yaitu merampok, menjarah, menindas yang lemah, dan selalu membuat rusuh terhadap rakyat-rakyat kecil dan miskin yang diperlakukan semena-mena, yang disuruh untuk mencuri tetapi malah diberi upah dengan cara dipukul menggunakan rotan yang dialami oleh tokoh Ranta. Tokoh Juragan Musa digambarkan sebagai orang yang angkuh, tamak dan licik. Juragan Musa senantiasa berlaku menindas yang lemah, salah satunya yaitu memaksa Ranta menjadi maling. Tak hanya Ranta, beberapa warga desa juga menjadi korban si Juragan Musa. Tapi pada akhirnya Ranta diangkat menjadi Lurah di desanya karena berhasil membongkar identitas Juragan Musa sebagai petinggi DI kepada militer setempat. Akhirnya, Juragan Musa ditangkap. Dalam novel ini menanamkan nilai gotongroyong. Betapa hebatnya nilai dari sebuah persatuan, kerjasama dan tolong menolong. Bahwa kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, dan kesewenang-wenangan bisa dilawan oleh senjata yang ampuh yaitu persatuan. Pramoedya Ananta Toer mencoba menumbuhkan sebuah  rasa keteguhan, keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang diistilahkan sebagai gotong-royong.

Dilihat dari sisi psikologisnya, sangat terlihat jelas sekali dari tokoh Nyonya, yaitu istri Juragan Musa. Ia merasa sangat tersiksa dan sedih sekali atas perlakuan suaminya yang memperlakuan ia dengan sangat kasar, padahal suaminya berjanji akan bersikap manis terhadap dirinya. Selanjutnya saat mengetahui suaminya adalah seorang pembesar DI ia mencoba tetap kuat dan menerima kenyataan yang ada, dan tetap mencintai suaminya, menerima keadaan suaminya walaupun ia harus menanggung malu. Ia merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri, ia sangat kecewa karena orang tuanya meninggal karena DI dan ia sangat kaget sekali saat tau bahwa suaminya sendiri adalah pembesar DI. Lalu dari tokoh Ranta yang sabar dan tetap menahan amarahnya sampai emosinya memuncak karena ia merasa telah diinjak-injak harga dirinya serta ditipu dan disuruh menjadi maling tetapi tidak diberi upah, malah ia dipukul menggunakan rotan lalu ia geram dan tidak tahan, akhirnya ia berhasil membongkar kedok Juragan Musa bahwa ia adalah seorang pembesar DI.

Melalui pendekatan didaktis yaitu pendekatan yang merujuk pada nilai-nilai moral, agama, serta etikanya novel ini juga dapat dianalisis yaitu dilihat dari nilai moralnya sosok Juragan Musa ialah sosok yang tidak bermoral dan tidak berkeprimanusiaan karena ia tega menyuruh tokoh Ranta untuk mencuri bibit karet dan sebagai upahnya ia malah memukul Ranta dengan menggunakan rotan. Tidak hanya tokoh Ranta, tetapi masyarakat yang lain pun pernah mengalami hal yang sama seperti tokoh Ranta. Istrinya pun diperlakukan sangat kasar oleh dirinya, padahal ia adalah seorang pemimpin tidak seharusnya pemimpin mempunyai sifat dan sikap tidak bermoral seperti itu. Selanjutnya dilihat dari nilai agama, Juragan Musa ialah seorang pembesar DI, yaitu menganut ajaran agama tetapi tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Karena dalam Islam tidak diajarkan untuk menipu, menyiksa, dan berbuat dzalim kepada orang lain.

Minggu, 27 April 2014



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh Nina Susilawati

Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah novel sastra yang di terbitkan tahun 1939 yang ditulis oleh seorang sastrawan sekaligus budayawan Indonesia yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka (Buya Hamka). Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck termasuk ke dalam novel sastra (novel serius) karena mengandung nilai estetika atau nilai keindahan, dan juga masih menggunakan bahasa yang baku serta kata-kata kiasan dengan menggunakan bahasa Melayu. Novel ini menggunakan bahasa sastra yang indah sekali yang tidak terlalu sulit untuk dipahami oleh pembacanya, novel ini lebih merujuk pada adat istiadat dan membahas tentang suku Minangkabau dan suku Bugis. Novel ini menceritakan tentang kisah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, kisah cinta yang murni, keterpurukan, kebangkitan, kesuksesan, cinta sejati, cinta yang tulus dan suci, serta adat istiadat yang sangat kuat dan kental sekali. Di dalam novel ini diceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang dipisahkan karena tradisi adat istiadat yang sangat kuat yaitu Budaya Minangkabau (Padang) dan Budaya Bugis (Makassar). Mengisahkan persoalan adat pada tahun 1930-an yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih sehingga berakhir dengan kematian. Zainuddin adalah seorang anak yatim piatu, Ayahnya bersuku Minangkabau asli yang diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seorang kerabat yang disebabkan karena masalah warisan. Sedangkan Ibu Zainuddin bersuku Bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum Ayah Zainuddin.
Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya sekaligus pengasuhnya yaitu Mak Base. Saat tumbuh remaja Zainuddin memutuskan untuk berlayar menuju kampung halaman Ayahnya di Batipuh. Zainuddin berharap  hijrahnya ia ke Batipuh dapat diterima oleh keluarga Ayahnya, tetapi sesampai disana harapannya itu sia-sia karena ia tidak diakui oleh keluarganya yang menganggap bukan keturunannya karena ia merupakan anak campuran Minang dan Bugis. Disana, ia bertemu dengan Hayati, seorang perempuan Minang yang cantik keturunan bangsawan. Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang diterimanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu. Zainuddin sering menceritakan kesedihan hatinya pada Hayati lewat surat hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kabar kedekatan mereka tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan masyarakat. Karena keluarga Hayati merupakan keluarga terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluarganya, adat istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah orang Minangkabau, Ibunya berasal dari Makassar. Kemudian Mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh. Zainuddin pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari Batipuh) dengan berat hati sesuai permintaan mamak Hayati. Namun sebelum berpisah, Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang untuk melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah temannya bernama Khadijah. Suatu peluang untuk melepas rasa rindu dan bertemu pun terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Dikemudian hari, Zainuddin mendapat surat dari Makassar bahwa Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta kepada Zainuddin. Zainuddin berniat melamar Hayati, ia mengirim surat lamaran kepada keluarga Hayati di Batipuh tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi lamaran Zainuddin ditolak oleh keluarga Hayati. Ternyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya terpandang yang juga keturunan Minang yang lebih disukai keluarga Hayati dibandingkan dengan Zainuddin. Meskipun pertunangan tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, namun sebenarnya cinta Hayati hanya untuk Zainuddin. Setelah penolakan dari Hayati dan setelah pernikahan itu dilangsungkan, Zainuddin pun jatuh sakit selama dua bulan.
Atas bantuan dan nasehat dari Muluk yaitu sahabat Zainuddin, akhirnya Zainuddin berangsur-angsur membaik keadaannya. Zainuddin memutuskan untuk berjuang, pergi dari tanah Minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainuddin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya yang dikenal sebagai hartawan yang dermawan. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik sebagai orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku. Sampai akhirnya ia menjadi penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima oleh masyarakat seluruh Nusantara serta hidupnya serba berkecukupan. Tetapi sebuah peristiwa tak diduga kembali menghampiri Zainuddin. Di tengah gelimang harta dan kemasyhurannya, dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati yang datang bersama Aziz suaminya. Ternyata Aziz dan Hayati juga pindah ke Surabaya karena pekerjaan Aziz. Semakin hari semakin lama rumah tangga Hayati dan Aziz diliputi berbagai macam masalah. Aziz yang suka berjudi, mabuk-mabukan dan main perempuan membuat kehidupan perekonomian mereka semakin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang, ditambah lagi Aziz dipecat dari pekerjaannya. Mereka diusir dari kontrakan dan mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit hati terhadap Hayati yang dulu pernah ingkar janji dan mengkhianati cintanya. Karena tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal dirumah Zainuddin, Aziz pergi ke Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan istrinya bersama Zainuddin. Saat Aziz meninggalkan rumah Zainuddin tersebut, Zainuddin sendiri jarang pulang kerumahnya, kecuali untuk tidur. Beberapa hari kemudian, datang dua surat dari Aziz, yang pertama berisi surat perceraian untuk Hayati, yang kedua berisi surat permintaan maaf dan permintaan agar Zainuddin mau menerima Hayati kembali. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh Hayati pulang ke kampung halamannya. Hayati pulang ke kampung halamannya dengan menaiki kapal Van der Wijck. Setelah Hayati pergi, barulah Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Karena itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan istrinya. Saat sedang bersiap-siap, terdengar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Seketika itu Zainuddin langsung syok, dan langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk mencari Hayati. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta. Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang terbaring lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah hari terakhir pertemuan mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin, Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin sering sekali mengurung diri dikamarnya dan melamun menyesali perbuatannya. Dan tanpa disadari siapapun Zainuddin meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal karena sakit. Lalu ia di makamkan bersebelahan dengan makam Hayati.
Dari cerita diatas, saya mencoba menganalisis novel tersebut melalui beberapa pendekatan. Jika dilihat dari pendekatan historis, yaitu tentang biografi pengarangnya sendiri sosok Buya Hamka ialah merupakan seorang ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu, ia bekerja sebagai guru agama di DeliSumatera Utara, lalu di MakassarSulawesi Selatan. Dalam perjalanannya ini, terutama saat di Timur Tengah, Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, termasuk karya penulis asal Mesir Mustafa Lutfi al-Manfaluti hingga karya sastrawan Eropa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka menulis Van der Wijck; karya yang diilhami sebagian dari tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Dilihat dari latar belakang peristiwa sejarahnya, memang benar pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal Belanda Van Der Wijck tenggelam. Kapal mewah yang dibuat di galangan kapal  Maatschappij Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 merupakan kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam dengan berat tonase 2.596 ton dan lebar kapal 13,5 meter. Kapal ini mendapat nama panggilan “de meeuw” atau “The Seagull”, karena sosok dan penampilan kapal ini yang tampak sangat anggun dan tenang. Kapal yang memuat penumpang dari Surabaya yang di dalam kapal tersebut banyak sekali penumpang dari Indonesia dan juga Negara lain seperti Belanda, Eropa, dan lain sebagainya. Kapal yang tenggelam tersebut banyak sekali memakan korban jiwa, salah satunya ialah Hayati tokoh yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan. Kapal Van Der Wijk adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang saat ini merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Pada saat itu kapal itu melayani route pelayaran di kawasan perairan di Hindia Belanda. Saat pelayarannya yang terakhir, kapal Van Der Wijck berangkat dari Bali ke Semarang dengan singgah terlebih dahulu di Surabaya. Kapal Van Der Wijck  pada hari selasa tanggal 20 Oktober  1936 tenggelam ketika berlayar  di perairan Lamongan, tepatnya 12 mil dari pantai Brondong. Jumlah penumpang pada saat itu adalah 187 warga Pribumi dan 39 warga Eropa. Sedangkan jumlah awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis, seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi. Menurut Wikipedia, musibah tenggelamnya kapal ini mengakibatkan 4 korban meninggal dunia  dan 49 orang hilang ditelan ombak laut. Sedangkan menurut  Theshiplist.com mengabarkan ada korban 58 orang yang meninggal. Koran De Telegraaf, 22 Oktober 1936, menulis 42 orang korban yang hilang. Jumlah yang tidak pasti ini dikarenakan jumlah penumpang kapal tidak sesuai dengan manifest. Ada banyak kuli angkut pribumi yang tidak tercatat, kemungkinan merekalah yang banyak hilang. Van Der Wijck itu sendiri  adalah nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang diangkat Ratu Emma van Waldeck-Pymont pada tanggal 15 Juni 1893. Ia mulai memerintah tahun 17 Oktober 1893 sampai 3 Oktober 1899. Nama panjangnya adalah Carel Herman Aart van der Wijk. Monumen Van Der Wijk ini berada di halaman kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong, yang berada  di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat PeIelangan Ikan-Brondong.
Selain dapat dilihat dan dianalisis melalui pendekatan historis, novel ini pun dapat dianalisis menggunakan pendekatan sosiopsikologis. Karena sangat terlihat sekali dalam ceritanya bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa itu benar-benar digambarkan. Bahwa adanya diskriminasi yang dilakukan oleh suatu adat dan kaum tertentu dalam lingkup masyarakat, yang di latarbelakangi oleh garis keturunan. Kejamnya adat yang membuat cinta menjadi terpisah dan terhalang. Masa dimana suatu suku benar-benar memegang teguh adat istiadat dan tradisi dari leluhurnya. Terlihat dari tokoh Zainuddin yang merupakan keturunan campuran karena Ayahnya suku Minang dan Ibunya suku Bugis tidak diperbolehkan untuk mempersunting anak perawan keturunan bangsawan yang asli keturunan Minang. Selain itu, status sosial terlihat jelas, karena keluarga Hayati menganggap Zainuddin bukan orang yang berada, dia hanya orang asing yang hidupnya melarat, yang tidak akan pernah bisa membahagiakan kehidupan Hayati. Sang penulis Buya Hamka juga beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat. Dalam novel ini, Hamka sebagai pengarangnya juga mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Bagaimana budaya yang dulunya populer “kawin paksa” yang diwakili oleh cerita Sitti Nurbaya kembali diingatkan tentang budaya itu lewat novel ini. Sungguh ceritanya masih ada yang seperti ini meski dijaman modern seperti sekarang ini. Terlihat saat Hayati dipaksa untuk menikah dengan Aziz yang merupakan keluarga terpandang dan juga keturunan Minang asli.
Psikologis yang dialami oleh Hayati dan Zainuddin benar-benar menyiksa fisik dan batin mereka. Terlihat saat Zainuddin mendapat penolakan dari keluarga Hayati atas lamarannya, dan juga orang yang sangat dicintainya yaitu Hayati menikah dengan Aziz yang ia ketahui dari Muluk bahwa Aziz adalah seorang yang tidak bermoral, maka Zainuddin benar-benar tidak ikhlas merelakan Hayati menikah dengan Aziz. Dari situlah Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan, dia hanya memikirkan Hayati pujaan hatinya, dia sudah hampir mau mati, karena tersiksa batinnya yang sangat mendalam. Begitupun dengan Hayati, ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Ia mengorbankan perasaannya demi keluarganya. Sekian lama ia menikah dengan Aziz yang awal mulanya baik dan sangat menyayanginya, lama-kelamaan ia harus menguatkan batinnya karena suaminya sering bermain dengan perempuan lain dan sudah tidak lagi mencintai dirinya. Terlihat juga pada saat Hayati dan Zainuddin tinggal serumah, mereka berdua benar-benar menahan perasaan mereka masing-masing, karena mereka berdua sadar Hayati telah memiliki suami, dan Zainuddin pun menghargai Aziz sebagai sahabatnya, walaupun dahulu Aziz telah merebut Hayati dari dirinya.
Dilihat dari pendekatan emotif yaitu mengenai perasaan pembaca, perasaan saya sebagai pembaca ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tokoh Hayati dan tokoh Zainuddin tersebut. Karena setelah saya membaca novel ini, saya benar-benar merasakan bagaimana ketulusan cinta mereka, perjuangan mereka, kesedihan mereka, kekuatan fisik serta batin mereka dalam menghadapi segala macam rintangan untuk kebersamaan mereka yang berujung pada kematian. Tetapi mereka tetap saling mencintai walaupun telah tersakiti dan menyakiti. Selanjutnya dilihat dari pendekatan didaktis, yaitu mengenai nilai moralitas, nilai agama serta nilai etikanya, dalam novel ini juga terdapat dan bisa di analisis. Karena dalam cerita ini, nilai moralnya terlihat dari keluarga Hayati yang memberikan penolakan mentah-mentah terhadap Zainuddin yang berniat baik untuk meminang Hayati. Keluarga Hayati menganggap bahwa orang melarat tidak boleh menikahi keluarga bangsawan. Perlakuan ini benar-benar tidak bermoral, mereka hanya memandang orang hanya dari status sosial dan kekayaan saja. Jika dilihat dari nilai agama, ada juga hubungannya seperti yang tadi dijelaskan oleh penulis sendiri yaitu Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat, jadi masyarakat pada masa itu benar-benar mengabaikan ajaran-ajaran Islam yaitu menghargai dan menghormati setiap niat baik seseorang. Seharusnya keluarga Hayati memberikan kesempatan, karena setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan yang selalu diajarkan dalam Islam untuk selalu berbuat baik kepada siapapun. Selanjutnya mengenai nilai etika pun sama saja penjelasannya seperti diatas, yaitu kita sebagai manusia yang baik harus menjaga sopan dan santun kita terhadap orang lain, walaupun berbeda suku, raas, agama, dan lain sebagainya.
Dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck amanat yang dapat kita ambil ialah mengenai kesetiaan, kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa selalu mendapat ujian dari sang Maha Kuasa untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkanlah sifat rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Serta segala rintangan yang ada harus dijadikan cambuk dan pelajaran untuk terus tetap maju. Tiada kesuksesan tanpa perjuangan, pasti terjatuh, kemudian teruslah bangkit dan jangan sekali-kali memutuskan untuk menyerah. Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang harus dilalui dan dihadapi. Cinta sejati, cinta yang suci, mencintai tanpa harus memiliki. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta, tetapi bagaimana kita bisa membuat kebahagiaan itu dengan selalu menerima segala kekurangan. Dan jangan pernah mengalah karena derita cinta. Zainuddin membuktikannya dimasa lalu bahwa sesakit-sakit hatinya, semenderitanya dan terpuruknya ia, ia mampu bangkit dan bangkit lagi. Teruslah berkarya dan melihat masa depan dengan bijak. Jika tidak kuat, carilah sahabat terbaik yang mampu menemani dengan setia hingga akhir hayat. Terakhir, sebelum anda mengira novel ini sama dengan film Titanic (karena kapal tenggelam), gambaran anda sangat salah. Mungkin remaja sekarang harus membaca novel ini, karena ceritanya membuat mata lebih terbuka dan menambah motivasi dan inspirasi untuk kita semua.

Sabtu, 26 April 2014

essay

DAPATKAH SEJARAH SASTRA INDONESIA DISUSUN? APA DASARNYA? APA KRITERIANYA? APAKAH ADA SASTRA NASIONAL?

Untuk mengerjakan tugas membuat essay, saya memilih materi kelompok 3 sub bahasannya adalah Dapatkah Sejarah Sastra Indonesia Disusun? Apa Dasarnya? Apa Kriterianya? Apakah ada Sastra Nasional?. Saya memilih sub bahasan ini karena menurut  saya menarik,  saya masih penasaran tentang “Apakah ada sastra nasional?”. Dari sini saya tertarik untuk mencari tahu tentang masalah itu dan mencoba menuangkannya dalam tulisan ini.

Kalau kita bicara tentang sejarah, pasti dalam pikiran kita langsung terlintas sebuah peristiwa yang pernah terjadi. Pelajaran sejarah tidak asing lagi bagi siapa pun lulusan atau tamatan SMA/ sederajat. Akan tetapi, ilmu sejarah di Indonesia terbilang tidak populer. Usianya juga relatif masih muda kalau dihitung dari pertumbuhannya pada akhir tahun 1950-an. Padahal manfaatnya sering dikatakan penting oleh para ahli dan penguasa. Misalnya, sering terdengar slogan “jangan melupakan sejarah” dalam pidato politik. Maksudnya agar masyarakat mau belajar dari pengalaman masa lampau dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik. Namun, pada kenyataannya, menurut Kuntowijoyo (1994: 17) sejarah masih merupakan barang mewah yang sedikit peminatnya.
       Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra jawa, dan sejarah sastra Inggris. Dengan pengertian dasar itu, tampaklah bahwa objek sejarah sastra adalah segala peristiwa yang terjadi pada rentang masa pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa. (Yudiono, 2010:26)

Perhatian masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah sejarah kebudayaan, termasuk sastra, telah tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an sebagaimana terbaca dalam Polemik Kebudayaan suntingan Achdiat K. Mihardja (1997). Sehingga dalam hal ini, sejarah sastra Indonesia adalah sejarah perkembangan suatu karya sastra bangsa Indonesia dari masa ke masa.

Untuk memjawab pertanyaan Dapatkah Sejarah Sastra Indonesia Disusun? Apa Dasarnya? Apa Kriterianya? Apakah ada Sastra Nasional? Saya akan membahas beberapa hal yang dianggap membantu dalam menjawab pertanyaan tersebut. Pertama saya akan membahas tentang periodisasi sejarah sastra Indonesia, saya akan menuliskan periodisasi sejarah sastra Indonesia menurut Ajip Rosidi.
Menurt Ajip dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, warna yang menonjol pada periode awal (1900-1933) adalah persoalan adat yang sedang menghadapi akulturasi sehingga menimbulkan berbagai problem bagi kelangsungan eksistensi masing-masing, sedangkan periode 1933-1942 diwarnai pencarian tempat di tengah pertarungan kebudyaan Timur dan Barat dengan pandangan romantis-idealis.
Perubahan terjadi pada periode 1942-1945 atau masa pendudukan Jepang yang melahirkan warna pelarian, kegelisahan, dan peralihan, sedangkan warna perjuangan dan pernyataan diri dari tengah kebudayaan dunia tampak pada periode 1945-1953 dan selanjutnya warna pencarian identitas diri dan sekaligus penilaian kembali terhadap warisan leluhur tampak menonjol pada periode 1953-1961. Pada periode 1961-1968 tampak menonjol warna perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan sesudahnya tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan sastra.

Periodisasi sastra adalah pembagian sastra dalam beberapa periode atau beberapa zaman. Penggolongan suatu karya sastra ke dalam suatu periode tertentu, tentu harus didasarkan oleh ciri-ciri tertentu. Setiap periode/angkatan sastra mempunyai ciri yang berbeda. Ciri khas sastra setiap periode/angkatan merupakan gambaran dari masyarakatnya, sebab sastra merupakan hasil dari masyarakatnya. Jika masyarakat berubah, sastranya pun akan berubah. Berdasarkan pendapat itu, terjadilah penggolongan sastra atau periodisasi sastra sebagai berikut.
Sastra Indonesia Lama (sebelum Tahun 1920), kesusastraan lama adalah kesusastraan yang lahir sebelum Abdullah bin Abdul Kadir Musnyi. Kesusastraan lama lahir sekitar tahun 1500, setelah agama Islam masuk ke Indonesia sampai abad XIX. Ciri-ciri kesusastraan lama adalah bahasanya masih menggunakan bahasa baku, ceritanya masih berkisar tentang dewa-dewa, raksasa, atau dongeng yang muluk-muluk, misalnya menceritakan putri yang cantik jelita serta istana yang indah. Setelah agama Hindu dan Islam masuk ke Indonesia, baru kesusastraan ini ditulis dalam bentuk buku.
Sastra Indonesia Masa Kebangkitan (1920-1942), perkembangan bahasa dan sastra Indonesia mulai berkembang sejalan dengan gerak bangsa yang memilikinya. Pembentukan sastra Indonesia mulai tampak dengan berdirinya gerakan nasional yang dipimpin oleh Budi Utomo (1908). Dari sini timbulah sastra baru yang dipancarkan oleh masyarakat baru pula. Hasil karyanya lebih banyak sehingga lebih memungkinkan setiap orang dapat menikmati karya pengarangnya. Kebangkitan ini (1920-1942) dikelompokkan menjadi periode 1920 atau masa Balai Pustaka. Angkatan ini merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Periode 1993 (Pujangga Baru), angkatan ini muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.
Sastra Indonesia Angkatan 1945, angkatan ini muncul karena pengalaman hidup dan gejolak sosial-poliotik-budaya telah mewarnai karya sastrawan angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya angkatan pujangga baru yang romantik-idealistik.        

Selanjutnya pembahasan kedua yang membantu pertanyaan di atas yaitu tentang kritik sastra. Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang memberikan penilaian terhadap kualitas atau mutu sebuah karya sastra. Usaha kritik sastra tidak akan berhasil tanpa dilandasi oleh dasar-dasar pengetahuan tentang teori sastra. Misalnya, jika kita hendak mengadakan telaah/kritik terhadap sebuah novel, maka kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang disebut novel, unsur-unsur sejarah sastra pembentuk novel, dsb. Jadi, teori sastra merupakan sebagian modal bagi pelaksanaan kritik sastra. Sebaliknya, teori sastra pun memerlukan bahan-bahan dari kritik sastra, bahkan sebenarnya kritik sastra merupakan pangkal teori sastra. Teori tanpa data merupakan teori yang kosong. Terori sastra bisa juga berarti objek kritik sastra atau secara praksis teori sastra sering kali dipahami juga sebagai kritik sastra. Teori sastra sering diperlakukan sebagai pendekatan, sedangkan kritik sastra tidak jarang diperlakukan sebagai pendekatan.
Dalam hal ini, kritik sastra dianggap merupakan pendekatan yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan penelitian terhadap karya sastra konkret. Demikianlah, dalam banyak perbincangan, baik teori sastra maupun pendekatan atau penelitian sastra, hampir selalu ditempatkan dalam pengertian sebagai kritik sastra. Atau di bagian lain, teori sastra dikatakan juga sebagai teori kritik sastra. Jadi, pembicaraan mengenai strukturalisme atau semiotik, misalnya, dianggap sebagai bagian dari pembicaraan teori kritik sastra.

Pembahasan ketiga mengenai sastra nasional, sebelum membahas apakah ada sastra nasional? Pertama-tama saya akan menuliskan pengertiannya terlebih dahulu. Sastra nasional adalah suatu istilah yang membicarakan mengenai sastra suatu bangsa atau negara tertentu, misalnya sastra Indonesia, sastra Arab, sastra Inggris, sastra Cina, sastra Perancis, dan lain-lain. Tempat seorang sastrawan dalam konteks sastra nasional pada umumnya tidak ditentukan oleh bahasa karya sastra sang sastrawan, tetapi oleh kewarganegaraannya. Sastrawan singapura yang menulis dalam bahasa Inggris adalah sastrawan nasional Singapura, dan sastrawan India yang menulis dalam bahasa Inggris juga adalah sastrawan nasional sastra India

Dari penjelasan di atas, dapat saya simpulkan bahwa sejarah sastra Indonesia dapat disusun, alasannya karena adanya periodisasi. Dalam menyusun sejarah sastra, diperlukan penjelasan mengenai ciri-ciri sastra, yaitu ciri intrinsik dalam struktur karya sastra baik mengenai gaya bahasa, gaya cerita, alur, penokohan, dan sarana-sarana sastra (Pradopo, 2008: 11-12). Dengan mengetahui periodisasi sastra Indonesia, kita akan dengan mudah mengetahui perkembangan suatu karya sastra dari masa ke masa. Suatu karya sastra dikatakan berkembang atau tidak apabila sudah dilakukan proses penelitian terhadap karya sastra tersebut dengan cara melakukan kritik sastra. Di dalam kritik sastra kita akan menganalisis sebuah karya sastra dengan berbagai macam pendekatan, gaya bahasa, gaya cerita, alur, penokohan, dan lain sebagainya. Berbagai macam pendekatan dan gaya bahasa tersebut dapat kita peroleh dari sebuah teori sastra. Sehingga dasar dalam proses penyusunan suatu sejarah sastra adalah perlu mengetahui dan memahami mengenai teori dan kritik sastra. Sedangkan kriteria dalam menyusun sebuah karya sastra adalah dengan menilai suatu karya sastra dari zaman yang sudah lalu. Suatu karya sastra yang tumbuh dan lahir di zaman sebelum sekarang. Selain itu, kriteria lain yang perlu dipenuhi adalah melakukan penjelasan mengenai ciri-ciri sastra pada setiap periode yang merupakan ciri khusus yang membedakannya dengan ciri-ciri periode sebelumnya atau sesudahnya.

Kemudian adakah Sastra Nasional? Jawabannya adalah belum ada.                                                            
Sebelum saya menjelaskan mengapa saya menjawab belum ada, saya akan memjelaskan ciri kenasionalan negara Indonesia yaitu gotong royong, sopan santun, ramah, adil, jujur. Pemikiran ini menurut Ki Hajar Dewantara. Dahulu pernah ada karya sastra yang berjudul Bumi Manusia karya Pramodiya A.T pada sekitar tahun 1980-1982 pernah ingin diangkat menjadi sastra nasional tetapi tidak jadi karena ada pribadi yang mempunyai kepentingan. Jadi, menurut saya sastra nasional belulum ada yang memenuhi ciri kenasionalan negara Indonesia sehingga belum ada sastra nasional.