Saat semua dalam hidup ini begitu
sulit untuk dilewati sendiri kita pasti membutuhkan seseorang untuk tetap
semangat menjalaninya. Seperti aku, aku yang sedang lemah oleh keadaan, aku
yang kalah melawan diriku sendiri. Aku disini sendiri, benar-benar sendiri dan
kesepian. Mungkin aku merindukan situasi satu tahun silam, dimana aku
benar-benar merasa bahagia, karena kamu. Dulu kamu selalu mengisi hari-hariku,
semuanya terasa begitu indah. Kamu selalu melakukan hal-hal kecil untukselalu
membuatku tersenyum, mulai dari sekedar antar jemput, makan siang dan malam
bersama, menelpon dan mengirimkan pesan singkat. Aku merasa begitu dekat
denganmu, aku sangat mempercayaimu. Bahkan dari hal kecil sampai hal serius
yang aku alami aku ceritakan semuanya padamu, segala keluh kesah aku curahkan
kepadamu karena bagiku kamu adalah pendengar terbaik. Kamu tidak hanya bisa
menjadi pacar, tapi teman, keluarga, bahkan orang tua bagiku. Aku merasa nyaman
denganmu, aku merasa komunikasi kita terjalin dengan sangat baik. Tapi itu
dulu, sebelum semuanya berubah seperti sekarang. Sekarang ini aku sendiri, aku
tidak memiliki pendengar yang baik lagi seperti dirimu. Rasanya ingin aku
kembali ke masa satu tahun silam, dan enggan untuk berpisah denganmu, karena
aku ingin bersamamu selamanya. Aku sungguh mencintaimu, aku sungguh
menyayangimu, aku bahkan tidak tau sekarang harus berbuat apa. Kita sudah lama
berpisah, semuanya telah berubah. Bahkan untuk memulai menyapamu saja aku
takut, aku ragu, aku malu. Memang ini semua salahku, yang tidak mempercayaimu
dulu, yang selalu curiga terhadapmu hingga kamu pun gerah. Tapi sungguh, aku
menyesal. Caraku salah. Sekarang hanya tersisa penyesalan yang selalu aku
ratapi sendirian. Aku begitu bingung untuk memulai semuanya dari mana.
Sebenarnya aku ingin mengungkapkan isi hatiku, tapi aku takut mendengar jikalau
jawabanmu adalah kamu sudah tidak mencintaiku. Sungguh aku tak sanggup. Makanya
aku pun hanya bisa terdiam, tanpa melakukan usaha apapun, dan lebih memilih
menderita memendam rasa, daripada harus mendengar jawaban pahit terucap dari
bibirmu.
Nina Susilawati
Selasa, 15 November 2016
Karena Saya Tidak Sekuat Yang Kamu Pikir
Terkadang aku bisa melewatinya
sendiri, tetapi aku tak sekuat itu. Hari demi hari berlalu begitu cepatnya, tak
terasa dengan perpisahan kita yang telah sekian lama. Aku belajar hidup
tanpamu, belajar membiasakan semuanya baik-baik saja. Kadang aku merasa sangat
kuat, aku bisa melewati semuanya tanpa kehadiran dirimu lagi. Tapi aku hanyalah
perempuan biasa, perempuan yang pada dasarnya memiliki kodrat yang lemah.
Setelah kepergianmu aku benar-benar merasa sendiri, kesepian, tidak ada lagi
canda tawa darimu, perhatianmu, kasih sayangmu, pelukanmu yang hangat,
kecupanmu yang manis, dan segala hal tentang dirimu yang selalu menarik
perhatianku. Aku telah kehilangan semuanya, kehilangan sosok yang selama ini
benar-benar mengisi hatiku bahkan hidupku. Aku seperti tersesat, tak tau arah
tujuan, kehilangan semangat, bahkan seperti kehilangan separuh dari jiwa ini.
Aku selalu berpikir mengapa semua ini bisa terjadi, mengapa kita harus
berpisah? Aku selalu menerka-nerka apa yang salah dariku, apa yang telah
membuatmu murka hingga memutuskan untuk berpisah denganku. Aku selalu menyesali
semuanya, semua kesalahan yang pernah aku buat terhadapmu. Apa aku terlalu
egois?apa aku terlalu mengekang?apa aku terlalu cemburu?apa aku selalu
berprasangka buruk terhadapmu? Aku selalu mencoba mencari teka-teki yang
membuat hubungan kita yang tadinya manis ini menjadi begitu pahit untuk aku
terima. Padahal jika aku berpikiran realistis seharusnya aku marah, aku
membencimu, aku harus melupakanmu karena kamu telah mengkhianati cinta yang
telah kita bangun, kamu telah membukakan pintu bagi wanita lain untuk
masuk,kamu telah menduakanku dengan wanita lain. Tapi aku malah menyesali
semuanya, malah menyalahkan diriku sendiri atas apa yang telah kamu lakukan
terhadapku. Dan sampai detik ini pun aku selalu menyesali semuanya, menyalahkan
diriku sendiri atas kepergianmu.
Perasaan Kecewa Ketika Putus (Baru Di Post)
Semuanya
memang gak seperti yang aku pikirkan dan bayangkan. Semua yang udah aku
rancang, aku pikirin tentang kamu semuanya sirna. Semuanya kayak mimpi, seakan
gak percaya sama semua yang udah terjadi, semua yang kamu lakuin ke aku, semua
yang udah selesai. Kamu ninggalin aku gitu aja disaat aku masih butuh kamu,
disaat aku sayang banget sama kamu, disaat aku bener-bener ngarepin kamu jadi
yang terakhir di hidup aku. Aku udah capek, udah bener-bener lelah harus move
on lagi, belajar lagi, dapet pelajaran lagi, dapet pengalaman lagi, mulai lagi
semuanya dari awal, kenal orang baru lagi, cerita semuanya lagi. Aku gamau, aku
udah males kembali ke fase itu. Aku cuma mau kamu, merangkai semuanya sama
kamu, sama-sama. Kamu gak akan pernah tau betapa aku sayang nya sama kamu,
betapa sering aku mikirin kamu, nangisin kamu, inget kamu, berusaha buat lupain
kamu tapi aku gak bisa. Bayang-bayang kamu selalu menghantui, kenangan kita,
kebersamaan kita, suka, duka, tawa, canda, tangis, marah, kecewa. Semuanya, aku
kangen semuanya. Aku kangen kamu. Aku gak percaya kamu ninggalin aku demi
perempuan lain, selingkuhan kamu. Kenapa harus dia? Aku salah apa? Selama ini
aku selalu setia sama kamu, aku gak pernah selingkuh, gak pernah chat dan jalan
sama cowok lain. Aku selalu prioritasin kamu, selalu pengen bahagiain kamu,
selalu pengen jadi yang terbaik buat kamu. Tapi kenapa kamu tega mutusin aku?
Segitu besarnya salah aku sampe kamu gak mau maapin dan memperbaiki hubungan
kita? Aku gak nyangka, aku gak percaya kamu setega ini ke aku. Aku masih
ngerasa semuanya kayak mimpi. Aku gak percaya org yg selama ini aku sayang dan
aku percaya tega ninggalin aku demi perempuan lain yang belum tentu sayang sama
kamu.
Minggu, 18 Mei 2014
esai novel SAMAN karya Ayu Utami
SAMAN
Oleh Nina
Susilawati
Saman. Saat
mendengar kata ini pastinya sebagian orang langsung mengira bahwa novel ini
menceritakan tentang tarian yang berasal dari Padang, Sumatera Barat yaitu Tari
Saman. Padahal di dalam novel ini kata Saman yang dimaksud bukan menyangkut
tentang Tarian Saman ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Padang
maupun sejarahnya, tetapi Saman disini benar-benar berbanding terbalik sekali
dengan apa yang kita fikirkan. Saman di dalam novel ini ialah nama orang, yaitu
tokoh utama dalam novel Saman karya penulis perempuan yang bernama Ayu Utami.
Novel ini sangat menarik sekali, karena dalam novel ini terlihat jelas sekali
bahwa imajinasi Ayu Utami dalam pembuatan novel ini sangat luar biasa. Ayu
Utami menggabungkan dua dunia dalam novel ini, yaitu dunia modern yang dekat
dengan pergaulan bebas dan tidak percaya tahayul, dengan dunia mistis yang
berhubungan dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu berkomunikasi
dan menolong manusia. Dalam novel ini Ayu Utami juga mengangkat cerita dua
agama, yaitu Islam dan Katolik.
Novel ini pun menceritakan seks terlalu terbuka, sehingga
lebih menonjol cerita tentang seks dan perselingkuhannya. Cerita dalam novel
ini membuat imajinasi pembaca semakin membayangkan apa yang ada dalam cerita. Alur
cerita dalam novel ini mundur, tetapi untuk memahami cerita ini sangat sulit.
Novel ini tidak patut apabila dibaca oleh anak-anak yang masih dibawah umur, karena
cerita dalam novel ini dapat menimbulkan cara berpikir mereka menjadi lebih
dewasa sebelum waktunya. Menariknya dalam novel ini ialah menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris,
karena setting dalam cerita ini berada di New York dan di Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai novelis, Ayu Utami adalah seorang
wartawan. Ia menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan,
dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo,
Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi
Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal
kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novel Saman mendapat
penghargaan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 dan telah diterjemahkan
dalam enam bahasa asing: Belanda (de Geus), Perancis (Flammarion), Jepang
(Mokusheisha), Jepang (Horlemann), Inggris (Equinox), dan Cheks (Dybbuk). Kini
juga dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa Korea. Dalam waktu tiga tahun
Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus
Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag,
yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan
pembangunan. Dan pada akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Dilihat dari
pendekatan emotif yaitu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi
atau perasaan pembaca, saya sangat tertarik sekali setelah membaca novel ini.
Didalam novel ini saya sangat geram terhadap gambaran dari sifat tokoh-tokohnya
yang digambarkan oleh sang penulis. Dimulai dari tokoh utama yaitu Saman, saya
sangat senang dan terharu sekali atas sikap dan jiwa sosial yang terdapat dalam
diri Saman yang mempunyai nama asli Athanasius
Wisanggeni yang beragama Katolik. Ia adalah sosok
yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan
kepentingan bersama. Saman muncul sebagai orang yang membela hak-hak orang yang
tertindas.
Awal mulanya saat ia menolong gadis bernama Upi yaitu gadis yang mengalami
keterbelakangan mental yang bisa dibilang mengalami gangguan pada kejiwaannya.
Saat Upi tercebur ke sumur tak satupun masyarakat mau menolongnya, tetapi
Wisanggeni berani untuk turun ke sumur dan meolong Upi. Lalu Upi diantar pulang
oleh Wisanggeni, dan saat Wis tau bahwa Upi ternyata tinggal ditempat yang
tidak layak karena diasingkan oleh orang tuanya, ia tinggal di tempat
pemasungan yang tidak lebih baik dari kandang kambing dan ia pun dirantai
karena mengingat kelakuan Upi sangat membahayakan masyarakat sekitar dan Upi pun
adalah korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saat mengetahui itu
Wis terbuka hatinya dan ia berniat untuk membuatkan tempat pasung yang lebih
baik, lebih nyaman dan lebih besar untuk Upi. Mulia sekali hatinya. Lalu Wis
pun merasa prihatin terhadap perkebunan di Perabumulih dan membantu masyarakat
di desa itu dengan membuat pembangkit listrik dan
menanam pohon karet yang perlahan-lahan membuat perekonomian masyarakat di desa
tersebut mulai membaik. Tetapi tiba-tiba datang seseorang yang memaksa agar
mengganti lahan karet yang telah mereka impikan dengan pohon sawit. Dan saat
itulah Saman bertindak tegas membela yang lemah. Saman mengajak masyarakat agar
tidak menyerah dalam kebenaran akan hak-hak mereka.
Wisanggeni memang memiliki pribadi yang baik yang suka
menolong dan membantu orang lain, dan rela berkorban demi kebersamaan, ia pun
mantan seorang pastur yang rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang pastur
demi membantu masyarakat. Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Wis ialah saat
ia mempunyai hubungan spesial dengan Yasmin. Hubungan terlarang yang tak
seharusnya ada, karena Yasmin telah mempunyai suami. Dan Wis adalah seorang
pastur, walaupun ia telah mengundurkan diri menjadi pastur, tetapi tetap saja
itu adalah perbuatan yang tidak baik yang membuat saya selaku pembaca
benar-benar geram atas perselingkuhan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.
Lalu dari tokoh Laila, saya sangat salut sekali kepada Laila
karena ia adalah perempuan yang paling kuat mempertahankan
keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dulu Laila sempat jatuh cinta
kepada Wisanggeni yang menyebabkan adanya cinta segitiga antara Wis, Laila dan
Yasmin. Tetapi seiring berjalannya waktu Laila sudah tidak mencintai Wis lagi,
dan sekarang Laila menyukai Sihar yaitu seorang laki-laki yang sudah mempunyai
istri. Laila tak peduli dengan semua itu. Meski Sihar sudah beristri ia tak
memperdulikannya. Rasa cintanya kepada Sihar memang sangat dalam sehingga
membuat Laila ingin pergi bersama Sihar ke New York. Laila beranggapan jika ia
akan ke NewYork bersama Sihar ia tak perlu bingung memikirkan adat istiadat
seperti halnya di Indonesia, karena di New York Laila bebas melakukan semua hal
yang ia mau. Dalam tanda kutip ia bebas melakukan hubungan badan diluar
pernikahan. Laila dan Sihar berjanji akan
berkencan di New York. Namun, Sihar tidak menepati janji, karena Sihar
takut ketahuan istrinya. Dan kisah cinta mereka berdua tidak berlanjut semakin
dalam. Dan Laila menghilang sejak pertemuan yang gagal antara ia dan Sihar di
New York karena istri Sihar yang ikut menemani. Walaupun awalnya saya sangat
tidak setuju dengan keputusan Laila yang mencintai suami orang, tetapi pada
akhirnya saya ikut sedih merasakan apa yang Laila alami. Dan saya pun saat bangga
terhadap keputusan Laila yang menghindar dari Sihar, karena tidak ingin merusak
rumah tangga orang lain walaupun sebenarnya hatinya sangat hancur karena harus
merelakan orang yang sangat ia cintai bahagia bersama orang lain, dan ia harus menjalani
kehidupannya seorang diri.
Selanjutnya yaitu
tokoh Yasmin, ia adalah seorang perempuan yang berprofesi
sebagai pengacara yang selalu membela pihak yang dirugikan tanpa berharap
imbalan dan ia sudah menikah. Saya menyukai tokoh Yasmin karena ia memiliki
jiwa sosial yang baik, terlihat saat ia menolong Wis untuk pergi dari Indonesia
ke New York. Yasmin membantu penyamaran Wisanggeni dengan sangat rapih sehingga
tidak ada orang yang mengenali Wisanggeni yang merubah namanya menjadi Saman.
Tetapi yang tidak saya suka dari tokoh Yasmin ialah saat ia berselingkuh dengan
Wis dan melakukan hubungan suami istri sebelum kepergian Wis ke New York.
Suatu
ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan
ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin
membeli lahan perkebunan karet. Dan hanya Wis beserta keluarga Upi yang sangat
kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, dan
mereka melakukan berbagai macam cara dengan merobohkan pohon-pohon karet,
menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu, ternak mulai hilang satu
persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan membakar rumah para
penduduk. Wis bermaksud menyelamatkan Upi tetapi orang-orang itu menangkap
Wis dan dimasukkan ke dalam penjara. Selama di dalam penjara Wis selalu
disiksa. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak
ia lakukan. Ia terpaksa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia
adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat
Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu
hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun
setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia
selamat dari lahapan api itu. Benar-benar kejam para pembeli itu, mereka tega
melakukan hal-hal seperti itu demi kepentingan mereka sendiri. Saya sebagai
pembaca ikut sedih dan marah atas perbuatan para pembeli itu yang tidak
mempunyai hati nurani sama sekali.
Jika dilihat dari sisi sosial
masyarakatnya, pada zaman tersebut keadaan lingkungan serta masyarakatnya
sangat kental sekali. Karena dalam novel ini menceritakan tentang keadaan suatu
masyarakat dan lingkungan yang memiliki konflik yang cukup menarik yaitu saat
perkebunan karet yang akan dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan
kelapa sawit yang mendapat penolakan dari warga-warga desa tersebut. Warga
bersikukuh mempertahankan perkebunan yang telah mereka rintis sejak lama, tetapi
karena keegoisan para pembeli demi kepentingan pribadi mereka, mereka tega
melakukan apa saja. Mereka merobohkan
pohon-pohon karet, menghanguskan tanggul yang tersisa, meneror dusun itu,
ternak mulai hilang satu persatu, merusak rumah kincir, memperkosa Upi, dan
membakar rumah para penduduk. Sungguh kejam sekali keadaan pada saat itu. Lalu
penulis pun ingin memberitahu bahwa pada jaman itu memang telah ada
pergaulan-pergaulan yang menyimpang seperti perselingkuhan yang terjadi yang
digambarkan melalui tokoh-tokohnya dan seks yang bebas yang dilakukan oleh
tokoh-tokoh dalam novel Saman ini. Dan apabila dilihat dari sisi psikologisnya
terlihat dari tokoh Saman yang awalnya berusaha sekuat tenaga membantu warga
mempertahankan perkebunan karet, tetapi ia malah ditangkap dan dipenjara serta
di tuduh yang bukan-bukan. Saat dipenjara ia merasa lemah dan kecewa
sampai-sampai ia tidak percaya lagi akan adanya Tuhan, karena selama dipenjara
ia selalu disiksa dan ia pun merasa bersalah atas kematian Upi karena kejadian
tersebut.
Amanat dari novel ini ialah janganlah kita membiarkan nafsu menjadi raja yang menguasai
diri kita dalam pergaulan. Seharusnya sebagai wanita yang sudah mempunyai suami
tidak selayaknya melakukan hubungan yang terlarang dengan orang selain suaminya
sendiri, dan sebaliknya pula suami tidak boleh melakukan hubungan terlarang
dengan wanita lain. Jagalah keperawananmu sampai menjadi halal, jangan
menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum resmi menjadi suami kita. Berjiwa
sosial sangat perlu dan penting untuk saling membantu sesama manusia yang
membutuhkan. Dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dengan
menyiksa dan membunuh orang lain demi kepentingan pribadi. Janganlah merebut
sesuatu yang bukan menjadi hak kita.
Minggu, 11 Mei 2014
Peristiwa Banten Selatan
Oleh Nina
Susilawati
Ketika mendengar
kata Selatan, sebagian orang berfikir ada hubungannya dengan Nyi Roro Kidul,
karena mendengar kata Selatan yang identik dengan Pantai Selatan. Padahal dalam
tulisan ini saya tidak membicarakan Nyi Roro Kidul si Ratu Pantai Selatan,
karena disini saya akan membahas tentang peristiwa yang pernah terjadi di
daerah Banten Selatan. Banten adalah sebuah pulau yang masih berada di
sekitaran Jawa Barat. Daerah yang kecil tetapi memiliki berbagai macam kekayaan
sumber daya alam yang berlimpah serta panorama keindahan yang sangat
menakjubkan. Daerah Banten Selatan terkenal dengan Pantai Sawarna-nya yang
berada di desa Bayah. Pemandangan pantainya sangat indah sekali, terdapat
banyak batu-batu karang yang menjulang seperti tebing yang bisa dijadikan objek
fotografi, maka tak heran Pantai Sawarna dijadikan objek wisata untuk para
wisatawan yang ingin berkujung melihat keindahan pantai tersebut. Ibukota
Banten ialah Serang. Banten memang tidak terlalu dikenal, tapi bagi sebagian
orang yang mengetahui Banten, mereka beranggapan bahwa orang-orang Banten
identik dengan orang-orang yang berilmu hitam dan beragama kuat. Padahal orang
Banten tidak seperti itu, mungkin sebagian masyarakat menafsirkan seperti itu
karena Banten terkenal dengan kota santri, yang mana banyak sekali kita bisa temui
pesantren-pesantren di daerah Banten yang lebih banyak bertempat di daerah
Pandeglang. Orang-orang Banten pun dikenal sangat kuat dan hebat, karena orang
Banten bisa melakukan atraksi debus, yaitu atraksi-atraksi yang mengerikan
seperti memotong tangan atau leher dengan menggunakan benda tajam seperti
golok, menginjak pecahan beling tanpa alas kaki, serta meniup api dengan
menggunakan minyak tanah yang berada di mulut, yang menurut sebagian orang itu
adalah hal yang ekstrim dan sangat mengerikan sekali yang membuat kita sebagai
penonton merinding dan ketakutan apabila menyaksikannya.
Disini saya akan
sekilas mengulas tentang cerita dari novel Sekali
Peristiwa di Banten Selatan karangan Pramoedya Ananta Toer. Novel ini
menceritakan tentang tokoh yang bernama Juragan Musa
yang datang menemui Ranta dan menawari pekerjaan untuk mengambil bibit karet
dan menjanjikan kepada Ranta akan memberinya upah, kemudian Juragan Musa
merogoh kantongnya dan memberikan uang seringgit kepada Ranta. Ranta ingin
menolak tapi Juragan Musa memaksa bahkan mengancamnya. Mau tak mau Ranta
menjalankan perintah Juragan Musa. Sebelum pergi Juragan Musa berpesan pada Ranta “Kalau ada
apa-apa, jangan sebut namaku, mengerti?. Sebenarnya Ranta disuruh untuk
mencuri, tapi karena Juragan Musa licik, hal itu tidak diketahui oleh Ranta. Ternyata
Juragan Musa menipu dirinya. Juragan Musa
menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi
ketika Ranta menanyakan upah, Ranta malah dipukul menggunakan rotan, di rampas
pikulan dan goloknya. Di hari selanjutnya, Juragan Musa datang kembali pada
Ranta, dengan nada marah Juragan Musa terus memanggil Ranta. Tapi pada saat
itu, tekanan psikologis dalam diri Ranta membuat ia berontak dan melawan
Juragan Musa. Juragan Musa kabur ketakutan dan ia menjatuhkan serta meninggalkan
aktentas atau tas dan tongkatnya jatuh ke tanah. Dalam tas tersebut, rupanya
terdapat arsip penting laporan kegiatan Juragan Musa dengan DI.
Di
rumahnya, Juragan Musa marah terhadap Nyonya istrinya dan bertengkar. Saat
pertengkaran terjadi, anak buah Juragan Musa yang akan dikirim untuk menghabisi
Ranta datang dan melaporkan bahwa melihat Ranta membawa sebuah tas. Dalam
percakapan tersebut, istri Juragan Musa mendengar bahwa Juragan Musa mengaku
sebagai pimpinan wilayah DI. Istrinya terkejut dan marah sebab orang tuanya adalah
korban DI. Pertengkaran itu membuat Juragan Musa membeberkan bahwa ia memang
pemimpin wilayah dalam organisasi DI. Di luar, sebenarnya pasukan militer
beserta Komandan sudah mengepung rumah Juragan Musa setelah mendapat laporan
dari Ranta. Karena mereka mendengar langsung pengakuan Juragan Musa bahwa dia
adalah benar-benar anggota DI, akhirnya gerombolan DI ditangkap. Ranta diangkat
sebagai Lurah sementara untuk menggantikan Lurah Juragan Musa yang ditangkap. Sejak
saat itu Ranta dan Istrinya Ireng serta Nyonya istri Juragan Musa tinggal di
rumah Juragan Musa. Selanjutnya Komandan datang menemui Ranta, dalam hal itu
mereka membicarakan tentang mempertahankan keamanan daerah, dan Ranta memberi
saran pada Komandan untuk mempersatukan rakyat, dan melawan musuh bersama-sama
dengan bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan dan ranjau-ranjau yang akan
dilalui oleh gerombolan.
Berbicara
mengenai pendekatan dalam apresiasi sastra, saya akan mencoba membahas novel
yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten
Selatan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dilihat dari pendekatan
historisnya yaitu tentang biografi pengarang, sosok Pramoedya Ananta Toer ialah
sosok sastrawan yang tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang menghabiskan
hampir seluruh hidupnya di penjara dan kebanyakan dari novelnya tersebut
dilarang pada saat masa Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925
di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di
masa Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober
1965-Juli 1969), pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau
Buru pada Agustus 1969-12 November 1979, Magelang pada November-Desember 1979
tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer
mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam
G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara,
sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu
selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di
antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia,
Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penjara tak
membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya menulis adalah tugas
pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh.
Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Dari tangannya yang dingin telah
lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa
asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta
Toer dianugerahi pelbagai penghargaan Internasional, di antaranya The PEN
Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka
Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan
penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari
Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia
adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam
daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
Latar
belakang novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ialah merupakan hasil `reportase` singkat kunjungan
Pramoedya Ananta Toer beberapa
waktu lamanya pada akhir 1957 di
wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan.
Tanah yang subur tetapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya, lumpuh
daya kerjanya. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang
semakin membuat mereka miskin. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum
pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Beberapa
orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pramoedya
Ananta Toer temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah
ini, yang ikut dengan sukaduka dalam perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak
pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami dan
mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorang lagi bekas mandor
yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang emas
Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang
kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor. Penindasan yang
dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten
Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh
DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan
bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan
yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya mengantarkan masyarakat pada
kehidupan yang lebih baik.
Selanjutnya
dilihat dari pendekatan sosiopsikologis novel ini sangat erat sekali
hubungannya. Karena didalam novel ini menceritakan tentang suatu keadaan yang
terjadi di masyarakat. Tentang bagaimana kehidupan masyarakat di suatu daerah
yaitu di daerah Banten Selatan yang di dalamnya terdapat penindasan Darul Islam
yg brutal, tak berbelas kasihan, yaitu merampok, menjarah, menindas yang lemah,
dan selalu membuat rusuh terhadap rakyat-rakyat kecil dan miskin yang
diperlakukan semena-mena, yang disuruh untuk mencuri tetapi malah diberi upah
dengan cara dipukul menggunakan rotan yang dialami oleh tokoh Ranta. Tokoh Juragan
Musa digambarkan sebagai orang yang angkuh, tamak dan licik. Juragan Musa
senantiasa berlaku menindas yang lemah, salah satunya yaitu memaksa Ranta menjadi
maling. Tak hanya Ranta, beberapa warga desa juga menjadi korban si Juragan
Musa. Tapi pada akhirnya Ranta diangkat menjadi Lurah di desanya karena
berhasil membongkar identitas Juragan Musa sebagai petinggi DI kepada militer
setempat. Akhirnya, Juragan Musa ditangkap. Dalam novel ini menanamkan nilai gotongroyong. Betapa
hebatnya nilai dari sebuah persatuan, kerjasama dan tolong menolong.
Bahwa kemiskinan, kesengsaraan, penindasan, dan kesewenang-wenangan bisa
dilawan oleh senjata yang ampuh yaitu persatuan. Pramoedya Ananta Toer mencoba
menumbuhkan sebuah rasa keteguhan,
keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan
hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang
diistilahkan sebagai gotong-royong.
Dilihat
dari sisi psikologisnya, sangat terlihat jelas sekali dari tokoh Nyonya, yaitu
istri Juragan Musa. Ia merasa sangat tersiksa dan sedih sekali atas perlakuan
suaminya yang memperlakuan ia dengan sangat kasar, padahal suaminya berjanji
akan bersikap manis terhadap dirinya. Selanjutnya saat mengetahui suaminya
adalah seorang pembesar DI ia mencoba tetap kuat dan menerima kenyataan yang
ada, dan tetap mencintai suaminya, menerima keadaan suaminya walaupun ia harus
menanggung malu. Ia merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri, ia sangat
kecewa karena orang tuanya meninggal karena DI dan ia sangat kaget sekali saat
tau bahwa suaminya sendiri adalah pembesar DI. Lalu dari tokoh Ranta yang sabar
dan tetap menahan amarahnya sampai emosinya memuncak karena ia merasa telah
diinjak-injak harga dirinya serta ditipu dan disuruh menjadi maling tetapi
tidak diberi upah, malah ia dipukul menggunakan rotan lalu ia geram dan tidak
tahan, akhirnya ia berhasil membongkar kedok Juragan Musa bahwa ia adalah
seorang pembesar DI.
Melalui
pendekatan didaktis yaitu pendekatan yang merujuk pada nilai-nilai moral,
agama, serta etikanya novel ini juga dapat dianalisis yaitu dilihat dari nilai
moralnya sosok Juragan Musa ialah sosok yang tidak bermoral dan tidak
berkeprimanusiaan karena ia tega menyuruh tokoh Ranta untuk mencuri bibit karet
dan sebagai upahnya ia malah memukul Ranta dengan menggunakan rotan. Tidak
hanya tokoh Ranta, tetapi masyarakat yang lain pun pernah mengalami hal yang
sama seperti tokoh Ranta. Istrinya pun diperlakukan sangat kasar oleh dirinya,
padahal ia adalah seorang pemimpin tidak seharusnya pemimpin mempunyai sifat
dan sikap tidak bermoral seperti itu. Selanjutnya dilihat dari nilai agama,
Juragan Musa ialah seorang pembesar DI, yaitu menganut ajaran agama tetapi
tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam. Karena dalam Islam tidak diajarkan
untuk menipu, menyiksa, dan berbuat dzalim kepada orang lain.
Minggu, 27 April 2014
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Oleh Nina Susilawati
Novel Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck adalah
sebuah novel sastra yang di terbitkan tahun 1939 yang ditulis oleh seorang
sastrawan sekaligus budayawan Indonesia yaitu Haji Abdul Malik
Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama
Hamka (Buya Hamka). Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck termasuk ke dalam novel sastra (novel
serius) karena mengandung nilai estetika atau nilai keindahan, dan juga masih
menggunakan bahasa yang baku serta kata-kata kiasan dengan menggunakan bahasa
Melayu. Novel ini menggunakan bahasa sastra yang indah sekali yang tidak
terlalu sulit untuk dipahami oleh pembacanya, novel ini lebih merujuk pada adat
istiadat dan membahas tentang suku Minangkabau dan suku Bugis. Novel ini menceritakan
tentang kisah kehidupan yang penuh dengan perjuangan, kisah cinta yang murni, keterpurukan,
kebangkitan, kesuksesan, cinta sejati, cinta yang tulus dan suci, serta adat
istiadat yang sangat kuat dan kental sekali. Di dalam novel ini diceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang dipisahkan
karena tradisi adat istiadat yang sangat kuat yaitu Budaya Minangkabau (Padang)
dan Budaya Bugis (Makassar). Mengisahkan persoalan adat
pada tahun 1930-an yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi
hubungan cinta sepasang kekasih sehingga berakhir dengan kematian. Zainuddin
adalah seorang anak yatim piatu, Ayahnya bersuku Minangkabau asli yang diasingkan
dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seorang kerabat yang disebabkan
karena masalah warisan. Sedangkan Ibu Zainuddin bersuku Bugis (orang Makassar),
yang meninggal sebelum Ayah Zainuddin.
Pada
awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan teman ayahnya sekaligus
pengasuhnya yaitu Mak Base. Saat tumbuh remaja Zainuddin memutuskan untuk berlayar
menuju kampung halaman Ayahnya di Batipuh. Zainuddin berharap hijrahnya ia ke Batipuh dapat diterima oleh
keluarga Ayahnya, tetapi sesampai disana harapannya itu sia-sia karena ia tidak
diakui oleh keluarganya yang menganggap bukan keturunannya karena ia merupakan
anak campuran Minang dan Bugis. Disana, ia bertemu dengan Hayati, seorang
perempuan Minang yang cantik keturunan bangsawan. Karena Zainuddin adalah
campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang diterimanya,
baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat
pada saat itu. Zainuddin sering menceritakan kesedihan hatinya pada Hayati
lewat surat hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Kabar kedekatan mereka
tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan masyarakat. Karena keluarga Hayati
merupakan keluarga terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluarganya, adat
istiadat mengatakan Zainuddin bukanlah orang Minangkabau, Ibunya berasal dari
Makassar. Kemudian Mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh. Zainuddin
pindah ke Padang Panjang (berjarak sekitar 10 km dari Batipuh) dengan berat
hati sesuai permintaan mamak Hayati. Namun sebelum berpisah, Hayati dan Zainuddin
berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati
datang ke Padang Panjang untuk melihat acara pacuan kuda. Ia menginap di rumah
temannya bernama Khadijah. Suatu peluang untuk melepas rasa rindu dan bertemu pun
terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak
ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati. Dikemudian hari, Zainuddin mendapat
surat dari Makassar bahwa Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta
kepada Zainuddin. Zainuddin berniat
melamar Hayati, ia mengirim surat lamaran kepada keluarga Hayati di
Batipuh tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, tetapi lamaran Zainuddin ditolak oleh
keluarga Hayati. Ternyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Hayati
dipaksa menikah dengan Aziz, laki-laki kaya terpandang yang juga keturunan
Minang yang lebih disukai keluarga Hayati dibandingkan dengan Zainuddin.
Meskipun pertunangan tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, namun
sebenarnya cinta Hayati hanya untuk Zainuddin. Setelah penolakan dari Hayati
dan setelah pernikahan itu dilangsungkan, Zainuddin pun jatuh sakit selama dua
bulan.
Atas
bantuan dan nasehat dari Muluk yaitu sahabat Zainuddin, akhirnya Zainuddin
berangsur-angsur membaik keadaannya. Zainuddin memutuskan untuk berjuang, pergi
dari tanah Minang dan merantau ke tanah Jawa demi bangkit melawan keterpurukan cintanya. Zainuddin
bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke
Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Dengan nama
samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai
pembacanya yang dikenal sebagai hartawan yang dermawan. la mendirikan
perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi lebih baik
sebagai orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di
Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku. Sampai akhirnya ia menjadi
penulis terkenal dengan karya-karya masyhur dan diterima oleh masyarakat
seluruh Nusantara serta hidupnya serba berkecukupan. Tetapi sebuah peristiwa
tak diduga kembali menghampiri Zainuddin. Di tengah gelimang harta dan
kemasyhurannya, dalam sebuah pertunjukan opera, Zainuddin kembali bertemu Hayati yang datang bersama Aziz suaminya. Ternyata Aziz dan Hayati juga pindah
ke Surabaya karena pekerjaan Aziz. Semakin hari semakin lama rumah tangga
Hayati dan Aziz diliputi berbagai macam masalah. Aziz yang suka berjudi,
mabuk-mabukan dan main perempuan membuat kehidupan perekonomian mereka semakin
memprihatinkan dan terlilit banyak hutang, ditambah lagi Aziz dipecat dari
pekerjaannya. Mereka diusir dari kontrakan dan mereka terpaksa menumpang di
rumah Zainuddin. Di balik kebaikan Zainuddin itu, sebenarnya dia masih sakit
hati terhadap Hayati yang dulu pernah ingkar janji dan mengkhianati cintanya. Karena
tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, setelah sebulan tinggal
dirumah Zainuddin, Aziz pergi ke Banyuwangi mencari pekerjaan dan meninggalkan
istrinya bersama Zainuddin. Saat Aziz meninggalkan rumah Zainuddin tersebut,
Zainuddin sendiri jarang pulang kerumahnya, kecuali untuk tidur. Beberapa hari
kemudian, datang dua surat dari Aziz, yang pertama berisi surat perceraian
untuk Hayati, yang kedua berisi surat permintaan maaf dan permintaan agar
Zainuddin mau menerima Hayati kembali. Dan kemudian datang pula berita dari
sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah
hotel di Banyuwangi. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh
Hayati pulang ke kampung halamannya. Hayati pulang ke kampung halamannya dengan
menaiki kapal Van der Wijck. Setelah Hayati pergi, barulah
Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah
membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah
kematianku di dalam mengenang engkau.” Karena itulah setelah keberangkatan
Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan istrinya. Saat sedang
bersiap-siap, terdengar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Seketika itu
Zainuddin langsung syok, dan langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk
mencari Hayati. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta. Di
sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang
terbaring lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah hari
terakhir pertemuan mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin,
Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin. Sejak saat itu, Zainuddin sering
sekali mengurung diri dikamarnya dan melamun menyesali perbuatannya. Dan tanpa
disadari siapapun Zainuddin meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal
karena sakit. Lalu ia di makamkan bersebelahan dengan makam Hayati.
Dari cerita diatas, saya mencoba menganalisis novel
tersebut melalui beberapa pendekatan. Jika dilihat dari pendekatan historis,
yaitu tentang biografi pengarangnya sendiri sosok Buya Hamka ialah merupakan seorang ulama asal Minangkabau yang dibesarkan dalam kalangan keluarga yang taat
beragama. Ia memandang tradisi yang ada dalam masyarakat di sekitarnya sebagai
penghambat kemajuan agama, sebagaimana pandangan ayahnya, Abdul Karim Amrullah. Setelah melakukan perjalanan ke Jawa dan Mekkah sejak berusia 16 tahun untuk menimba ilmu, ia bekerja
sebagai guru agama di Deli, Sumatera
Utara, lalu di Makassar, Sulawesi
Selatan. Dalam perjalanannya ini,
terutama saat di Timur Tengah,
Hamka banyak membaca karya dari ahli dan penulis Islam, termasuk karya penulis
asal Mesir Mustafa Lutfi al-Manfaluti hingga karya sastrawan Eropa yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab. Pada
tahun 1935, Hamka meninggalkan Makassar untuk pergi ke Medan. Di kota itu, ia menerima permintaan untuk menjadi pemimpin
redaksi majalah Pedoman Masjarakat, yang dalam majalah ini untuk
pertama kalinya nama pena Hamka diperkenalkan. Di sela-sela kesibukannya, Hamka
menulis Van der Wijck; karya yang diilhami sebagian dari
tenggelamnya suatu kapal pada tahun 1936.
Dilihat
dari latar belakang peristiwa sejarahnya, memang benar pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara
Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal Belanda Van Der Wijck tenggelam. Kapal
mewah yang dibuat di galangan kapal Maatschappij Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 merupakan kapal
milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam dengan berat tonase 2.596 ton dan lebar kapal 13,5 meter.
Kapal ini mendapat nama panggilan “de meeuw” atau “The Seagull”, karena sosok
dan penampilan kapal ini yang tampak sangat anggun dan tenang. Kapal yang memuat penumpang dari Surabaya yang di dalam
kapal tersebut banyak sekali penumpang dari Indonesia dan juga Negara lain
seperti Belanda, Eropa, dan lain sebagainya. Kapal yang tenggelam tersebut
banyak sekali memakan korban jiwa, salah satunya ialah Hayati tokoh yang ada
dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atas
jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal dan
penumpang dapat diselamatkan. Pemerintah Hindia-Belanda mendirikan
monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten
Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang
peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan. Kapal
Van Der Wijk adalah kapal uap milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij
(KPM) yang saat ini merupakan cikal bakal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).
Pada saat itu kapal itu melayani route pelayaran di kawasan perairan di Hindia
Belanda. Saat pelayarannya yang terakhir, kapal Van Der Wijck berangkat dari
Bali ke Semarang dengan singgah terlebih dahulu di Surabaya. Kapal Van Der Wijck
pada hari selasa tanggal 20 Oktober 1936 tenggelam ketika berlayar
di perairan Lamongan, tepatnya 12 mil dari pantai Brondong. Jumlah penumpang
pada saat itu adalah 187 warga Pribumi dan 39 warga Eropa. Sedangkan jumlah
awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis,
seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi. Menurut Wikipedia, musibah tenggelamnya
kapal ini mengakibatkan 4 korban meninggal dunia dan 49 orang hilang
ditelan ombak laut. Sedangkan menurut Theshiplist.com mengabarkan
ada korban 58 orang yang meninggal. Koran De Telegraaf, 22 Oktober
1936, menulis 42 orang korban yang hilang. Jumlah yang tidak pasti ini
dikarenakan jumlah penumpang kapal tidak sesuai dengan manifest. Ada banyak
kuli angkut pribumi yang tidak tercatat, kemungkinan merekalah yang banyak
hilang. Van Der Wijck itu sendiri adalah nama seorang Gubernur Jenderal
Hindia Belanda yang diangkat Ratu Emma van Waldeck-Pymont pada tanggal 15 Juni
1893. Ia mulai memerintah tahun 17 Oktober 1893 sampai 3 Oktober 1899. Nama
panjangnya adalah Carel Herman Aart van der Wijk. Monumen Van Der Wijk ini
berada di halaman kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong, yang
berada di belakang gapura menuju Pelabuhan dan Tempat PeIelangan Ikan-Brondong.
Selain
dapat dilihat dan dianalisis melalui pendekatan historis, novel ini pun dapat
dianalisis menggunakan pendekatan sosiopsikologis. Karena sangat terlihat
sekali dalam ceritanya bahwa kehidupan sosial budaya masyarakat pada masa itu
benar-benar digambarkan. Bahwa adanya diskriminasi yang dilakukan oleh suatu
adat dan kaum tertentu dalam lingkup masyarakat, yang di latarbelakangi oleh
garis keturunan. Kejamnya adat yang membuat cinta menjadi terpisah dan
terhalang. Masa dimana suatu suku benar-benar memegang teguh adat istiadat dan
tradisi dari leluhurnya. Terlihat dari tokoh Zainuddin yang merupakan keturunan
campuran karena Ayahnya suku Minang dan Ibunya suku Bugis tidak diperbolehkan
untuk mempersunting anak perawan keturunan bangsawan yang asli keturunan
Minang. Selain itu, status sosial terlihat jelas, karena keluarga Hayati
menganggap Zainuddin bukan orang yang berada, dia hanya orang asing yang
hidupnya melarat, yang tidak akan pernah bisa membahagiakan kehidupan Hayati. Sang penulis Buya Hamka juga
beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan
dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat. Cinta yang dirasakan
Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang
sangat kuat. Dalam novel ini, Hamka sebagai pengarangnya juga mengkritik
beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai
kawin paksa. Bagaimana
budaya yang dulunya populer “kawin paksa” yang diwakili oleh cerita Sitti
Nurbaya kembali diingatkan tentang budaya itu lewat novel ini. Sungguh
ceritanya masih ada yang seperti ini meski dijaman modern seperti sekarang ini. Terlihat
saat Hayati dipaksa untuk menikah dengan Aziz yang merupakan keluarga
terpandang dan juga keturunan Minang asli.
Psikologis
yang dialami oleh Hayati dan Zainuddin benar-benar menyiksa fisik dan batin
mereka. Terlihat saat Zainuddin mendapat penolakan dari keluarga Hayati atas
lamarannya, dan juga orang yang sangat dicintainya yaitu Hayati menikah dengan
Aziz yang ia ketahui dari Muluk bahwa Aziz adalah seorang yang tidak bermoral,
maka Zainuddin benar-benar tidak ikhlas merelakan Hayati menikah dengan Aziz. Dari
situlah Zainuddin jatuh sakit selama dua bulan, dia hanya memikirkan Hayati
pujaan hatinya, dia sudah hampir mau mati, karena tersiksa batinnya yang sangat
mendalam. Begitupun dengan Hayati, ia harus menikah dengan orang yang tidak ia
cintai. Ia mengorbankan perasaannya demi keluarganya. Sekian lama ia menikah
dengan Aziz yang awal mulanya baik dan sangat menyayanginya, lama-kelamaan ia harus
menguatkan batinnya karena suaminya sering bermain dengan perempuan lain dan
sudah tidak lagi mencintai dirinya. Terlihat juga pada saat Hayati dan
Zainuddin tinggal serumah, mereka berdua benar-benar menahan perasaan mereka
masing-masing, karena mereka berdua sadar Hayati telah memiliki suami, dan
Zainuddin pun menghargai Aziz sebagai sahabatnya, walaupun dahulu Aziz telah
merebut Hayati dari dirinya.
Dilihat
dari pendekatan emotif yaitu mengenai perasaan pembaca, perasaan saya sebagai
pembaca ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh tokoh Hayati dan tokoh
Zainuddin tersebut. Karena setelah saya membaca novel ini, saya benar-benar
merasakan bagaimana ketulusan cinta mereka, perjuangan mereka, kesedihan
mereka, kekuatan fisik serta batin mereka dalam menghadapi segala macam
rintangan untuk kebersamaan mereka yang berujung pada kematian. Tetapi mereka
tetap saling mencintai walaupun telah tersakiti dan menyakiti. Selanjutnya
dilihat dari pendekatan didaktis, yaitu mengenai nilai moralitas, nilai agama serta
nilai etikanya, dalam novel ini juga terdapat dan bisa di analisis. Karena
dalam cerita ini, nilai moralnya terlihat dari keluarga Hayati yang memberikan
penolakan mentah-mentah terhadap Zainuddin yang berniat baik untuk meminang
Hayati. Keluarga Hayati menganggap bahwa orang melarat tidak boleh menikahi
keluarga bangsawan. Perlakuan ini benar-benar tidak bermoral, mereka hanya
memandang orang hanya dari status sosial dan kekayaan saja. Jika dilihat dari
nilai agama, ada juga hubungannya seperti yang tadi dijelaskan oleh penulis
sendiri yaitu Buya Hamka beranggapan
bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam
ataupun akal budi yang sehat, jadi masyarakat pada masa itu benar-benar
mengabaikan ajaran-ajaran Islam yaitu menghargai dan menghormati setiap niat
baik seseorang. Seharusnya keluarga Hayati memberikan kesempatan, karena setiap
manusia berhak mendapatkan kesempatan yang selalu diajarkan dalam Islam untuk
selalu berbuat baik kepada siapapun. Selanjutnya mengenai nilai etika pun sama
saja penjelasannya seperti diatas, yaitu kita sebagai manusia yang baik harus
menjaga sopan dan santun kita terhadap orang lain, walaupun berbeda suku, raas,
agama, dan lain sebagainya.
Dari novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
amanat yang dapat kita ambil ialah mengenai kesetiaan,
kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa selalu mendapat ujian dari sang Maha
Kuasa untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkanlah
sifat rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Serta segala rintangan yang
ada harus dijadikan cambuk dan pelajaran untuk terus tetap maju. Tiada
kesuksesan tanpa perjuangan, pasti terjatuh, kemudian teruslah bangkit dan
jangan sekali-kali memutuskan untuk menyerah. Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang harus
dilalui dan dihadapi. Cinta sejati, cinta yang suci, mencintai tanpa harus
memiliki. Kebahagiaan tidak
bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta, tetapi bagaimana kita bisa membuat
kebahagiaan itu dengan selalu menerima segala kekurangan. Dan jangan pernah
mengalah karena derita cinta. Zainuddin membuktikannya dimasa lalu bahwa sesakit-sakit
hatinya, semenderitanya dan terpuruknya ia, ia mampu bangkit dan bangkit lagi.
Teruslah berkarya dan melihat masa depan dengan bijak. Jika tidak kuat, carilah
sahabat terbaik yang mampu menemani dengan setia hingga akhir hayat. Terakhir, sebelum anda mengira novel ini sama dengan
film Titanic (karena kapal tenggelam), gambaran anda sangat salah. Mungkin
remaja sekarang harus membaca novel ini, karena ceritanya membuat mata lebih
terbuka dan menambah motivasi dan inspirasi untuk kita semua.
Sabtu, 26 April 2014
essay
DAPATKAH
SEJARAH SASTRA INDONESIA DISUSUN? APA DASARNYA? APA KRITERIANYA? APAKAH ADA
SASTRA NASIONAL?
Untuk mengerjakan tugas
membuat essay, saya memilih materi kelompok 3 sub bahasannya adalah Dapatkah Sejarah Sastra Indonesia Disusun?
Apa Dasarnya? Apa Kriterianya? Apakah ada Sastra Nasional?. Saya memilih
sub bahasan ini karena menurut saya
menarik, saya masih penasaran tentang
“Apakah ada sastra nasional?”. Dari sini saya tertarik untuk mencari tahu
tentang masalah itu dan mencoba menuangkannya dalam tulisan ini.
Kalau kita bicara
tentang sejarah, pasti dalam pikiran kita langsung terlintas sebuah peristiwa
yang pernah terjadi. Pelajaran sejarah tidak asing lagi bagi siapa pun lulusan
atau tamatan SMA/ sederajat. Akan tetapi, ilmu sejarah di Indonesia terbilang
tidak populer. Usianya juga relatif masih muda kalau dihitung dari
pertumbuhannya pada akhir tahun 1950-an. Padahal manfaatnya sering dikatakan
penting oleh para ahli dan penguasa. Misalnya, sering terdengar slogan “jangan
melupakan sejarah” dalam pidato politik. Maksudnya agar masyarakat mau belajar
dari pengalaman masa lampau dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih
baik. Namun, pada kenyataannya, menurut Kuntowijoyo (1994: 17) sejarah masih
merupakan barang mewah yang sedikit peminatnya.
Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari pertumbuhan
dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia,
sejarah sastra jawa, dan sejarah sastra Inggris. Dengan pengertian dasar itu,
tampaklah bahwa objek sejarah sastra adalah segala peristiwa yang terjadi pada
rentang masa pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa. (Yudiono, 2010:26)
Perhatian
masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah sejarah kebudayaan, termasuk
sastra, telah tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an sebagaimana terbaca
dalam Polemik Kebudayaan suntingan
Achdiat K. Mihardja (1997). Sehingga
dalam hal ini, sejarah sastra Indonesia adalah sejarah perkembangan suatu karya
sastra bangsa Indonesia dari masa ke masa.
Untuk memjawab
pertanyaan Dapatkah Sejarah Sastra
Indonesia Disusun? Apa Dasarnya? Apa Kriterianya? Apakah ada Sastra Nasional? Saya akan membahas
beberapa hal yang dianggap membantu dalam menjawab pertanyaan tersebut. Pertama
saya akan membahas tentang periodisasi sejarah sastra Indonesia, saya akan
menuliskan periodisasi sejarah sastra Indonesia menurut Ajip Rosidi.
Menurt Ajip dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, warna yang
menonjol pada periode awal (1900-1933) adalah persoalan adat yang sedang menghadapi
akulturasi sehingga menimbulkan berbagai problem bagi kelangsungan eksistensi
masing-masing, sedangkan periode 1933-1942 diwarnai pencarian tempat di tengah
pertarungan kebudyaan Timur dan Barat dengan pandangan romantis-idealis.
Perubahan terjadi pada periode 1942-1945
atau masa pendudukan Jepang yang melahirkan warna pelarian, kegelisahan, dan
peralihan, sedangkan warna perjuangan dan pernyataan diri dari tengah
kebudayaan dunia tampak pada periode 1945-1953 dan selanjutnya warna pencarian
identitas diri dan sekaligus penilaian kembali terhadap warisan leluhur tampak
menonjol pada periode 1953-1961. Pada periode 1961-1968 tampak menonjol warna
perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan sesudahnya tampak
warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan sastra.
Periodisasi sastra adalah pembagian sastra dalam beberapa
periode atau beberapa zaman. Penggolongan suatu karya sastra ke dalam suatu
periode tertentu, tentu harus didasarkan oleh ciri-ciri tertentu. Setiap periode/angkatan
sastra mempunyai ciri yang berbeda. Ciri khas sastra setiap periode/angkatan
merupakan gambaran dari masyarakatnya, sebab sastra merupakan hasil dari
masyarakatnya. Jika masyarakat berubah, sastranya pun akan berubah. Berdasarkan
pendapat itu, terjadilah penggolongan sastra atau periodisasi sastra sebagai
berikut.
Sastra Indonesia Lama (sebelum Tahun 1920), kesusastraan
lama adalah kesusastraan yang lahir sebelum Abdullah bin Abdul Kadir Musnyi. Kesusastraan
lama lahir sekitar tahun 1500, setelah agama Islam masuk ke Indonesia sampai
abad XIX. Ciri-ciri kesusastraan lama adalah bahasanya masih menggunakan bahasa
baku, ceritanya masih berkisar tentang dewa-dewa, raksasa, atau dongeng yang
muluk-muluk, misalnya menceritakan putri yang cantik jelita serta istana yang
indah. Setelah agama Hindu dan Islam masuk ke Indonesia, baru kesusastraan ini
ditulis dalam bentuk buku.
Sastra Indonesia Masa Kebangkitan (1920-1942),
perkembangan bahasa dan sastra Indonesia mulai berkembang sejalan dengan gerak bangsa
yang memilikinya. Pembentukan sastra Indonesia mulai tampak dengan berdirinya
gerakan nasional yang dipimpin oleh Budi Utomo (1908). Dari sini timbulah
sastra baru yang dipancarkan oleh masyarakat baru pula. Hasil karyanya lebih
banyak sehingga lebih memungkinkan setiap orang dapat menikmati karya
pengarangnya. Kebangkitan ini (1920-1942) dikelompokkan menjadi periode 1920
atau masa Balai Pustaka. Angkatan ini merupakan karya sastra di Indonesia yang
terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Periode
1993 (Pujangga Baru), angkatan ini muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor
yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa
tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan
kesadaran kebangsaan.
Sastra Indonesia Angkatan 1945, angkatan ini muncul
karena pengalaman hidup dan gejolak sosial-poliotik-budaya telah mewarnai karya
sastrawan angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding
karya angkatan pujangga baru yang romantik-idealistik.
Selanjutnya pembahasan kedua yang membantu pertanyaan di
atas yaitu tentang kritik sastra. Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang
memberikan penilaian terhadap kualitas atau mutu sebuah karya sastra. Usaha
kritik sastra tidak akan berhasil tanpa dilandasi oleh dasar-dasar pengetahuan
tentang teori sastra. Misalnya, jika kita hendak mengadakan telaah/kritik
terhadap sebuah novel, maka kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang
disebut novel, unsur-unsur sejarah sastra pembentuk novel, dsb. Jadi, teori
sastra merupakan sebagian modal bagi pelaksanaan kritik sastra. Sebaliknya,
teori sastra pun memerlukan bahan-bahan dari kritik sastra, bahkan sebenarnya
kritik sastra merupakan pangkal teori sastra. Teori tanpa data merupakan teori
yang kosong. Terori sastra bisa juga berarti objek kritik sastra atau secara
praksis teori sastra sering kali dipahami juga sebagai kritik sastra. Teori
sastra sering diperlakukan sebagai pendekatan, sedangkan kritik sastra tidak
jarang diperlakukan sebagai pendekatan.
Dalam hal ini, kritik sastra dianggap merupakan pendekatan
yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan penelitian
terhadap karya sastra konkret. Demikianlah, dalam banyak perbincangan, baik
teori sastra maupun pendekatan atau penelitian sastra, hampir selalu
ditempatkan dalam pengertian sebagai kritik sastra. Atau di bagian lain, teori
sastra dikatakan juga sebagai teori kritik sastra. Jadi, pembicaraan mengenai strukturalisme atau semiotik,
misalnya, dianggap sebagai bagian dari pembicaraan teori kritik sastra.
Pembahasan ketiga mengenai sastra
nasional, sebelum membahas apakah ada sastra nasional? Pertama-tama saya akan
menuliskan pengertiannya terlebih dahulu. Sastra nasional adalah suatu istilah
yang membicarakan mengenai sastra suatu bangsa atau negara tertentu, misalnya
sastra Indonesia, sastra Arab, sastra Inggris, sastra Cina, sastra Perancis,
dan lain-lain. Tempat seorang sastrawan dalam konteks sastra nasional pada
umumnya tidak ditentukan oleh bahasa karya sastra sang sastrawan, tetapi oleh
kewarganegaraannya. Sastrawan singapura yang menulis dalam bahasa Inggris
adalah sastrawan nasional Singapura, dan sastrawan India yang menulis dalam
bahasa Inggris juga adalah sastrawan nasional sastra India
Dari
penjelasan di atas, dapat saya simpulkan bahwa sejarah sastra Indonesia dapat
disusun, alasannya karena adanya periodisasi. Dalam menyusun sejarah sastra, diperlukan
penjelasan mengenai ciri-ciri sastra, yaitu ciri intrinsik dalam struktur karya
sastra baik mengenai gaya bahasa, gaya cerita, alur, penokohan, dan
sarana-sarana sastra (Pradopo, 2008: 11-12). Dengan mengetahui periodisasi
sastra Indonesia, kita akan dengan mudah mengetahui perkembangan suatu karya
sastra dari masa ke masa. Suatu karya sastra dikatakan berkembang atau tidak
apabila sudah dilakukan proses penelitian terhadap karya sastra tersebut dengan
cara melakukan kritik sastra. Di dalam kritik sastra kita akan menganalisis
sebuah karya sastra dengan berbagai macam pendekatan, gaya bahasa, gaya cerita,
alur, penokohan, dan lain sebagainya. Berbagai macam pendekatan dan gaya bahasa
tersebut dapat kita peroleh dari sebuah teori sastra. Sehingga dasar dalam
proses penyusunan suatu sejarah sastra adalah perlu mengetahui dan memahami
mengenai teori dan kritik sastra. Sedangkan kriteria dalam menyusun sebuah
karya sastra adalah dengan menilai suatu karya sastra dari zaman yang sudah
lalu. Suatu karya sastra yang tumbuh dan lahir di zaman sebelum sekarang.
Selain itu, kriteria lain yang perlu dipenuhi adalah melakukan penjelasan
mengenai ciri-ciri sastra pada setiap periode yang merupakan ciri khusus yang
membedakannya dengan ciri-ciri periode sebelumnya atau sesudahnya.
Kemudian
adakah Sastra Nasional? Jawabannya adalah belum ada.
Sebelum
saya menjelaskan mengapa saya menjawab belum ada, saya akan memjelaskan ciri
kenasionalan negara Indonesia yaitu gotong royong, sopan santun, ramah, adil,
jujur. Pemikiran ini menurut Ki Hajar Dewantara. Dahulu pernah ada karya sastra
yang berjudul Bumi Manusia karya Pramodiya A.T pada sekitar tahun 1980-1982
pernah ingin diangkat menjadi sastra nasional tetapi tidak jadi karena ada
pribadi yang mempunyai kepentingan.
Jadi, menurut saya sastra nasional belulum ada yang memenuhi ciri kenasionalan
negara Indonesia sehingga belum ada sastra nasional.
Langganan:
Komentar (Atom)